Connect with us

Politik

Kehadiran Jokowi Melegitimasi FPI Sebagai Ormas yang Bicara NKRI

Published

on

Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Aksi Super Damai 212/Foto Istimewa (@setkabgoid)
Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Aksi Super Damai 212/Foto Istimewa (@setkabgoid)

NUSANTARANEWS.CO – Aksi Super Damai 2 Desember 2016 sudah selesai berlangsung dengan benar-benar tertib dan damai di Silang Monas, Jakarta. Serangkaian acara berzikir, berdoa dan orasi keagaman gegap gempita di bawah mendung hitam Ibu Kota.

Militansi massa aksi yang datang dari berbagai daerah Indonesia, tak muncur meski gerimis bahkan hujan mengguyur. Gema takbir dan sholawat kian menggema menjelang Sholat Jumat berjamaah. Dimana Presiden Joko Widodo dengan payung biru jalan kaki dari Istana Kenegaraan menuju monas untuk menemui massa aksi dan ikut sholat Jumat berjamaah. (Baca: Presiden Jokowi Berterima Kasih dan Meminta Massa Aksi Segera Pulang)

Didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Menkopolhukam Wiranto, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan beberapa pejabat pemerintahan lainnya, Presiden Jokowi membuat suasana menjadi lebih tenang. Kendati gema takbir terus ditimpali dengan gelegar seruan, “tangkap Ahok, tangkap Ahok, tangkap Ahok”.

Kehadiran Presiden Jokowi dalam Aksi Bela Islam III ini menunjukkan bahwa dirinya sosok negarawan yang mau mendengar suara rakyatnya. Walaupun, sebelumnya saat Aksi Bela Islam II, Presiden tidak menemui massa aksi yang ingin menyampaikan tuntutannya. (Baca juga: Kumandangkan Takbir, Ini Pidato Lengkap Jokowi di Depan Massa Aksi 212)

Alhasil, netizen ramai membicarakan bahwa Presiden Jokowi memiliki nyali 212 menemui massa aksi 212. Bahkan, perihal nyali Presiden Jokowi ini pun tak luput dari perhatian netizen. Maka muncullah ungkapan dari netizen bahwa, “Presiden Jokowi bernyali dan ada yang bernyanyi”.

Betapa pentingnya “Nyali” Presiden Jokowi itu, sehingga melahirkan penilaian, anggapan dan analisis serius dari berbagai kalangan. Salah satu, analisis menarik ditulis oleh netizin (Facebooker) dengan nama Icol Icol.

Baca Juga:  Soal Pertahanan Nasional, Jokowi: Mengalir Aja

“Jangan keras-keras pro atau anti demo. Itu sama halnya menyiram minyak di percikan api. Dan hujan turun. Simsalabim: Hari ini di Monas, orang-orang jadi NU semua, acaranya Maulid Akbar, sholat jumah-nya dengab adzan 2 kali dan qunut nazilah. Presiden, Wapres, Menteri-Menteri datang bersama umat. Udah kayak acara resmi kenegaraan,” tulisnya, Jumat (2/12) pukul 14.43, tepat sesaat ketika massa aksi super damai 212 membubarkan diri dari silang Monas.

Lebih lanjut, Icol menulis, yang mau demo kecele, yang anti demo kecele juga, yang bener adalah mereka yang mau hormat pada Rasulullah. Namun yang menarik dari penilaian Icol adalah pernyataan bahwa, fenomena yang menarik diamati adalah FPI (Front Pembela Islam, red) sebagai impresario acara ini (Aksi 212) telah menjadi ormas Islam dengan representasi dan legitimasi negara, yang bicara NKRI dan konstitusi.

“Jika dimodernisasi sedikit saja baik kultural maupun struktural, FPI bisa bertransformasi menjadi ormas yang selaras dengan demokrasi serta sisi urban dan kosmopolitan Jakarta. Dengan jumlah pengikut signifikan dan pengorganisasian yang baik seperti mereka tunjukkan di demo ini, FPI akan menjadi kekuatan sosial yang kian diperhitungkan,” tulisnya mengakhiri. (Sule)

Loading...

Terpopuler