Connect with us

Hankam

Keberadaan AFRIMS Sebagai NAMRU-2 Gaya Baru?

Published

on

namru-2, operasi intelijen, laboratorium penelitian, namru-2 as, siti fadilah supari, nusantaranews

Naval Medical Research Unit-2 atau yang lebih dikenal sebagai NAMRU-2 Amerika Serikat. (GFI)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Naval Medical Research Unit-2 atau yang lebih dikenal sebagai NAMRU-2 Amerika Serikat yang keberadaannya secara misterius di Indonesia sejak Januari 1974, memang sudah ditutup pada Oktober 2009 oleh Menteri Kesehatan kala itu, Siti Fadilah Supari.

Laboratorium yang resminya merupakan laboratorium penelitian penyakit-penyakit menular, pada kenyataanya dijadikan kedok operasi intelijen Angkatan Laut AS di Indonesia. Sehingga membahayakan kedaulatan nasional Republik Indonesia.

Namun bernarkah NAMRU-2 AS yang sudah dihentikan aktivitasnya oleh Menteri Kesehatan jelang detik-detik masa jabatannya pada Oktober 2009 sudah benar-benar tidak beroperasi di Indonesia? Bagaimana dengan sinyalemen bahwa AFRIMS merupakan NAMRU-2 AS gaya baru?

Global Future Institute (GFI) merasa perlu meminta pemerintah Indonesia, khususnya para pemangku kepentingan politik-keamanan, politik luar negeri, otoritas intelijen maupun Kementerian Kesehatan, untuk mewaspadai keberadaan dan kiprah dari Pusat Riset Biomedis terbesar ketiga bagi militer AS atau lebih dikenal dengan sebutan AFRIMS, sebagai NAMRU gaya baru.

Baca juga: Serangan Gelap 400 Fasilitas Riset Biokimia AS di Berbagai Belahan Dunia

Menurut pengamatan GFI, AFRIMS sudah menyebar ke beberapa negara di Asia Tenggara seperti Laos, Vietnam, Singapura dan Filipina.

“Kami dari GFI mencermati dengan seksama keberadaan AFRIMS, The Armed Forces Research Institute of Medical Services yang ditengarai sebenarnya merupakan proyek yang sama persis dengan NAMRU-2,” jelas Direktur Eksekutif GFI, Hendrajit, Senin (27/8).

Untuk diketahui terbukti pengetahuan tentang penyakit menular seperti TBC dan demam berdarah yang dimiliki para dokter Indonesia malah justru mandek dan tidak ada perkembangan kemajuan dari adanya NAMRU-2.

“Hal ini memperkuat kecurigaan bahwa AS telah melanggar kedaulatan wilayah RI karena telah menggunakan fasilitas yang diberikan Departemen Kesehatan untuk tujuan-tujuan terselubung,” papar Hendrajit.

Temuan (GFI) pada 2007 mengungkap adanya indikasi keterlibatan operasi intelijen Angkatan Laut Amerika untuk pengembangan senjata biologis dengan berkedok sebagai penelitian mengenai penyakit menular,” lanjutnya.

Rencananya GFI akan mengadakan diskusi hal tersebut di Wisma Daria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (30/8) dengan mengundang Kementerian Luar Negeri, Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), mantan Danjen Marinir Mayjen (purn) Suharto, CSIS dan lainnya.

Hendrajit menilai hal ini perlu dilakukan untuk mewaspadai kembali adanya NAMRU-2 yang diduga berdalih sebagai AFRIMS. (anm/eda)

Editor: Eriec Dieda

Advertisement

Terpopuler