Connect with us

Kesehatan

Kaum Perempuan Harus Pandai-pandai Menjaga Kebersihan Organ Reproduksi

Published

on

organ reproduksi wanita, vagina, kebersihan vagina, vagina kotor, keputihan, cairan putih wanita, bram pradipta, cairan vagina, vaginal douching, organ kewanitaan, pantyliner, nusantaranews

Dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dr Bram Pradipta. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Keluhan umum di daerah organ reproduksi wanita yang sering terjadi ialah rasa gatal, nyeri saat buang air kecil, bau yang tidak sedap, adanya darah saat bersenggama serta adanya cairan putih atau dikenal dengan keputihan yang keluar dari vagina. Menurut dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dr Bram Pradipta, jika terjadi keputihan sebaiknya jangan diabaikan.

“Karena keputihan yang terjadi secara terus menerus akan mengalami perubahan seperti jumlahnya bertambah banyak, konsistensinya berubah, warna berubah lebih keruh, rasa gatal yang semakin sering dan timbul bau yang tidak sedap,” katanya saat menjadi pemateri dalam Healthy Talk Show bertajuk Kebersihan dan Kesehatan Area Kewanitaan yang digelar Sequis dan Softex Daun Sirih, Jakarta, Jumat (3/8).

Dr Pram menjelaskan, cairan vagina diproduksi oleh tuba falopi berisi sel telur dan cairan secret, tanda memasuki masa subur. Namun, yang menjadi permasalahan adalah cairan ini rentan terjangkit virus, kuman, dan bakteri yang berasal dari luar tubuh yang dikenal dengan keputihan. Keputihan terbagi menjadi dua, yaitu keputihan fisiologis dan keputihan patologis.

Pada umumnya keputihan fisiologis terjadi menjelang atau setelah menstruasi dan dapat juga muncul pada masa subur setiap bulan dan tidak dalam jangka waktu lama. Sedangkan keputihan patalogis sering terjadi karena infeksi atau bakteri yang berada di sekitar atau di dalam vagina.

Dia menyarankan agar sebelum terjadi keluhan pada daerah vagina, perempuan sebaiknya membiasakan diri secara regular membiasakan menjaga kebersihan daerah organ intim seperti mengeringkan vagina setelah buang air kecil dengan tisu. Jika menggunakan cairan pembersih vagina maka gunakan yang mengandung bahan alami dan dipergunakan bersama air hangat dan dibasuh pada daerah permukaan luar vagina terutama sebelum tidur.

“Bila menggunakan pantyliner atau pembalut maka perlu menggantinya setelah dua-tiga jam sekali terutama jika sudah basah harus segera diganti. Pilihlah pantyliner dan pembalut yang cocok dengan kulit agar tidak terjadi iritasi, memiliki daya serap yang baik karena jika ada cairan sisa yang ada infeksi menempel pada pantyliner atau pembalut dapat mengenai organ intim kembali. Demikian juga jika akan melakukan senggama sebaiknya membasuh vagina sebelum dan sesudah bersenggama,” paparnya.

Untuk membersihkan area vagina, dr Bram juga menyarankan tidak menggunakan douche. Pasalnya, kata dia, proses melakukan vaginal douching sering disarankan dengan anggapan dapat membersihkan organ kewanitaan.

Douche sendiri berasal dari bahasa Prancis yang berarti to wash, namun praktek ini ternyata tidak memberikan efek yang menguntungkan”, ujar dr Bram.

Berdasarkan informasi dari WebMD, penggunaan douche pada vagina dapat meningkatkan risiko terjadinya bacterial vaginosis dan pelvic inflammatory disease. Hal ini juga disarankan oleh American College Obstetric dan Gynecology (ACOG) yaitu agar tidak melakukan praktik douching karena dikhawatirkan memperparah terjadinya infeksi.

Kemudian, penggunaan pakaian juga ternyata dapat mempengaruhi kesehatan organ intim perempuan misalnya saja jika sering menggunakan celana ketat dan bahan celana yang tidak menyerap keringat akan membuat area selangkang dan area intim menjadi lengket, lembab dan menjadi area yang subur bagi jamur. Dr Bram menyarankan juga agar bagi perempuan yang menyukai kegiatan luar ruang seperti olahraga sebaiknya segera berganti pakaian dalam pasca olah raga.

“Beberapa pusat kebugaran terdapat di pusat perbelanjaan sehingga terkadang setelah berolahraga hanya berganti pakaian dan melanjutkan aktivitas lainnya, padahal hal ini tidak baik jika dibiasakan karena celana olah raga atau pakaian dalam yang basah karena keringat akan mengundang bakteri dan jamur,” jelas dr Bram. (red/aly)

Editor: Ani Mariani & Novi Hildani

Komentar

Advertisement

Terpopuler