Connect with us

Global

Kata Putin: Presiden Poroshenko Sengaja Memprovokasi Insiden Selat Kerch Menjelang Pemilu Ukraina

Published

on

Presiden Ukraina Poroshenco

Presiden Ukraina Poroshenco

NUSANTARANEWS.CO – Presiden Rusia Vladimir Putin secara terang-terangan menuduh Presiden Ukraina Poroshenko memprovokasi insiden angkatan laut untuk menopang popularitasnya yang merosot menjelang pemilu pada bulan Maret 2019. Putin mengatakan bahwa Poroshenko menciptakan situasi darurat guna menghambat para pesaingnya dalam pemilu.

“Insiden Laut Hitam jelas merupakan provokasi yang diselenggarakan oleh pemerintah yang berkuasa, terutama presiden yang berkuasa menjelang pemilu pada Maret mendatang,” tegas Putin.

Memang sejak awal, Poroshenko berusaha keras memberlakukan darurat militer selama dua bulan, sebuah langkah taktis yang dapat membatalkan pemilu presiden yang telah dijadwalkan pada Maret 2019 sesuai dengan aturan pemilihan. Namun Poroshenko mendapat tantangan keras di parlemen, di mana akhirnya darurat militer hanya dapat dilangsungkan selama satu bulan, sehingga memungkinkan pemilu dapat berjalan sesuai jadwal.

Seperti telah diberitakan, pada hari Minggu, kapal perang Rusia menembaki konvoi angkatan laut Ukraina, menabrak tugboat dan kemudian menyita dua kapal perang Ukraina. Konvoi kapal perang Ukraina tersebut bertolak dari pelabuhan Odessa, di Laut Hitam menuju ke pelabuhan Ukraina Mariupol di Laut Azov. Konvoi tersebut mencoba melewati Selat Kerch yang membelah Krimea dan Rusia.

Akibat insiden tersebut, Presiden Ukraina dengan mengenakan seragam tempur langsung menerapkan undang-undang darurat militer di sebagian besar negara pada hari Rabu. Poroshenko juga menuduh Rusia sedang mempersiapkan invasi skala penuh – sebuah langkah yang dikecam oleh Moskow sebagai trik politik yang tidak populer.

Terkait dengan insiden itu, mantan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengecam langkah Kiev, dan mengatakan bahwa Ukraina berusaha menyeret Eropa berperang dengan Rusia. Gabriel menegaskan bahwa, “Ukraina mencoba melakukannya.” Betapa tidak bila Poroshenko mendesak NATO agar mengirim kapal perang ke Laut Hitam untuk menanggapi insiden Selat Kerch, tambah Gabriel.

Provokasi Poroshenko tampaknya gagal. Jerman, Perancis, dan negara-negara Uni Eropa (UE) lainnya menolak dengan tegas seruan Poroshenko untuk menekan Rusia atas insiden Selat Kerch.

Sebaliknya, Amerika Serikat (AS) mendesak negara-negara UE agar bersikap lebih keras terhadap Rusia atas insiden itu. Juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert mengatakan Eropa harus meninjau kembali dukungannya untuk proyek pipa gas Nord Stream 2.

Presiden Trump juga menegaskan dukungannya terhadap Ukraina, dan meminta negara-negara lain untuk berbuat lebih banyak.

Secara geopolitik, letak Ukraina memang sangat strategis di benua Eropa karena berbatasan dengan tujuh negara di jantung Eropa: Belarus, Hongaria, Moldova, Polandia, Rumania, Slovakia dan Rusia.

Bagi Rusia, Ukraina sangat penting karena memiliki perbatasan darat dan laut sepanjang 1500 km. Selain itu, Ukraina juga merupakan negara dengan wilayah terbesar di Eropa setelah Rusia yang kaya akan sumber daya alam.

Tidak mengherankan bila AS demi kepentingannya kemudian melancarkan kudeta di masa pemerintahan Presiden Obama pada bulan Februari 2014 guna menggantikan pemerintahan yang demokratis di Kiev dengan pemerintahan boneka yang fasis. Sehingga menimbukan krisis politik terus menerus di wilayah tersebut yang mengancam stabilitas Eropa. Tujuan AS jelas, yakni untuk membelah dan melemahkan Rusia. Paling tidak memberikan ancaman langsung terhadap keamanan Rusia. (Banyu)

Advertisement

Terpopuler