Connect with us

Mancanegara

Kata Presiden Iran, “Gedung Putih Keterlaluan dan Bodoh”

Published

on

Kata Presiden Iran

Kata Presiden Iran, Gedung Putih keterlaluan dan bodoh. Ilustrasi perang kata-kata AS dan Iran/Foto \: freepresskashmir.com

NUSANTARANEWS.CO – Kata Presiden Iran, Gedung Putih keterlaluan dan bodoh. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memberlakukan sanksi baru terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat-pejabat tinggi lainnya pada hari Senin. Presiden Trump menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran itu, bertanggung jawab penuh atas perilaku bermusuhan Iran.

Trump juga menyatakan bahwa sanksi yang dikeuarkan melalui perintah eksekutif yang ditandatanganinya, akan menutup seluruh akses sumber dan dukungan finansial terhadap pemimpin tertinggi Iran tersebut. Sanksi tersebut juga berlaku untuk mereka yang berafiliasi dekat dengannya serta kantornya.

Di samping itu, para pejabat Gedung Putih juga mengatakan bahwa mereka merencanakan sanksi terhadap Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

Iran langsung bereaksi dan mengatakan bahwa sanksi baru AS yang menargetkan pemimpin tertinggi dan pejabat tinggi lainnya berarti “menutup pintu diplomasi” antara Teheran dan Washington.

Presiden Iran, Hassan Rouhani yang jengkel dengan sanksi baru AS terhadap Ayatullah Ali Khamenei menyebut Gedung Putih “keterlaluan dan bodoh”.

Loading...

Dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi negara Iran pada hari Selasa, Rouhani mengatakan bahwa sanksi terhadap Khamenei akan gagal karena tidak memiliki aset di luar negeri.

“Gedung Putih menderita keterbelakangan mental dan tidak tahu harus berbuat apa,” tambahnya dalam bahasa Farsi, dan menggunakan istilah yang sama dalam bahasa Inggris.

Sanksi baru terhadap pemimpin dan pejabat tinggi Iran tersebut terjadi setelah pada 20 Juni sebuah pesawat pengintai AS seharga lebih dari US$ 100 juta, di tembak jatuh di atas Selat Hormuz, yang langsung menaikkan tensi krisis kedua negara.

Baca Juga:  Wiranto-SBY Bertemu, Ada Apa?

Trump kemudian mengaku menunda serangan militer skala penuh terhadap Iran, tapi lalu melanjutkan tekanannya terhadap Iran.

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Majid Takht Ravanchi, pada hari Senin memperingatkan bahwa situasi di Teluk Persia “sangat berbahaya” dan menambahkan bahwa tidak mungkin melakukan pembicaraan apa pun dengan AS saat ini yang terus melakukan intimidasi.

Utusan AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jonathan Cohen, membalas dengan mengatakan bahwa tujuan pemerintahan Trump adalah untuk membuat Teheran kembali ke meja perundingan.

Para anggota Dewan Keamanan PBB telah setuju untuk menyerukan AS dan Iran agar mengadakan pembicaraan guna meredakan ketegangan melalui jalur diplomasi.

Dewan Keamanan PBB kemudian mengadakan rapat darurat tertutup di New York pada hari Senin (24/06), atas usulan dari AS. Iran yang bukan anggota dari Dewan Keamanan PBB, tidak ikut serta.

Pertemuan tertutup itu membahas mengenai serangan terhadap kapal tanker baru-baru ini dekat Selat Hormuz dan penembakan wahana tak berawak pengintai militer AS oleh Iran pada pekan lalu.

Duta Besar Kuwait bagi PBB, Mansour Al-Otaibi yang memimpin pertemuan tersebut, kemudian membacakan pernyataan tidak resmi yang menyerukan diadakannya dialog. Dikatakannya, anggota Dewan Keamanan sepakat mendesak pihak-pihak yang terkait untuk menahan diri serta mengambil langkah dan tindakan guna mengakhiri ketegangan.

Duta Besar AS Jonathan Cohen menegaskan kembali klaim negaranya bahwa Korps Garda Revolusi Iran menembak jatuh wahana tak berawak tersebut di wilayah udara international. Cohen menyampaikan kepada para wartawan bahwa Iran harus memahami, serangan-serangan tersebut tidak dapat diterima.

Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht Ravanchi, membalas klaim AS dalam sebuah keterangan pers mengatakan: “Tidak ada keraguan bahwa wahana tak berawak milik AS tengah terbang di atas wilayah perairan Iran saat itu ditembak jatuh.” (Banyu)

Baca Juga:  CISS Perkirakan 02 Menang Mencapai 58,28 Persen
Loading...

Terpopuler