Connect with us

Politik

Kata Fadli Lembaga Survei Indonesia Harus Berbenah Biar Tak Jadi Predator Demokrasi

Published

on

Lembaga Survei Nasional Dinilai Ramai-ramai Seret Jokowi Bernasib Seperti Ahok

Ilustrasi survei. (Foto: Net/Ist)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Fadli Zon tidak menghendaki lembaga-lembaga survei di indonesia menjadi predator demokrasi lantara kerjanya memanipulasi opini pubnlik demi kepentingan sang klien. Selain itu, ia menekankan supaya keberlangsungan demokrasi di Indonesia harus semakin transparan.

“Demokrasi kita harus kian transparan. Jangan sampai lembaga survei jadi predator demokrasi karena memanipulasi opini publik demi kepentingan klien mereka,” harap Fadli melalui akun twitternya @fadlizon, Jumat (22/3/3019).

Wakil Ketua DPR RI itu tidak memungkiri bahra, dalam sejarahnya, lembaga survei di Indonesia memang berimpit dengan tumbuhnya lembaga-lembaga konsoltan-konsultan politik.

“Itu sebabnya, survei politik yang dipublikasikan di Indonesia tidak bisa dijadikan alat untuk memetakan pendapat publik, karena sebenarnya survei tersebut digunakan untuk menggiring opini publik, dijadikan sebagai alat framing, alat kampanye atau alat propaganda,” katanya.

Fadli menegaskan, dalam dunia politik Indonesia, survei lebih merupakan infrastruktur imagologi, atau pencitraan. Itu sebanya akurasinya pantas dipertanyakan.

“Ke depan, untuk kepentingan regulasi Pemilu dan Pilpres, kita perlu menegaskan norma bahwa ketika lembaga survei direkrut menjadi konsultan oleh partai politik atau kandidat yang berlaga dalam Pemilu, maka mereka harus diposisikan sama seperti halnya tim kampanye,” usul Fadli.

Jadi, kata dia, partai politik dan kandidat harus mendaftarkan nama konsultan atau lembaga survei yang mereka pekerjakan.

Loading...

“Kita perlu merumuskan kebijakan semacam itu demi transparansi, sekaligus untuk melindungi hak-hak publik. Agar publik kemudian tahu lembaga survei A, misalnya, ternyata merupakan konsultannya partai X atau calon Y,” cetusnya.

Sehingga, kata dia, setiap hasil survei mereka bisa dicerna secara kritis oleh publik pemilih. Dengan begitu, risiko terjadinya manipulasi hasil surveipun bisa terminimalisir.

“Ini merupakan cara yang fair untuk mengawasi lembaga-lembaga survei, sekaligus melindungi kepentingan publik dari manipulasi informasi, serta disinformasi yang dilakukan oleh mafia survei,” tegas Fadli.

Untuk itulah, Fadli sangat menekankan agar lembaga-lembaga survei di Indonesia di tahun-tahun mendatang tidak menjadi predator demokrasi. (tim/nn)

Editor: Achmad S.

Terpopuler