Ustad Abdul Somad (Foto Istimewa)
Ustadz Abdul Somad (Foto Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Persekusi sekolompok orang di Bali terhadap Ustad Abdul Somad (8/12/2017) sangat disayangkan. Situasi ini kian menguatkan asumsi publik terkait fenomena gejala ‘alergi’ Islam.

Sejak disahkannya Perppu Ormas, disadari atau tidak, istilah ‘Islam’ atau ‘Agama’ mendadak menjadi mengerikan, angker dan layak dijauhi. Memang demikianlah yang dirasakan situasinya. Sehingga wajar jika cendekiawan muslim, Haedar Nashir mengaku turut gelisah.

Haedar menyebut, saat ini, agama dan umat beragama seolah jadi terdakwa. Agama dianggap sumber benih konflik yang membelah warga bangsa. Hingga di negeri ini mulai tumbuh pandangan kuat, janganlah membawa-bawa agama di ruang publik. Simpanlah agama di ranah domestik.

Sementara ranah politik, etnik, kedaerahan, dan segala atribut lain ketika bermasalah dianggap biasa dan bukan sumber kegaduhan. Padahal, karena soal politik rakyat terbelah, gedung dibakar, konflik mengeras, dan kehidupan gaduh. Situasi ini bukan muncul tiba-tiba tetapi sengaja diciptakan.

Dalam kasus penolakan Ustad Somad di Bali ada hal menarik dari para warganet. Dimana ramai di media sosial menuding gerombolan orang yang menolak Ustad Somad sebagai kelompok ‘cebong’. Entahlah! Mereka melegalkan aksi persekusinya dengan mendakwa sang Ustad sebagai ustad anti NKRI, anti Pancasila, anti kebhinekaan dan intoleran.

Pertanyaannya, apakah benar Ustad Somad seorang ustad yang anti NKRI, anti kebhinnekaan, intoleran? Sehingga ada segelintir orang Bali yang menolak kedatangannya dengan alasan konyol, lantaran Ustad Somad kerap menyebut orang di luar Islam sebagai orang kafir?

Lah, memang demikian terminologinya dalam Islam. Ironisnya, kelompok ini justru melakukan intimidasi pada agama lain untuk tak menyebut istilah ‘kafir’ terhadap orang non muslim? Jika demikian, siapa yang intoleran sebenarnya?

Alasan konyol lainnya yang dipakai kelompok intoleran Bali ini dalam menolak Ustad Somad adalah dengan menudingnya mengusung ideologi Khilafah. Tudingan mereka ini jelas lucu. Dengan kata lain, kelompok ini tak pernah melihat video ceramah Ustad Somad di YouTube atau tak pernah mengikuti kajiannya.

Parahnya lagi mereka mendesak agar Ustad Somad mau disumpah di bawah Alquran untuk setia pada Pancasila, NKRI, mencium bendera Merah Putih dan tidak menyebut kata-kata kafir dalam ceramahnya. Terang saja langsung ditolak mentah-mentah oleh Ustad Somad. Jika itu dilakukan, sama saja Ustad Somad membenarkan tuduhan tak mendasar dari kelompok intoleran itu terhadap dirinya.

Riko Putra (2017) dalam tulisannya menjelaskan, jika tuduhan kelompok orang di Bali benar bahwa Ustad Somad adalah anti khebinnekaan, anti Pancasila mengapa TNI sebagai garda terdepan penjaga Pancasila justru membackup Ustad Somad dan mengundangnya untuk mengisi pengajian di Masjid Agung Sudirman, di Komplek Kodam IX Udayana, Bali?

Apakah TNI sudah anti NKRI, anti kebhinnekaan sehingga mendatangkan ustad intoleran dan pengusung Khilafah? Atau para pendemo di Hotel Aston Denpasar Bali tersebut yang tak paham arti kebhinnekaan? Sehingga menolak Ustad jebolan Daarul Hadits Maroko tersebut, dengan alasan lucu dan tak masuk akal? Atau mereka dibayar oleh kelompok atau ormas tertentu sehingga akal sehat mereka hilang?

Para perusak persatuan, kaum intoleran yang sesungguhya adalah mereka yang demo di depan Hotel Aston Denpasar. Jika Ustad Somad adalah anti NKRI, anti Pancasila, tentu TNI-lah yang pertama sekali yang akan menolak kedatangan Ustad Somad di Bali. Jadi kesimpulannya adalah ada udang di balik bakwan, ada rupiah di balik demo.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi menegaskan apapun alasannya, tindakan sekelompok intoleran tersebut adalah tindakan yang melanggar hak asasi dan merupakan bentuk persekusi yang dilarang undang-undang. (*)

Editor: Romandhon

Komentar