Connect with us

Berita Utama

Kasus Kecelakaan Lion Air, Gagal Mesin Patut Jadi Perhatian Utama

Published

on

lion air, maskapai lion air, pesawat lion air, tanjung karawang, boeing 737 max 8, nusantaranews, nusantara, nusantara news

Boeing 737 MAX 8. (Foto: Facebook Lion Air Group)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Penyebab kecelakaan Lion Air JT 610 di perairan Karawang masih misteri. Namun, Kotak Hitam (Black Box) kini sudah berada di tangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Dengan kata lain, jawaban penyebab kecelakaan pesawat yang diperkirakan jatuh dari ketinggian sekitar 3.000 kaki itu akan diungkap KNKT.

Baca juga: Insiden Kecelakaan JT610, IFALPA Dorong Peningkatan Kualitas Keselamatan Penerbangan

Penumpang dan kru Lion Air JT 610 total berjumlah 189 orang. Tak ada satu pun yang selamat dari tragedi nahas pesawat berlambang Singa Merah itu. Dan sekaligus menjadi catatan kelam dunia penerbangan nasional sejak jatuhnya pesawat Air Asia di penghujung 2014 silam.

Menurut pengamat penerbangan Arista Atmadjati, umumnya ada empat faktor penyebab kecelakaan penerbangan. Ia menekankan, masalah engine failure (kegagalan mesin) patut menjadi perhatian utama.

“Pilot B 737 pasti senior, tinggal engine failure kita pelototin,” ujarnya kepada NUSANTARANEWS.CO pekan lalu.

Baca juga: Mempertahankan Dua Maskapai Nasional Flag Carrier Ideal

Pesawat Lion Air JT 610 adalah pesawat tipe Boeing 737 MAX 8. Pesawat ini terbilang baru dioperasikan oleh Lion Air. Maka, pihak Boeing tentu berkepentingan ikut turun tangan menginvestigasi produknya tersebut yang jatuh di perairan Karawang. Dan diketahui, KNKT melibatkan Boeing dan NTSC US. Termasuk juga tim dari Singapura dan Australia.

“Standar oke, varian baru dari Boeing 737 era baru sih, karena lebih efisien bahan bakar,” ujar Arista.

Baca juga: Melalui Aviasi Internasional, Emisi Penerbangan Diharapkan Berkurang 50 Persen

Dia mengungkapkan, setidaknya ada empat faktor utama yang menjadi penyebab kecelakaan pesawat. Pertama, human error pilot.

Kedua, cuaca buruk. Ketiga, gagal mesin (engine failure). Keempat, sabotase (hijacking bombing).

Dan sekali lagi perlu ditegaskan, masalah gagal mesin patut menjadi perhatian utama.

(red/eda)

Editor: Almeiji Santoso

Advertisement

Terpopuler