Connect with us

Budaya / Seni

Kasidah Cinta dan Syi’iran Sunan Bonang – Puisi Abdul Wachid B.S.

Published

on

Sunan Bonang sedang bertuah/Foto patung : Dok. bas-studio.net

Sunan Bonang sedang bertuah/Foto patung : Dok. bas-studio.net

SEKALI  PANDANG

gadis yang
dulu di senja berjumpa
menunggu giliran berwudlu
di sebuah surau kecil itu

pandang mata beradu
udara gagu
detak jantung hampir membeku
dua alis mata bertemu

sekali pandang itu
kau aku tidak kembali ke rumah ibu
tersebab betapa tergodanya kita
pada indahnya bianglala

yogyakarta, 22 desember 2015

SYI’IRAN SUNAN BONANG

bunyi bonang di masa kecil itu
ditabuh kembali oleh hati yang
sembahyang di sebuah surau sentana
di sini tidak ada cagak yang menegak
namun hidup selalu tegak

ketika kanjeng sunan terjatuh
tersebab tangannya, tercerabut rumput
menangislah penuh sesal
bahwa ketentuan hanyalah hak milik hyang
maha tuan

ketika tongkatnya menunjuk pohon siwalan
sebuah tongkat azimat keramat
tak pernah lepas tangan, kemana hati berkiblat
bernafas makrifatullah hingga tamat

sebuah tongkat lebih berharga dari pohon emas
tangan kebaikan, tongkat saling berpegang cinta berbalas
tongkat kebaikan, tangan saling menyambung cinta tak terwatas

sebuah tongkat yang menuntun istiqamah
lebih mulia dari seribu nasab yang karamah

bunyi bonang di masa kecil itu
ditabuh kembali oleh jama’ah hati yang
berdendang di ribuan surau
menjadi penenang jiwa yang galau

“Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo iso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani”

kutorejo, tuban, kamis, 21 januari 2016

KASIDAH CINTA
(Pak Muh, Sekarjalak, Pati)

setundun pisang di tangan kekasih
tidak ada hati yang
tersisih lantaran cinta selalu gigih
tanpa katakata yang berbuih

Baca Juga:  Sebulir Dingin Mata Yang Padam - Puisi Abdul Bari

apakah manusia layak kera
punya suka tetapi tanpa cinta?
sesisir demi sesisir pisang itu lantas
dibagi tamu demi tamu dengan pantas

setiap cinta memberi atau menerima
senada dengan irama jiwa
tangan kekasih yang
menggubah lagu ataukah gagu layak kera

tetapi tetamu ini dalam ingatan
betapa bahwa diri sebagai khayawan
betapa bahwa manusia melebihi malaikat
bila senyuman kebaikan melukis wajah terlihat

sesisir demi sesisir pisang itu lantas
dijamu tamu demi tamu dengan pantas
giliran aku termangu tersebab pisang tinggal satu
itu pun telah bosok sisa dipatuk burung hantu

“barangkali inilah cintaku yang
bosok lantaran keakuanku yang sok
sok perhatian kepadamu sok tunduk kepadamu
sok runduk kepadamu sok hilang

aku di dalammu”
majelis malam pulang kembali kepada fajar
salam bersalaman sebelum bubar
kekasihku membisik di telinga hatiku bergetar

“ia yang harapharap cemas
cintanya sebosok pisang tetapi bukan busuk, sayang
cinta yang jodoh itu justru telah matang
langsung dari pohonnya”

yogyakarta, 29 januari 2016

Simak:
Mencari Puisi di Tahun Baru
Sumpah Buruh, Aku Air Mata
Riwayat Yaman Wulung dan Kecubung Wulung
Sekuntum Senyum dan Rindu yang Meluapluap

 

Abdul Wachid B.S.

Abdul Wachid B.S.

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Achid alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, dan sekarang sedang studi Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.

Buku-buku karya Achid : (1) Buku puisi, Rumah Cahaya (1995). (2) Buku esai, Sastra Melawan Slogan (2000). (3) Buku kajian sastra, Religiositas Alam : dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (2002). (4) Buku puisi, Ijinkan Aku Mencintaimu (2002). (5) Buku puisi, Tunjammu Kekasih (2003). (6) Buku puisi, Beribu Rindu Kekasihku (2004). (7) Buku kajian sastra, Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (2005). (8) Buku esai, Sastra Pencerahan (2005). (9) Buku kajian sastra dan tasawuf, Gandrung Cinta (2008). (10) Buku kajian sastra, Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (2009). (11) Buku puisi, Yang (2011). (12) Buku puisi, Kepayang (2012). (13) Buku puisi, Hyang (2014).

Baca Juga:  Puisi Denny JA - Remaja itu Tanya Soal PKI

Website: www.wachid.8m.com; E-mail: abdulwachidbs@yahoo.com dan abdulwachidbs@gmail.com; Twitter @abdulwachidbs; Facebook: www.facebook.com/abdulwachidbs

Loading...

Terpopuler