Connect with us

Opini

Kalasuba: Lockdown & Vastraharan Drupadi

Published

on

Kalasuba: Lockdown & Vastraharan Drupadi

Kalasuba: Lockdown & Vastraharan Drupadi/Ilustrasi Istimewa

Kalasuba: Lockdown & Vastraharan Drupadi

Oleh: Sidrotun Naim Ph.d.

 

Vastraharan

Punya suami lima Pandawa, harusnya hidup Drupadi serba enak. Lho, punya lima suami? Ya, begitulah versi asli Mahabharata, di versi wayang Jawa diperhalus bahwa dia hanya istri dari Yudistira, Pandawa tertua. Kurawa yang dipimpin Duryudana selalu ingin menjadi pewaris sah Hastinapura. Maka Hastinapura dibagi menjadi dua. Pandawa yang harus keluar, dengan wilayah baru di Indraprasta. Rupanya Indraprasta dalam sekejap menjadi negeri yang makmur, setelah sebelumnya berupa hutan menakutkan. Kurawa diundang mewakili Hasitinapura saat penobatan Yudistira sebagai raja. Timbullah rasa iri akan kemegahan Indraprasta.

Disusunlah rencana untuk mengundang Pandawa ke Hastinapura, dan akan diajak bermain dadu. Yudistira kalah berturut-turut. Pertama dia gadaikan wilayahnya, kemudian dirinya dan adik-adiknya, dan terakhir istri mereka. Status mereka jatuh dari ksatria menjadi budak, dan budak harus memenuhi keinginan tuannya.

Sampailah ketika Duryudana memerintahkan adiknya (Dursasana) agar menelanjangi Drupadi di hadapan semua yang hadir. Marahlah Drupadi, karena dia berdalih bahwa sebagai istri, dia merdeka. Istri bukan barang kepunyaan suami, sehingga Yudistira tidak berhak menjadikannya sebagai taruhan. Semua yang berada di istana, terdiam. Termasuk tiga orang bijak: Bhisma, Drona, dan Widura. Drupadi meminta kelima suaminya untuk mengangkat senjata, melawan penghinaan yang tidak dapat diterima. Pandawa hanya menunduk.

Dengan segala kemarahan dan keberanian, Drupadi melawan Duryudana dengan caranya sendiri. Dia berdoa kepada Gowinda Krisna, titisan Dewa Wisnu, memohon perlindungannya. Ketika pakaian sari yang dikenakannya mulai dilucuti Dursasana, Krisna turun dengan selalu menambah kain sari sampai akhirnya Dursasana kelelahan sendiri. Semua yang hadir tahu ada kekuatan Dewa, dan akhirnya dihentikan.

Orang yang dizalimi, maka ucapannya menjadi mantra tangguh. Sebelum Drupadi bermaksud mengeluarkan kutukan untuk Hastinapura dan orang-orang yang hadir, maka Raja Destrarata melakukan penawaran bahwa rasa sakitnya karena dipermalukan hari itu, dapat berkurang dengan permintaan. Sesuai dengan permintaan Drupadi, maka Pandawa boleh mendapatkan kerajaannya kembali setelah pengasingan selama 12 tahun, dan di tahun ke 13 akan menyamar. Jika ketahuan, harus mengulang siklus pengasingan. Drupadi menyertai dalam pengasingan ini. Di pengasingan, penderitaannya tidak berakhir. Pernah diculik oleh Jayadrata, dan hampir dilecehkan oleh Kichak di tahun ke 13.

Baca Juga:  BIN Bantah Edarkan Surat Siaga 1 Tanggapi Reuni 212

Peristiwa pelecehan kepada Drupadi di istana Hastinapura, dikenal sebagai Vastraharan, bahasa Sanskerta yang berarti melucuti pakaian. Kepada Pandawa, dia berucap: “Melindungiku sudah di luar batas kemampuan kalian (padahal kalian ini yang harusnya lebih berani dari aku, maka biarlah aku menghadapi takdirku dengan caraku sendiri)”.

Kalasuba

Sudah seminggu ini, pemerintah mengumumkan PPKM atau apapun namanya untuk memperlambat laju penularan covid. Pengumuman yang lebih seperti himbauan. Tidak mengikat, kurang ketegasan. Tentu bukan berarti pemerintah bingung atau lalai akan tugasnya. Karena memang tidak mudah. Sebagaimana Pandawa yang geregetan ingin membalas Duryudana. Kebingungan Pandawa itu kelak harus dibayar mahal lewat perang Baratayuda dengan korban nyawa rakyat kecil. Drupadi kehilangan ayahnya, kakaknya, dan lima putranya. Kalau saja Kurawa dihentikan saat Vastraharan, maka Baratayuda tidak perlu terjadi.

Jika hari ini semua komponen melakukan pembatasan pergerakan secara drastis, konsekuensi yang lebih mengerikan tidak perlu kita hadapi ke depan. Perang kecil, hal sulit perlu dilakukan untuk menghindari perang yang lebih besar dan lebih susah dikendalikan.

Inilah saatnya, sebagaimana Drupadi, rakyat Indonesia, khususnya di Jawa, lebih khusus lagi di Jakarta, menghadapi takdir tanpa harus menunggu pemerintah mengumumkan lockdown, atau apapun namanya. Karena PSBB dan PPKM sudah kehilangan makna. Rakyat dibuat bingung, apakah ini serius atau bagaimana, dan berapa lama.

Masa-masa yang sulit, dalam filosofi Jawa setidaknya ada dua: kalabendu dan kalatidha. Anda googling sendiri saja kalau tidak tahu apa maknanya. Masa-masa sulit juga meniscayakan masa depan yang lebih baik, yaitu kalasuba, ketika keadilan, kemakmuran akan tiba setelah masa sulit.

Kalau Anda punya perusahaan, punya karyawan, tidak perlu menunggu pemerintah mengumumkan lockdown. Ambillah keputusan sendiri. Karena jika kantor Anda masih juga beroperasi, maka KRL tetap mengangkut karyawan Anda, dan risiko mereka untuk terpapar menjadi lebih tinggi.

Karena itulah kepemimpinan tidak diberikan kepada setiap orang karena tidak setiap orang punya keberanian untuk mengambil keputusan sulit. Di masa sulit, harus diambil keputusan yang pahit, demi masa depan yang lebih baik. Supaya dari kalabendu dan kalatidha, bergeser ke kalasuba. Di tangan Anda, kesehatan, bahkan nyawa karyawan Anda dan keluarga mereka, dipertaruhkan. Begitu juga nyawa tenaga kesehatan Indonesia yang sudah mati-matian bertempur di garis depan. Bahkan juga kesehatan dan nyawa Anda sendiri pun juga dipertaruhkan.

Baca Juga:  Sebuah Ironi di Hari Tani

Ada kalanya kita harus menunggu Presiden mengumumkan PSBB seperti Maret tahun kemarin. Ada kalanya kita harus mengambil keputusan sendiri. Di masa sulit, bukan saatnya saling lempar tanggung-jawab atau menyalahkan. Di masa yang pahit, saatnya mengambil space intervensi yang dapat dilakukan di level masing-masing.

Berapa lama masa berat ini harus dihadapi? Yang jelas, lebih berat dari periode awal pandemi di Indonesia, saat Presiden mengumumkan PSBB dan rakyat lumayan patuh. Keadaan saat itu tidak seberat sekarang, bahkan tidak seberat Desember – Februari. Jika saat itu saja PSBB, maka saat ini menjadi lebih wajib lagi. Bekerja dari Rumah, Beribadah dari Rumah. Sekolah sedang libur. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di jalan.

Saatnya gerakan ini dimulai dari kita sendiri, rakyat Indonesia yang sama-sama mencintai negeri ini. Solidaritas sosial ditingkatkan. Kenalilah di sekitar kita yang perlu ditopang. Jika ingin lebih sistematik, diatur di tingkat RT atau RW. Tidak boleh ada tetangga sampai kelaparan. Bangsa ini sudah pernah menghadapi masa sulit berkali-kali, dan kita lulus ujian dengan gotong-royong.

Membiarkan ‘begini-begini saja’, ‘suka-suka masing-masing institusi’, bukanlah hal yang tepat untuk saat ini. Tidak perlu menunggu Presiden mengumumkan. Jika tidak dilakukan pembatasan pergerakan secara drastis, maka minus akan berlipat-lipat, dan entah berapa nyawa yang harusnya terselamatkan, satu per satu harus berpulang.

Bersakit-sakit di masa kalabendu dan kalatidha, demi menyambut kalasuba. Jika pembatasan pergerakan yang drastis tidak dilakukan, maka masa kalabendu dan kalatidha akan berlangsung lebih lama. Ini bukan tentang lockdown, tapi mengupayakan #kalasuba

Menjaga Jiwa

Bagi Anda yang tidak menikmati narasi Mahabharata dan filosofi Jawa, tetapi lebih menyukai narasi relijies, di dalam hukum Islam, ada yang namanya Maqashid al-Syariah. Tujuan hukum Islam mengharuskan penjagaan terhadap lima kebutuhan yang sangat esensial/ pokok bagi manusia (dharuriyat al-khams), yaitu penjagaan jiwa, akal, agama, keturunan, dan harta. Karena menjaga jiwa itu sangat penting, maka hal lain bisa disesuaikan. Misal tidak salat berjamaah di masjid terlebih dahulu ketika ada risiko terhadap jiwa/ nyawa. Karena menjaga akal itu penting, adalah bertentangan dengan akal sehat, ketika Anda memimpin sebuah perusahaan, dan Anda biarkan karyawan Anda berisiko terinfeksi covid. Karena saat ini beda dengan periode yang relatif lebih baik pada bulan Maret-April 2021. Bertentangan dengan akal, ketika tiap hari mendengar sirine, tidak pagi siang dan malam, kemudian sirine tersebut hanya dianggap sebagai lagu pengantar tidur. Angka yang setiap hari muncul tentang kasus, bukan sekedar angka. Ada nyawa di situ.

Baca Juga:  Pengembangan SDM Dalam Pengelolaan Pariwisata Magetan Jadi Perhatian DPR RI

Masa sulit juga mengingatkan kita tentang hakikat kemanusiaan. Beberapa hari yang lalu, saya cerita ke seorang kenalan, yang terhubung lewat grup WA, belum pernah bertemu langsung. Saya cerita bahwa beberapa orang yang saya kenal dekat, terinfeksi covid beberapa minggu yang lalu. Isolasi mandiri di rumah, dan ketika tidak bergejala, Puskesmas yang memantau menyimpulkan sudah dapat dilakukan pengakhiran isolasi. Teman saya menyarankan, sebaiknya tetap dilakukan PCR untuk memastikan negatif, dan bahkan foto rontgen untuk melihat kondisi paru-paru. Bahkan dia tawarkan support secara finansial kalau kendala untuk melakukan hal tsb adalah soal uang. Sangat perhatian. Bukankah ini hal yang indah, yang lahir di masa sulit? Tidak pernah bertemu fisik, sudah melahirkan solidaritas?

Menjaga jiwa masing-masing, ketika melindungi diri kita sudah menjadi di luar kemampuan pihak-pihak yang seharusnya memberikan perlindungan. Hanya kepada-Nya kita berlindung dan berserah diri. Tidak lebai, tapi saat ini bukan saatnya abai. Terus 5M, berpartisipasi aktif untuk vaksinasi. Vaksinasi memang tidak menjamin bahwa Anda tidak akan tertular, tetapi insya Allah tidak sampai parah dan fatal. Ini bukan tentang lockdown, tetapi menuju #kalasuba, masa indah setelah masa yang berat.[]

Loading...

Terpopuler