Connect with us

Kolom

Kalangan Santri, Gus Rommy Lebih Potensial Dibanding Cak Imin

Published

on

Cak Imin dan Gus Rommy sama-sama dari kalangan Santri. Foto Ilustrasi: NUSANTARANEWS.CO

NUSANTARANEWS.CO – Pemilihan Presiden memang masih akan berlangsung tahun 2019, namun obrolan mengenai hal itu telah mengemuka. Banyak nama yang muncul dan digadang-gadang untuk maju. Namun dari sekian banyaknya nama minim sekali yang mengajukan diri langsung beagai calon Presiden, hampir semuanya justru diisukan mencalonkan diri menjadi wakil presiden. Hal ini memang bukan sesuatu yang mengejutkan, mengingat sang petahana Presiden Joko Widodo masih memiliki elektabilitas yang sangat tinggi. Beberapa survey bahkan menempatkan elektabilitas Jokowi lebih dari 50%. Figur Jokowi yang juga dikenal dekat dengan masyarakat dan menjadi kesayangan media (media darling). Siapapun yang ingin maju bersaing melawan Jokowi akan berhitung dan berpikir ulang.

Terlepas kelebihan dan potensinya, tentu saja Jokowi memiliki titik lemah yang bisa menjadi celah para lawan politik untuk menyerangnya. Beberpa isu yang terus didengungkan untuk menyerang Jokowi adalah pro RRC, komunis dan anti Islam. Mempertimbangkan beberapa titik lemah ini Jokowi perlu pendamping yang bisa mengatasi atau menghalau agar tidak isu-isu itu digoreng lebih jauh. Jokowi harus menggandeng kalangan Islam utamanya santri, karena sosok santri bisa menangkis semuanya sekaligus. Nama yang cocok background memiliki santri dan disebut sebut dekat dengan Jokowi adalah M. Romahurmuziy (Ketua Umum PPP) dan Muhaimin Iskandar (Ketua Umum PKB).

Jika ditinjau dari silsilah keluarga keduanya memang memiliki garis keturunan Nahdlatul Ulama yang sangat kuat. M. Romahurmuziy atau lebih dikenal dengan Gus Rommy memiliki garis keturuanan bersambung kepada KH. Wahab Chasbullah yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama. Ayah beliau merupakan pendiri IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), sementara Ibu beliau merupakan pendiri IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama). Kakek beliau merupakan KH. Wahib Wahab yang pernah menjabat Menteri Agama pada masa Presiden Soekarno.

Sementara, Muhaimin Iskandar atau lebih akrab disapa Cak imin merupakan keturunan KH Bisri Syamsuri yang merupakan salah satu motor penggerak awal Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pengasuh pondok pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. KH. Bisri Syamsuri yang tak lain adalah kakek mantan presiden Abdurrahman Wahid pernah duduk sebagai anggota DPR. Ayah Muhaimin adalah Muhammad Iskandar, guru di pondok pesantren Manbaul Ma’arif, Jombang.

Jelas terlihat bahwa dari silsilah keluarga Gus Rommy dan Cak Imin sama-sama memiliki gen santri. Tidak hanya itu keduanya juga memiliki gen politik dan organisatoris yang mengalir dalam darah mereka. Bedanya antara Gus Rommy bersambung kepada KH. Wahab Chasbullah, sedangkan Muhaimin Iskandar kepada KH. Bisri Syansuri. Jika ditelisik lebih jauh Gus Rommy dapat dikatan memiliki nilai plus yaitu orang tua beliau yang keduanya merupakan Pendiri dan Ketua Umum Organisasi Pelajar Nahdlatul Ulama. Jelas latar belakang ini membuatnya akrab dan terbiasa dengan dunia organisasi sejak kecil. Beliau juga piawai membengun relasi dengan berbagai kalangan utamnaya politisi sekarang yang notabennya banyak diantaranya merupakan murid adi ayah beliau.

Baca:
Soal Asumsi Keberangkatan Jama’ah Haji Gratis, Romahurmuziy: Itu Hitungan Menyesatkan
Hadang Paham Radikal, Romahurmuziy Sarankan IPNU Bentuk Korps Muballigh
Romahurmuziy Tegas Serukan Islam Tidak Diajarkan Dengan Kemarahan

Bebeda dengan Gus Rommy, orang tua Cak Imin bukanlah seorang organisatoris. Meskipun begitu Cak Imin aktif berorganisasi, bahkan sempat menjadi Ketua Umum PB PMII. Kiprahnya dan pengalaman memimpin organisasi nasional semasa mahasiswa tidak bisa dikesampingkan. Akan tetapi jika dinilai dari kepemimpinan di partai, Gus Rommy terhitung lebih unggul karena mampu menghadirkan suasana dinamis dan progresif dalam tubuh PPP. Indikatornya sangat jelas bagaimana PPP melalui tangannya mengambil keputusan-keputusan strategis. Gus Rommy tidak jarang mengambil keputusan bertentangan dengan partai penguasa, dan mampu memainkan ritme dimana harus sejalan dengan penguasa. PPP di bawah kepemimpinannya sadar betul akan konstituennya, oleh karenanya selalu mngupayakan yang terbaik.

Contoh paling jelas dinamisnya kepemimpinan Gus Rommy yaitu dalam penolakan Impor beras yang tengah direncanakan oleh Pemerintah, selain itu juga keputusan menolak revisi RUU MD3 dan berani menyuarakan aspirasi masyarakat. Sebagai partai tengah PPP mengambil jalan berbeda dengan suara mayoritas partai-partai di Parlemen. Hal ini berbeda dengan Cak Imin, menurut Muhamad Yusuf Kosim Direktur Riset Indo Barometer, PKB dibawah kepemimpinan Cak Imin tidak dinamis dan selalu manut dengan aktor politik. Di Parlemen, PKB dibawah kepemimpinannya mengesampingkan kajian-kajian kritis. Perolehan suara PKB naik menjadi 5% pada Pemilu Legislatif dan Pilpres 2014 bukan berkat kerja keras Cak Imin, namun berkat para kiai Nahdatul Ulama (NU).

Cak Imin yang terkesan ngotot menjadi Cawapres dengan serangkaian cara justru bisa menjadi bumerang. Sampai sekarang Cak Imin juga belum mendeklarasikan diri siapa Calon Presidennya, jelas bisa dibaca bahwa Ia tengah main dua kaki. Artinya siapapun yang mau menggandengnya menjadi Cawapres, meskipun beberapa waktu terakhir kerap diisukan bersanding dengan Jokowi. Jika berkaca pada pola permainan politik Cak Imin 2014 bisa saja beliau merapat ke Prbowo atau calon Presiden lain.

Baca juga:
Cak Imin: Di Antara Tokoh Islam, Saya Tertinggi untuk Next Wapres
Cak Imin: Umat NU Miskin, Negara Harus Mengurus Mereka
Cak Imin Kritik Rencana Pemotongan Gaji PNS untuk Zakat
Cak Imin: Kita Ini Umat yang Hidup dalam Paradoks

Jika ditilik dari pemilih milenial yang jumlahnya mencapai 40%, Gus Rommy sepertinya lebih mudah dekat dan menggaet massa dibanding Cak Imin. Pertama, soal usia Gus Rommy yang tidak terpaut jauh kerena relatif lebih muda tentu menjadikannya lebih mudah mendekatkan diri dengan kaula muda. Gus Rommy juga merupakan santri gaul, bukan hanya pandai mengaji tetapi juga pandai bermain musik. Musik merupakan bahasa universal menjangkau semua kalangan, generasi milenial menyukai hal-hal ringan dan menyenangkan seperti musik . Gus Rommy dinilai banyak pengamat lebih mampu menerjemahkan visi pembangunan secara lebih konkret jika mendampingi Jokowi. Cara komunikasi nya yang elegan dan luwes merupakan menjadi lasan utamanya. Jika pertimbangan Jokowi bukan hanya mencari pendamping yang mampu mengahalau isu yang menyerangnya, akan tetapi juga mendongkrak elektabilitasnya Gus Rommy menjadi sosok yang lebih tepat ketimbang Cak Imin.

Penulis: Dawamun Ni’am Alfatawi, pemikir muda di Lembaga Kajian Politik Nusantara (LKPN)

Komentar

Penulis dan editor di nusantaranews.co. Pecinta puisi dan suka mengarsip | kemarin dan esok adalah hari ini

Advertisement

Terpopuler