Connect with us

Peristiwa

Kadet Pnb Sutardjo, Sang Penakluk Tiga Kota di Jawa Tengah

Published

on

NUSANTARANEWS.CO – Dunia pasti kenal dengan sosok Sutardjo Sigit, pelaku operasi serangan udara yang dilancarkan TNI Angkatan Udara (AU) guna menyerang Belanda pada zaman kemerdekaan 69 tahun silam. Tardjo, sapaan akrab Sutardjo sangat dikenal oleh semua anggota TNI AU pada zaman revolusi fisik karena ia adalah salah satu anggota operasi serangan TNI AU kala itu.

Saat melakukan penyerangan terhadap belanda di Salatiga, Kadet Penerbangan Sutardjo menerbangkan pesawat Cureng yang membawa bom bakar seberat 400 kilogram. Bersama dia, terdapat seorang penembak udara. Target serangan Kadet Penerbangan Sutardjo Sigit adalah pertahanan Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Penyerangan yang dipimpin Tardjo berhasil.

Serangan udara pada pagi hari yang dilakukan Kadet penerbang Penerbang Sutarjo Sigit, Mulyono dan Suharnoko Harbani terhadap kedudukan Belanda di Semarang, Ambarawa dan Salatiga merupakan operasi udara pertama kali yang dilakukan TNI Angkatan Udara. Peristiwa heroik yang terjadi 69 tahun silam itu, telah menorehkan tinta emas perjuangan dan pengabdian TNI Angkatan Udara kepada negara tercinta ini. Keberhasilannya mengingatkan dunia bahwa Republik Indonesia memiliki kekuatan dan semangat besar untuk melawan dan melumpuhkan penjajahan Belanda di bumi pertiwi.

Hal penting untuk dimaknai bersama yaitu pertama pola operasi yang dilaksanakan oleh para pendahulu AURI mencerminkan adanya tekad yang kuat untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan yang perlu kita teladani. Rencana operasi yang dibuat, mulai dari penyiapan pesawat sampai dengan penyerangan, hingga kembali ke home base, telah menggunakan prosedur yang sistematis.

Selain itu, penyerangan atas tiga kota di Jawa Tengah, membuktikan akan kekuatan udara Republiki Indonesia di dunia internasional, bahwa saat itu kekuatan udara Republik Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan terhadap Belanda, yang telah memiliki peralatan perang yang jauh lebih baik. Bagi Indonesia, penyerangan ini merupakan eksistensi Republik Indonesia, sedangkan bagi Belanda merupakan tamparan yang memalukan.

Baca Juga:  Nyaris Sebulan Terakhir Kaltara Alami Pemadaman Listrik Bergilir, Begini Respon Pemprov
Loading...

“Meskipun pada sore harinya TNI AU kehilangan pelopor dan perintis TNI Angkatan Udara, nilai-nilai luhur dari sebuah pengabdian sekaligus pengorbanan dari kedua peristiwa tersebut hendaknya dapat kita maknai pada setiap kegiatan memperingati Hari Bhakti TNI Angkatan Udara,” ujar Koorsahli Kasau Marsda TNI Dr. Usra Hendra Herahap pada Upacara peringatan Hari Bakti Angkatan Udara yang dibacakan  di Lapangan Apel Mabesau, Cilangkap, Jum’at (29/7) kemarin. (eriec dieda)

Loading...

Terpopuler