Setya Novanto Sehat Bugar Pimpin Pleno DPP Golkar di Aula Graha Widya Bhakti, Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (11/10/2017). Foto Richard Andika/ NusantaraNews
Setya Novanto Sehat Bugar Pimpin Pleno DPP Golkar di Aula Graha Widya Bhakti, Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (11/10/2017). Foto Richard Andika/ NusantaraNews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Usai memimpin Rapat Pleno Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Rabu (11/10) kemarin, Setya Novanto menghilang dan menghindar dari sorotan media yang sudah menunggu-nunggunya. Puluhan wartawan merasa terkecoh.

Dengan dalih dari panitia yang mengumumkan konferensi pers usai rapat pleno tersebut, pria yang sering dipanggil Setnov itu keluar ruangan dari pintu samping.

Dalam koferensi pers usai rapat, Setnov tak nampak dari barisan pimpinan pengurus Partai Golkar yang memberikan keterangan pers hasil rapat Pleno Partai Golkar.

Sekjen Partai Golkar Idrus Marham dijadikan tameng untuk menghadapi cecaran media. Dengan begitu diduga Setnov mengalihkan perhatian awak media sehingga dia bisa menghindar atau kabur.

Padahal tadinya Setnov yang memimpin langsung rapat dengan agenda membahas persiapan HUT ke-53 Partai Golkar, rapat kerja nasional (Rakernas), dan pelaksanaan perekrutan calon anggota legislatif Partai Golkar.

Tak satupun dari puluhan wartawan mengendus kepergian Setnov dari ruang pleno tersebut yang sudah menunggunya di pintu utama Aula Besar DPP Partai Golkar, tempat Setnov pertama kali masuk. Setnov diduga keluar ruang rapat pleno yang digelar tertutup tersebut melalui pintu samping sebelum konferensi pers digelar.

Idrus Marham membenarkan bahwa Setnov terburu-buru meninggalkan rapat pleno. “Mohon maaf Pak Setya Novanto harus meninggalkan tempat karena ada agenda di tempat lain dan menugaskan kepada kami. Tadi dia cepat-cepat pergi, karena itu ditugaskan ke saya,” jelas Idrus.

Bukan yang Pertama Kali

Kejadian tersebut bukan pertama kalinya Setnov menghindar dari incaran media untuk mewawancarainya. Sebelumnya, saat Setnov kembali masuk kerja di kantor DPR, Senayan, Jakarta, hari ini, Selasa (10/10/2017) lalu, dia masuk dari pintu belakang.

Berdasarkan foto yang diperoleh, Setya Novanto terlihat memasuki Gedung Kesetjenan DPR. Di mana wilayah itu merupakan bagian belakang Gedung DPR.

Setnov tampak memakai jas berwarna hitam dengan menggunakan syal di lehernya. Ia tampak akan menaiki lift yang sudah terbuka dengan tombol yang dipencet oleh petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) DPR.

Para awak media langsung antusias mencari informasi kebenaran Setya Novanto yang telah datang dan berkantor lagi ke Gedung DPR. Kehadirannya memang ditunggu-tunggu setelah berhari-hari tak muncul di hadapan publik. Hal ini mengingat ada kasus yang menjeratnya, termasuk kasus korupsi e-KTP.

Tak lama setelah itu, pengamanan menuju ruangan Setnov diperketat. Tak hanya pengamanan di lift yang ada di Gedung Nusantara III yang diperketat, tetapi juga lift di bagian belakang dan tangga darurat.

Bersamaan dengan itu, sejumlah kader Golkar berdatangan menuju ruangan Novanto. Mereka yang terlihat hadir di antaranya Aziz Syamsuddin, Bambang Soesatyo, Yahya Zaini, Nurul Arifin, Rambe Kamarul Zaman, dan Robert Kardinal.

Tak satupun dari mereka mengakui keberadaan Setnov di ruangan Ketua DPR. Mereka mengaku hanya membahas pekerjaan seperti biasa. Para wartawan akhirnya diperbolehkan naik ke lobi ruangan Setnov sekitar pukul 13.00 WIB. Akan tetapi, Setnov tak kunjung keluar.

Sejumlah wartawan pun memilih berbagi tugas untuk berjaga di dua pintu keluar selain pintu yang biasa dilalui yakni pintu Setjen DPR dan Kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD).

Hingga pukul 15.00 WIB, Setnov tak kunjung terlihat. Yang tampak tiba di Gedung DPR justru Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono yang langsung masuk ke Kantor Setjen DPR. Saat ditanya tujuannya, Agung menjawab hendak bertemu Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham yang tak terlihat kehadirannya di Kompleks Parlemen.

Sekitar pukul 16.00 WIB, Wakil Sekretaris Jenderal Golkar Ace hasan Syadzily dan Ketua DPP Golkar Rambe Kamarul Zaman membenarkan kehadiran Setnov pada hari ini.

Tak lama setelah itu, Agung keluar melalui Kantor DPD dan kembali enggan menjawab saat ditanya isi pembicaraan dengan Novanto. Agung pun berlalu menggunakan mobil Toyota Alphard putih diiringi dua patroli pengawal (patwal) motor dan mobil sedan Lexus hitam bernomor polisi B 8 NJB.

Sementara, mobil yang kerap ditumpangi Novanto salah satunya sedan Lexus hitam dengan plat nomor RI 6 terlihat masih terparkir ditempat yang sama.

Setalah Agung, Nurul juga menyusul keluar dari pintu yang sama. Ia juga enggan menjawab pertanyaan seputar kedatangan Novanto.

Hingga pukul 19.00 WIB, para wartawan masih menunggu Novanto, tetapi tak kunjung muncul. Setelah dicek kembali, hanya tersisa satu patwal motor yang mengawal mobil Toyota Alphard berplat nomor RI 7 milik Ketua DPD Oesman Sapta Odang. Hal itu sekaligus menjadi penanda ternyata Novanto telah meninggalkan Kompleks Parlemen.

Sebelumnya, Setya Novanto dirawat di RS Premier sejak 18 September lalu. Ia disebut-sebut menderita beberapa penyakit dari mulai vertigo hingga jantung. Namun, usai menang gugatan praperadilan Setya Novanto mendadak dikabarkan sembuh dan pulang ke rumah.

Tameng Untuk Menghindar

Di tengah rapat dengar pendapat (RDP) antara Komisi III DPR dengan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kompleks Parlemen, sepucuk surat tiba di kantor lembaga anti-rasuah di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/9).

Surat itu dari tersangka kasus e-KTP Setnov. Diantar Kepala Biro Pimpinan Kesekretariatan Jenderal DPR Hani Tapahari, Setnov dalam suratnya memohon agar KPK menunda pemeriksaan dirinya sampai proses praperadilan selesai.

Sedianya, Setnov menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus e-KTP sehari sebelumnya dan menghadiri sidang perdana praperadilan pada hari itu. Namun, itu urung dilakukan lantaran Setnov dikabarkan mendadak menderita vertigo pada Minggu (10/9) malam usai berolahraga.

Setnov kemudian harus dirawat di Rumah Sakit Siloam MRCCC Semanggi karena penyakitnya itu dan menjalani perawatan insentif dari tim dokter. Hingga kini, Setnov dikabarkan masih beristirahat di sana.

Banyak pihak menilai, Setnov terkesan ‘menghindar’ dari proses hukum kasus dugaan korupsi e-KTP. Tak cuma itu, sejak ditetapkan sebagai tersangka kasus e-KTP pada pertengahan Juli lalu, Setnov juga mulai menghindar dan menghilang dari sorotan publik dan kejaran awak media.

Misalnya, saat menjadi sorotan ketika akan memimpin agenda sidang paripurna tahunan parlemen dengan Presiden Joko Widodo 16 Agustus lalu, Setnov yang sejak pagi hadir mendadak sakit di siang harinya. Vertigo juga jadi alasan sakitnya kala itu.

Meski hadir dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan tugasnya sebagai Ketua DPR dan Ketua Umum Partai Golkar, Setnov hampir selalu ‘menghilang’ sehingga sulit diwawancarai.

Begitu pula dalam menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai pimpinan dewan. Sejak menjadi tersangka, Setnov tak lagi tampak masuk melalui pintu depan Gedung Nusantara III DPR yang menjadi kantor tempat dia bekerja.

Dia memilih masuk lewat pintu-pintu lain yang luput dari pantauan awak media. Mobil yang ditumpanginya pun kerap terparkir di bagian belakang kompleks parlemen, dekat kantor Kesekretariatan Jenderal DPR.

Setnov juga punya punggawa yang dinilai kerap menjadi tameng di berbagai kesempatan. Sebut saja Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham.

Seringkali, kehadiran Setnov di kantornya ditandai dari kemunculan Idrus. Idrus memang kerap kali menyambangi Gedung Nusantara III DPR untuk berkoordinasi dengan Setnov. Bisa dikatakan, dimana ada Idrus, di situ ada Setnov.

Idrus pula yang kemudian menjadi juru bicara bagi Golkar untuk menggantikan peran Setnov dalam menjawab berbagai pertanyaan awak media terkait berbagai isu. Idrus juga yang mendampingi kuasa hukum Setnov untuk menyampaikan surat keterangan sakit dari tim dokter RS Siloam ke KPK.

Sedangkan di jajaran pimpinan dewan, ada dua Wakil Ketua DPR, yaitu Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang kerap menjadi tameng Setnov dalam urusan tertentu dan menghadapi kejaran awak media. Dengan begitu, ketika wartawan sedang fokus mewawancarai para punggawanya, perhatian menjadi teralihkan, sehingga diduga Setnov dengan leluasa dapat menghindar.

Salah satunya seperti surat permohonan Setnov kepada KPK yang ternyata ditandatangani Fadli dengan dalih aspirasi dari Ketua Umum Partai Golkar itu sebagai masyarakat biasa. Beragam upaya Idrus dan Fadli maupun Fahri sebagai punggawa dan menjadi tameng Setnov menuai kritik dari kalangan Golkar, parlemen, hingga lembaga swadaya masyarakat

Penulis: Richard Andika
Editor: Ach. Sulaiman

Komentar