Connect with us

Politik

Jokowi Terdesak, Isu Khilafah Dijadikan Senjata Pamungkas

Published

on

game of thrones, perang dagang, winter is coming, pidato jokowi, nusantara, natalius pigai, annual meeting imf-world bank, nusantaranews, perekonomian global, kehormatan bangsa, nusantara news

ILUSTRASI – Pidato Jokowi tentang ‘Winter is Comig’ saduran dari film Game of Thrones. (Foto: Twitter/HBO Asia)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaJokowi dinilai mulai terdesak sehingga isu khilafah dijadikan timses capres-cawapres nomor urut 01 sebagai senjata pamungkas. Wartawan senior, Asyari Usman mengatakan pemunculan isu khilafah menjelang Pilpres 2019 merupakan langkah terdesak para pendukung pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Salah satu sinyal yang menunjukkan Jokowi terdesak di pilpres ini adalah pemunculan isu khilafah. Pertama, tampil Luhut Panjaitan yang mengatakan ada gerakan yang mau mengganti ideologi Pancasila,” kata dia dikutip dari catatannya, Jakarta, Minggu (31/3/2019).

Setelahnya, kata dia, muncul Hendropriyono yang menakut-nakuti publik bahwa pilpres kali ini adalah pertarungan antara ideologi Pancasila dan ideologi khilafah.

“Jangan salah pilih, kata Hendro mengakhiri jeritan pedihnya yang terakhir menjelang kejatuhan Jokowi, 17 April nanti,” ucapnya.

Baca juga: Menuju Pemilu 2019, Dewan Pertimbangan MUI Imbau tak Gunakan Isu Khilafah

Asyari mengungkapkan, ‘awas khilafah’ kini menjadi amunisi pamungkas kubu Jokowi untuk memenangkan pilpres.

“Mereka tak mampu lagi memikirkan narasi yang lebih cerdas. Agak mengherankan juga mengapa Luhut dan Hendro kalah cerdas dibanding publik. Padahal, mereka berdua ini mantan jenderal yang disebut-sebut cerdas,” imbuhnya.

Dia mengingatkan, publik tidak bisa ditakut-takuti dengan isu khilafah, apalagi tak didukung dengan bukti-bukti empiris dan penjelasan ilmiah.

“Mereka masih saja membuat stetmen yang sifatnya satu arah dan harus ditelan begitu saja oleh publik. Luhut dan Hendro menganggap dan mengharap rakyat hari ini sama seperti anak-buah yang mereka pimpin dulu. Dalam arti, apa saja yang mereka katakan harus diiyakan dan diterima sebagai kebenaran,” paparnya.

Baca Juga:  Respon Covid-19, Loka Anak Darussa’adah Monitoring Penyaluran BST di Banda Aceh

Padahal, kata dia, publik hari ini tidak akan menelan begitu saja apa-apa yang mereka katakan. Mereka terbiasa menggunakan nalar untuk menganalisis sesuatu.

“Kalau Luhut dan Hendro bilang Pancasila terancam diganti ideologi khilafah, publik akan melihat dulu sejarah ideologi khilafah di Indonesia,” terang Asyari.

Baca juga: Menguji Kebenaran Agenda Politik Komunisme dan Khilafah di Pilpres 2019

Menurutnya, publik paham bahwa ancaman khilafah yang disebutkan Hendro itu tidak pernah terbukti. Jika sebatas digunakan sebagai momok, memang sering. Khilafah mereka jadikan sebagai hantu untuk menakuti khalayak.

“Yang menjadi masalah, hantu khilafah itu tak punya bangkai. Padahal, dalam mitos mana pun juga, hantu dipercaya sebagai jelmaan bangkai. Nah, tolong tunjukkan bangkai khilafah di Indonesia ini? Di mana ia berada? Apakah Luhut dan Hendro bisa tunjukkan?,” ucapnya.

“Jadi, memang ada gap (jurang) yang lebar dalam cara berpikir dan gaya argumentasi antara Luhut-Hendro dan generasi yang jauh di belakang mereka. Yaitu, generasi yang bakal banyak menggunakan akal sehat ketimbang agitasi yang keluar dari ekspresi wajah ketat dan cemberut,” lanjutnya.

“Sebagai kesimpulan, kalau pun Luhut dan Hendro melancarkan kampanye ‘scaremongering’ (menakut-nakuti) rakyat bahwa Pancasila akan diganti, tidak akan pernah sukses,” pungkasnya.

(eda)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler