Connect with us

Politik

Jokowi Dimenangkan Secara Legal, Tapi Legitimasi Ada di Prabowo

Published

on

Rocky Gerung (Foto Dok. NUSANTARANEWS.CO)

Pakar Filsafat politik, Rocky Gerung mengatakan Jokowi dimenangkan secara Legal, tetapi legitimasi ada di Prabowo. (Foto Dok. NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pakar filsafat politik Rocky Gerung menilai dalam kasus sengketa pilpres 2019 yang telah diputuskan Mahkamah Konstitusi, Jokowi dimenangkan secara legal, tetapi legitimasi justu disebut ada di Prabowo.

Rocky mengatakan, ada yang tidak tuntas di dalam ruang sidang Mahkamah Konstitusi beberapa waktu lalu. Ketidak tuntasan itu kemudian spillover ke dalam masyarakat.

“Jadi bukan lawyer ini yang masih kesel atau saling mengintip argumen baru untuk membuktikan anda kalah anda menang. Di publik, hal itu juga terjadi,” kata Rocky Gerung saat menjadi pembicara dalam diskusi Indonesia Lawyers Club bertajuk Setelah Vonis MK: Seperti Apa Wajah Demokrasi Kita? pada Selasa malam (2/7).

“Saya membayangkan bahwa demokrasi kita akan kembali berhadapan dengan hal yang sama. Mungkin 1 tahun ke depan di tahun 2020. Ada pilkada di 60 kabupaten di situ. Dan ini akan menjadi over ke situ, problem ini,” jelasnya.

Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Kecurangan Pilpres Secara Etis Itu Mahal

Loading...

Pasalnya menurut Rocky, dalam kasus putusan MK ini, tidak ada formulasi untuk menyelesaikan. “Pak Prabowo justru gembira gembira saja menghadapi soal ini, yang justru gugup adalah kubu pak Jokowi. Karena menunggu kepastian kapan rekonsiliasi dengan pak Prabowo,” ujarnya.

Jadi menurut dia, agak ajaib, seorang yang memenangkan atau berpesta, justru hatinya tidak lega. “Itu yang saya terangkan, saya menganggap bahwa Pak Jokowi dimenangkan secara legal tetapi legitimasi ada di Prabowo,” kata dia.

Lantas bagaimana cara mendamaikannya? Rocky mengumpamakannya dengan istilah dua problem. Dimana kubu satu di Kutub Utara, sedangkan satunya lagi di Kutub Selatan.

Baca Juga:  Democratic Policing Tito Karnavian Dinilai Patut Diwaspadai

“Harus ada badai baru untuk menemukan rekonsiliasi. Itu yang harus kita cari,” terangnya.

Pewarta: Romandhon

Loading...

Terpopuler