Connect with us

Mancanegara

Jenderal Haftar Kembali Menyerang Kota Gharyan

Published

on

Jenderal Haftar Kembali Menyerang

Jenderal Haftar Kembali Menyerang/Foto: Southfront

NUSANTARANEWS.CO – Jenderal Haftar kembali menyerang Kota Gharyan. Angkatan Udara The Libyan National Army’s (LNA) menyerang pasukan Government of National Accord (GNA) yang didukung oleh PBB di Kota Ghryan, sebelah barat Tripoli pada hari Rabu (11/7) waktu setempat, sebagaiman dilaporkan media lokal.

Chanel TV Al Hadath melaporkan bahwa LNA telah melakukan operasi serangan udara besar-besaran pada awal minggu ini untuk merebut kembali Kota Gharyan yang baru-baru ini berhasil dikuasai oleh pasukan GNA.

LNA saat ini dikabarkan tengah menunggu kedatangan pasukan daratnya untuk melakukan serangan ke dalam kota itu.

Sebagian besar negara-negara Barat mendukung pemerintah persatuan (GNA). Sejak terjadi serangan di Tripoli, PBB, AS dan Uni Eropa telah menyerukan penghentian segera pertempuran dan segera melakukan perundingan. Belakangan, GNA mendapat dukungan Turki dan Qatar.

Jenderal Haftar dengan LNA sendiri telah lama mendapat dukungan dari Mesir dan UEA, dan sekarang ditambah Rusia dan Arab Saudi di belakangnya.

Loading...

Sementara Prancis secara teknis memainkan peran sebagai mediator dalam konflik. Namun, muncul kecurigaan bahwa Prancis mendukung Jenderal Haftar.

Seperti diektahui, Presiden Emmanuel Macron adalah pemimpin Barat pertama yang mengundang Haftar ke Eropa untuk melakukan pembicaraan damai. Ketika Haftar mengahdapi pasukan Chad di Selatan, Prancis melancarkan dukungan serangan udara untuk membantu pasukan Jenderal Haftar pada bulan Februari.

Para pengamat menilai dukungan Prancis kepada Haftar memerangi gerilyawan di perbatasan yang dapat mengancam wilayah yang lebih luas, adalah untuk mendapatkan akses minyak Libya yang lebih besar.

Terkait dengan penemuan empat unit rudal Javelin buatan AS di Kota Gharyan oleh pasukan GNA pada bulan Juni lalu, Prancis membantah telah melanggar embargo senjata PBB. Kementerian pertahanan Prancis mengatakan bahwa rudal Javelin buatan AS yang “rusak” itu tidak pernah dimaksudkan untuk diserahkan ke kelompok mana pun, dan akan dihancurkan.

Baca Juga:  Huresty: Sandi 'Promotor' dalam Memo Adalah Nurhadi

“Senjata-senjata ini untuk melindungi pasukan yang melakukan misi intelijen dan anti-teror,” kata pernyataan kementerian pertahanan itu, sambil menambahkan bahwa rudal itu “rusak dan tidak dapat digunakan” dan “disimpan sementara di sebuah depo sebelum dihancurkan.” tambah pernyataan itu.

Meski Prancis selalu membantah mempersenjatai pasukan Jenderal Haftar, namun Paris telah memberikan dukungan diplomatic kepada Haftar.

Situasi Libya hari ini memang tidak terkendali karena kekosongan kekuasaan sejak pembunuhan pemimpin Libya Muammar Qaddafi oleh koalisi pasukan bayaran imperialis-teroris dukungan Barat, sehingga tidak ada otoritas yang mampu mengendalikan stabilitas negara yang kaya minyak ini.

Beberapa faksi politik dan militer saling bertempur memperebutkan kekuasaan, dan terakhir tersisa dua kekuatan besar  yakni: Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) dukungan PBB yang dipimpin oleh Perdana Menteri Fayez Mustafa al-Sarraj, dan Tentara Nasional Libya (LNA) Jenderal Haftar, yang berbasis di kota-kota timur Benghazi dan Tobruk. (Banyu)

Loading...

Terpopuler