Connect with us

Mancanegara

Jelang Idul Adha, Pendidik Madrasah Ini Sebut Emosi Umat Islam Tengah Diuji

Published

on

Seorang gadis tampak sedang menggendong bayi di pengungsian korban Rohingya/Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Seorang Pendidik Madrasah Achmad Nasrudin menyatakan bahwa emosi umat Islam kembali mendapat ujian berat. Pasalnya,

menjelang kumandang takbir Idul Adha, kabar duka berhembus kencang dari Myanmar.

“Kabar yang menerpa itu membuat leher kaku, malu dan pilu bagi setiap insan yang hatinya masih tersisa rasa ukhwah fiddin. Lagi lagi, pembantaian kaum sipil

oleh aparat bersenjata atas nama menumpas kaum radikalis,” ucap Nasrudin dalam pesan WhatsApp dari Lampung, Rabu, 30 Agustus 2017.

Ternyata, lanjut Nasrudin, pemaknaan kata radikal seakan belum menemukan kata sepakat. Radik, radikalis, Radikalisme, radikal bebas, hingga seakan perlu

adanya cabang ilmu khusus, radikology. “Terlebih lagi dalam hal penggunaan kata tersebut,” imbuhnya.

Menurut dia, konotasi negatif seolah dilekatkan kepada umat Islam yang melakukan perlawanan terhadap hegemoni.

“Teology jihad terhadap kedzaliman yang itu merupakan ajaran suci para Rasul ulul azmi harus dibungkam dengan standar ganda interpretasi kata radikal,” kata

Nasrudin menjelaskan.

Nasrudin menambahkan, tragedi Rohingnya menegaskan urgensi ukhwah umat islam se alam semesta. Ummat Islam perlu jaminan akan keamanan dan

kedaulatan untuk hidup dan beribadah di seluruh penjuru bumi.

“Dan itu hanya dapat terwujud atas kehendak dan perjuangan kaum muslimin sendiri, bukan oleh kaum lain,” tegas Nasrudin mengakhiri.

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman

Loading...

Terpopuler