Connect with us

Ekonomi

Jebakan IMF Atas Krisis Moneter Indonesia 1998

Published

on

Gurita IMF (Ilustrasi)

Gurita IMF (Ilustrasi)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ibarat sebuah jebakan, resep ekonomi yang disodorkan IMF (International Monetary Fund) justru menjadi blunder mematikan bagi pemerintah Indonesia pada tahun 1998. Pada kesempatan mengisi acara di Jakarta, Rabu (28/11/2018) Mantan Wakil Presiden Boediono mengakui bahwa resep IMF untuk mengatasi krisis ekonomi Indonesia tahun 1997-1998 dianggap salah.

Sebagai sesuatu yang baru, krisis 1997-1998 menurut Boediono terjadi karena ada aliran modal balik secara besar-besaran di Asia, termasuk di Indonesia. Akibatnya, kondisi likuiditas dalam negeri terguncang.

Karena dinilai masalah baru, lanjut ia, Indonesia kemudian meminta IMF membantu memberikan masukan. Lembaga internasional itu tidak hanya memberikan masukan, tetapi juga dukungan pendanaan.

Baca Juga:
Kondisi Ekonomi Akhir 1997, Disebut Nyaris Sama Dengan Hari Ini
Apakah Teror Krisis Moneter 1997 Spontan?
Membongkar Teror Krisis 1997 di Indonesia

Kontan, IMF pun menyodorkan resep kepada pemerintah untuk menutup 16 bank yang sakit. Kemudian melaksanakan reformasi struktural dengan mengendalikan likuiditas pada November 1997.

Padahal total aset dari 16 bank yang ditutup itu sangatlah kecil. Yakni hanya berkisar 3% sampai 4 % dari total aset perbankan nasional. Hasilnya, resep itu justru menghantam psikologis pasar. Membuat kepanikan masyarakat. Praksis, secara cepat pasca penutupan bank, nasabah kompak mengalihkan simpanannya ke bank lain.

Setelah tiga bulan berlalu, barulah pemerintah menyadari resep ekonomi IMF justru menjadi blunder nasional. Memicu bank kelabakan mencari dana, L/C Indonesia tidak diterima di luar negeri, dan masyarakat lebih memilih dolar AS dibandingkan rupiah yang kursnya anjlok.

Pertanyaannya kemudian, benarkah resep moneter yang diberikan IMF kepada pemerintah adalah jabakan?

Ekonom senior Rizal Ramli mengajukan sebuah pertanyaan dalam mencermati krisis moneter tahun 1998. Ia bertanya, apa yang men-trigger ekonomi Indonesia di tahun 1997/1998 sehingga kacau balau?

Rizal Ramli menjelaskan, “Memang bukan Indonesia. Tetapi Thailand. Karena Soros (George Soros) menganggap indikator makro Thailand lebih jelek dari pada Indonesia,” katanya di kawasan Jakarta Selatan, 31 Oktober 2018 lalu.

Dia kemudian memberikan ilustrasi tentang ekonomi Indonesia akhir tahun 1997 dengan mengumpakannya seperti permainan bola biliar. “Nah, persis kaya orang main bola biliar. Dia hantam bola biliar, yang lain menghantam bola biliar Indonesia. Ternyata Indonesia ngedrob-nya paling down,” jelasnya.

“Jadi 1998, pemicunya bukan Indonesia. Pemicunya Thailand,” ujar dia.

Editor: Romandhon

Advertisement
Advertisement

Terpopuler