Budaya / SeniCerpen

Janji

Cerpen: Ali Mukoddas

Sebenarnya aku ingin menepati janji perihal percakapan yang harus dituliskan, tapi ada suatu pikiran curang yang masuk mengobrak abrik pendirian. Lagipula, aku tidak ingat secara persis bagaimana percakapan kita. Percakapan yang tak diingat, kalau dipaksakan akan menimbulkan kebohongan. Apa kau suka dengan kebohongan? Tentu tidak, bukan? Walau kau sendiri seringkali berbohong. Tidak usah mengelak, aku seringkali kau bohongi. Jadi, kalau kau ingin percakapan itu tertulis, kau harus siap dengan kebohonganmu sendiri. Atau kutulis saja kebohongan itu di bagian cerita ini? Silakan koreksi kebohongan itu dengan teliti.

Begini, Lenku yang terkasih, aku benar-benar tidak ingat percakapan itu. Kau tahu bahwa kata yang diucapkan itu menguap bersama angin, dan yang tertulis bertahan barang beberapa waktu. Sayangnya aku tidak menulis setiap percakapan itu, percakapan kau dan aku. Haruskah kutulis, sedang menulis sesuatu yang kupelajari saja tidak? Haruskah kuingat percakapan kita itu, sedang nama tokoh penting dalam sejarah saja aku lupa? Namun ada satu percakapan yang akan selalu kuingat. Percakapan yang terjadi di taman kota. Cukuplah kau ingat, tak perlu kubahas dan kutulis dalam cerita pendek ini.

Len, aku ingin bercerita sedikit tentang keinginan, tujuan, dan harapan. Ada satu hal yang membuat keinginan, tujuan, dan harapan itu menciut. Kau tahulah hal yang membuat ciut itu apa. Kau seringkali mengucapkannya.

“Aku takut kalau suatu saat kau dan aku tidak menjadi kita,” ucap kau.

Itu karena kau terlalu menjadikannya sebagai beban, kau tidak menjalaninya dengan biasa-biasa saja, pikirku saat kau ucap kalimat tersebut.

“Akhir-akhir ini aku seperti dihantui kematian. Aku takut kalau aku mati nanti,” ucap kau juga di lain kesempatan saat kita bertemu.

Kupikir, mati itu seperti orang yang sedang tidur. Kalau mati kau anggap seumpama mimpi, tentu kau tak usah khawatir dengan kematian. Sayangnya, kau tidak menganggap mati seperti adanya mimpi. Jelas sudah, bahwa dari dua kalimat kau itu menunjukkan ketakutan yang diutamakan. Sama halnya denganku, ada satu hal yang menjadikan keinginan, tujuan, dan harapan itu goyah. Kau bisa menebaknya sekarang perihal apa yang kupikirkan. Ya, tentang ketakutan. Aku takut, sama seperti kau saat merasa takut.

Len, jujur aku tak bisa menulis lagi. Pikiran ini seperti sudah tua, dan sebentar lagi akan kering, benar-benar gersang. Awalnya ingin kujadikan kau alasan untukku menulis, tapi pada akhirnya alasan itu tidak tepat. Hanya karena takut, ya, hanya karena takut hingga aku lupa satu hal. Satu hal yang kulupa adalah janji, janji untuk melupakan segalanya tentang masa lalu, tentang sakit. Kalau kau bertanya apa itu? Aku tak bisa menjelaskannya. Tapi lupakanlah tentang itu, tak seharusnya kutulis di sini. Hanya karena kebingungan saja hingga dengan santai kutulis hal janji itu tanpa alasan. Sekarang, kembali pada percakapan yang harus kutulis.

Saat itu, di suatu rumah teman kita, kau dan aku membahas banyak hal. Aku tak mengingatnya dengan lengkap, tapi aku akan selalu mengingat kecup dan cumbuan pertama kali itu. Cumbuan yang membuat segala otot badan menegang. Berawal dari suatu masalah. Malam, sebelum cumbuan itu terjadi, kau memaksaku untuk tetap tinggal. Aku memaksa untuk pulang, sudah larut malam.

“Tunggulah sampai jam sepuluh,” ucapmu saat waktu menunjukkan angka sembilan. Kau bersikeras.

“Aku harus pulang. Tadi kau berkata aku bisa pulang jam sembilan, sekarang sudah jam sembilan lewat.”

Aku tak pernah bisa menolak permintaan, apalagi itu hal yang remeh seperti untuk tetap tinggal barang beberapa jam. Ditambah lagi kau yang memintanya.

“Tunggulah sampai jam sebelas. Bukankah jalanan sekarang masih macet? Lagipula terlalu awal untuk tidur,” ucapmu, padahal sudah jam sepuluh.

Mendengar kalimat itu aku terdiam, menurut. Ada benarnya juga, pikirku. Lalu kita lanjut pada percakapan entah, aku tak mengingatnya.

“Bagaimana, ini sudah jam sepuluh lewat? Kalau kemalaman tak enak untuk tetap tinggal di sini.”

Saat itu aku putus alasan. Seperti sedang berdiri di halte menunggu diri dibawa bus kota. Aku hanya terdiam, lalu kita berbicara ngalor-ngidul, dan aku lupa soal waktu.

“Sudah jam sebelas lewat, aku pulang sekarang.” Dengan tergesa kuambil kunci motor dan tas.

Aku tak bisa pergi, kau memegangi ujung bajuku. Kau memaksa agar aku tetap tinggal.

“Sudah larut. Kau tidur di sini saja. Atau kita berbincang-bincang sampai pagi. Atau nonton film?” ucapmu sedang aku benar-benar terpaku. Kau sungguh pintar dalam tawar menawar, Len.

Bagaimana aku bisa pergi dengan sebuah tangan yang memegang erat di baju, lalu celana, ditarik seperti orang yang main tarik tambang. Aku sadar kau besar, dan aku kecil, kalau beradu kekuatan jelas aku kalah, jadi diamlah aku. Menuruti permintaanmu. Sudah larut, kau mau menonton film atau berbincang, gumamku. Kubuka tas, mengambil laptop. Biarlah kau tonton sendiri, pikirku. Aku kantuk.

“Kau kalau sudah maksa tak bisa dibantah, ya. Baiklah, kita nonton saja.”

Entah bagaimana kelanjutannya, aku tertidur pulas. Di atas bantal. Kubuka mata pada jam kesekian. Kau sudah tak lagi nonton, laptop kau letakkan di atas meja ruangan. Kau tidur satu bantal bersisian dengan kepalaku. Pertama saat kubuka mata, bibir kita bersentuhan. Aku tak berniat menyentuhnya, tapi sudah kadung, kuperdekat lagi. Kukecup bibirmu. Melumatnya.

Hanya dalam hitungan menit, kau pun terbangun. Kukecup lagi bibir itu, lalu kau membuka mata, lantas mendorong wajahku. Diam, hening sesaat.

Entah bagaimana pula mulanya, kau datang seperti pemangsa, memburu mulutku, kau melumatnya. Saat itulah kurasakan kejutan listrik yang membuat tegang penjuru otot. Pembulu darah seperti mengembang. Kupikir, mungkin seperti itulah malam pertama seorang suami istri. Sayangnya kita bukan suami istri, Len.

Malam lewat seperti setan sesat. Tak terhitung waktu berapa lama kita bercumbu. Satu jam? Dua jam? Entah. Kita berhenti ketika dirasa sudah waktunya berhenti.

“Bagaimana, enak? Puas makan bibir?” ucapmu seraya menyeringai.

Aku menggeleng.

“Bagaimana rasanya?”

Santai kujawab, tak ada rasa. Sesaat setelah kalimat itu, kau gigit bibirku. Siapa yang memulai, pikirku saat itu sedikit bertanya pada hening pagi. Kau terus melumat bibirku, mulutku seakan kelu, ragu membalas lumatan bibirmu.

“Aku harus pulang.”

Kuhentikan cumbuan itu dengan kalimat tersebut. Dengan ringan kau biarkan aku pulang. Kuambil kunci motor dan tas di atas meja, lantas hendak membuka pintu. Tapi, sebelum pintu terbuka kau tarik tanganku, sekali lagi membujukku untuk singgah sesaat, sampai siang nanti. Tidak, kukatakan tidak pada diri sendiri, dengan keras berusaha pergi. Di jalan, kubayangkan itu hanya imajinasiku yang singgah di bibirmu, Len. Tapi aku lupa pada satu hal, di pagi itu ada yang tertinggal. Kau yang tahu aku kembali atau tidak. Bagaimana kabar laptopku di sana, laku berapa?

Jakarta, 4 Juli 2017.

Penulis merupakan pemuda asal Madura yang menulis untuk dirinya sendiri, cukup egoistis memang. Setelah mengakhiri pembelajarannya di Annuqayah, dia pindah ke Jakarta serta kuliah Ilmu Hukum di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Bisa berkirim email dengan penulis di [email protected]

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Related Posts

1 of 39