Connect with us

Budaya / Seni

Jangan Ada Bom Panci Diantara Kita

Published

on

(Ilustrasi) Bom Panci. Foto: MalangTODAY

Cerpen : Ferry Fansuri

Pagi yang muram, ada jelaga kegelisahan di muka pria bermuka masam itu dan tersenyum kecut. Dua hari sebelumnya menjelang Ramadhan, Sobrin sering termenung hampa. Wajahnya tanpa kosong melompong, tanpa ekspresi dan sesekali menerawang ke langit-langit petak kontrakan di pinggiran kumuh ibukota. Petak kecil yang ditempati Sobrin tak bisa dibilang rumah yang layak, dikelilingi bedeng triplek lapuk beratap seng usang berkarat biang tetanus.

Sobrin terjebak di slum city itu, bertahun-tahun hidup dengan mengais sampah dibelakang gubuk reyotnya itu. Kehidupan sebagai pemulung hanya bisa mengisi perutnya tiap hari, Sobrin memungut sisa-sisa kebahagian para borjuis. Lahan nan luas Bantar Gebang itu jadi tempat Sobrin berburu recehan rupiah dari botol plastik, koran majalah bekas ataupun kalaupun beruntung menemukan radio FM yang dibuang pemiliknya.

Radio FM itu bawa pulang ke petak reyotnya, sekedar mengusir kesepian serta cacing-cacing yang menyanyikan lagu keroncong dalam perutnya. Kata orang hanya mendengarkan musik saja bisa membuat perut kenyang. Disaat malam yang sunyi dan Sobrin memegang perutnya yang melilit, ia hanya tinggal mendekat speaker radio FM yang dipungut dari tempat sampah itu ke telinga karena membran telah sobek terdengar mrebet bagai suara knalpot bocor. Kondisinya berfungsi biarpun speaker sayup-sayup germesek nyaris tak terdengar, Sobrin cukup terhibur dengan lantunan dangdut Laila Majenun di stasiun radio favoritnya.

Apa yang Sobrin kerjakan tiap hari dari mengais sampah hanya cukup menjejali tubuhnya yang kurus kering kerontang. Terkadang uang yang didapat untuk membayar utang-utang di warung ceh Momon. Hidup di ibukota tak semanis gula aren di mulut, Sobrin terjebak disini dan tidak bisa pulang. Ini akan menjadi lebaran ke-13 tidak pulang baginya jika Ramadhan ini tak mudik ke kampung halaman di Dampit. Sobrin meninggalkan emak, istri dan anaknya semata wayang untuk merantau demi sejumput rejeki dari kota yang menjanjikan masa depan. Tapi nasib tak dapat ditebak, Sobrin menjadi kuota overload pendatang musiman ibukota tanpa keahlian, hanya tenaga dan jiwa yang haus jadi modal bertahan di rimba belantara beton itu.

“Nak, jangan lupa sholat. Biarpun sholat tidak menyelesaikan masalahmu setidaknya menenangkan dirimu”

Ucapan emak itu yang membuat Sobrin tetap teguh dan bertahan sampai sekarang ini, kondisi laparpun ia tetap menjalankan rukun iman itu. Keinginan terbesar membawa pundi-pundi uang ke kampung halamannya pupus, belasan tahun kerja serabutan bahkan menggelandang tidur di emperan toko ataupun menumpang dari masjid ke masjid. Sobrin tidak mempunyai kenalan atau saudarapun disini, sewaktu pertama menginjak bumi Batavia ini Sobrin hanya menggenggam 2 lembar rupiah bergambar smiling jendral dan pakaian, celana, ransel. Hanya itu yang ada pada diri Sobrin dan harga diri seorang pria yang pantang pulang sebelum berjaya.

Baca Juga:  Mimpi Buruk Han - Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

Cerita orang, hidup di ibukota mudah. Tinggal kerja dikit sudah dapat banyak tapi itu hanya jebakan ilusi bagi yang tidak mempunyai akal. Sobrin sudah memberikan tenaga 110 persen tapi tetap saja cap tunawisma masih melekat di kulitnya yang hitam gosong tersengat terik matahari. Diantara rasa malu dan penyesalan larut jadi satu dalam benak Sobrin, keinginan mengakhiri hidup di ujung ubun-ubun terasa hambar. Mau mati tak mau, hidup pun tak rela. Sobrin merasa jadi beban dari ribuan rakyat republik ini yang dibangun dengn darah tetesan airmata para pendiri. Ia merasa tak ada gunanya, tak bermanfaat bagi keluarga atau negara yang memberinya sesuap nasi setiap hari biarpun ala kadarnya.

Beban itu harus diloloskan dari selongsongan tubuh ini.

***

Seseorang jika kosong melompong gampang untuk dijejali berbagai pikiran-pikiran diluar nalar, gendam jadi alat yang mampu untuk memperalat. Beberapa hari dari ini, Sobrin pernah didatangi gerombolan berbaju serba panjang dan bercelana cingkrang diatas lutut. Mereka bermata tajam, berjidat hitam dan mulutnya terasa beroma gaharu setiap kali berbicara.

“Maukah kau besok ditemani bidadari-bidadari cantik?”

“Disana kau akan didirikan rumah mewah nan megah”

“Kau tak akan merasa bosan dan lelah”

“Kami ada tiket kilat kesana”

Sobrin hanya melongo mendengar perkataan mereka dan di dalam otaknya terus meracau. Mereka memberikan sebuah pengharapan yang mustahil dan semua manusia menginginkannya. Jika memang ada surga atau neraka disana, apakah manusia tetap menyembah-Nya?. Berdosa atau tidak, manusia tetap membawa fitrah-nya masing-masing.

Mereka datang tiap hari bahkan minggu sampai berbulan, layaknya pemburu mengejar buruannya tak akan dilepaskan. Sobrin adalah sasaran empuk baginya, brain wash masa modern. Lidah itu senjata yang berbahaya, kata-kata itu bagaikan pisau bermata dua. Sobrin bak dicocok hidungnya, menjelma seekor kerbau yang manut untuk membajak sawah.

Mereka hanya meninggalkan sebuah ransel dan secarik kertas baginya.

***

Sewindu menjelang lebaran, Sobrin terlihat luntang-lantung bergerak kesana kemari tak tentu arah. Ada tanda tanya di raut muka yang kusam dan tirus itu, menyandang ransel yang sepertinya tak mau lepas dipundaknya. Terik panas melelehkan aspal jalan, berasap terasa di neraka dunia. Kondisi perut kelaparan bukan karena Sobrin puasa saaat ini atau belum sahur, ini semua karena memang tidak ada yang dibuat makan. Ia tak punya sepeser uang pun, bahkan untuk membeli sebotol air mineral.

Baca Juga:  Hantu Itu Berwajah Bapak

Di halte itu Sobrin duduk di bangku tak berbentuk sama sekali, hanya lonjoran besi berkarat berlubang. Pantatnya yang tepos itu bersentuhan tak jijik, pandangan kosong kedepan melihat lalu lalang manusia di trotoar itu. Jam telah berdetak dari pagi menjelang sore hampir waktunya berbuka. Bunyi perut melilit keroncongan, badannya terasa lemas.

Didalam pikiran yang begitu dalam ada keinginan untuk mudik ke kampung halaman atau melakukan apa yang mereka inginkan. Bagaikan buah simalakama di ujung tanduk, Sobrin ingin berguna dan bermanfaat dalam hidupnya. Matanya nanar tak bisa berpikir jernih, akal sehat tidak ada di otaknya terus dihantui racuan-racuan mereka. Badannya gemetar dan berpeluh keringat dingin mengucur deras di kening hingga lehernya. Sobrin tidak memperhatikan lalu lalang kerumunan orang sekitarnya, ia tidak bisa merasakan kehadiran mereka. Semua sama saja, orang-orang yang egois dalam hidupnya dan tak akan menolongnya sekalipun ia menderita. Tak terasa ada gemeretak gigi menahan geram, ingin caranya menghabisi mereka sekali melangkah.

“Bunuh..Bunuh!!”

“Rasain kalian !”

“Manusia munafik”

“Egois !”

Hati Sobrin meletup-letup untuk meledak,bara api ada didalamnya yang ingin membakar siapapun didekatnya. Matanya mencorong tajam menusuk, hawa napsu membunuh memenuhi ubun-ubunnya.

“Plaak!!”

Ada sentuhan keras di pundak membuat lamunan gila Sobrin dan menengok disamping ada seorang tua renta.

“Sudah waktunya berbuka anak muda”

Pria itu menyodorkan sebotol air mineral kepada Sobrin. Ia terhenyak kaget siapa orang tua ini dan tiba-tiba muncul tak diundang telah berada di sampingnya. Sobrin tak sadar bedug azan mahgrib telah sayup-sayup terdengar mulai menghilang ditelinganya.

“Sepertinya kau bukan dari sini anak muda?”

Sobrin tidak menjawab dan hanya menggeleng-geleng kepala, kerongkongan terasa kering dan ia pun menerima botol itu menenggak untuk menghapus kehausan yang pekat.

“Mau kemana kau anak muda?”

“Kulihat dari tadi kau sendirian dari tadi”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Sobrin hanya memperhatikan orang tua itu dari ujung rambut sampai bawah kaki. Tidak ada yang spesial dan terlihat kebanyakan pria tua, rambut penuh uban putih, kulit berkerut dan bercelana kolot bersandal jepit.

Baca Juga:  Percakapan di Taman dan Legenda Kupu-kupu

“Tiap manusia pasti punya masalah nak”

“Sesulit apapun itu harus kita hadapi”

“Hari esok kita tak pernah tahu”

Kata-kata itu mengalir dari orang tua renta itu, suara-suara bertaluh-taluh diotaknya membuyarkan angan tak kesampaian. Realita memang tak dipungkiri lebih menyakitkan, disanalah seseorang akan menjatuhkan harapan dan mimpinya. Menyerah berkalang tanah sebelum berperang. Sobrin hanya memandang langit, awan berarak-arak menuju senja diujung senja itu. Matanya tampak berbinar berkaca-kaca, terasa menyesakkan apa yang dikatakan orang tua ini. Sobrin terdiam sejenak tanpa seribu kata.

“Dhuuuaar !!”

Ada suara memekakkan telinga terdengar dari kejauhan, asap mengepul dan orang-orang berdatangan ke arah asal suara itu. Mereka merangsek untuk melihat kejadian dan penasaran apa yang terjadi. Lebaran masih jauh, apakah perayaan telah tiba? Atau kompor meleduk dari sebuah warteg.

Ramai-ramai gerombolan manusia itu menuju kesana dan menyaksikan tontonan gratis yang langka. Sebuah bangunan dipojok pertigaan itu yang dikenal gardu pos yang dihuni polisi patroli porak poranda, bergelimpangan tubuh manusia, serpihan kaca dan asap membumbung tinggi. Fenomena kejadian yang jarang-jarang terjadi di republik ini, sebuah ledakan ditengah kota, entah siapa yang perbuat. Mereka merasa sebuah nyawa tidak ada artinya, bermain-main dengan takdir kematian yang belum waktunya. Potongan-potongan tubuh berserakan, darah berceran menggenangi kaki-kaki manusia yang mengerumuni.

“Ah..ada orang bodoh yang ingin masuk surga rupanya”

Pria tua itu seloroh enteng sambil menyalakan rokok kreteknya dan menghisapnya dalam-dalam. Sobrin hanya menatap pria tua itu dan memegang erat tas ransel yang berisikan panci presto yang didalamnya terdapat paku, mur dan baut.

Surabaya, Juni 2017

Ferry Fansuri, kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler