Connect with us

Ekonomi

Isu Migas Bakal Jadi Batu Sandungan Jokowi di Debat Capres Edisi Kedua

Published

on

Pihak Asing kuasai 80 persen lahan migas Indonesia. Foto Istimewa

Pihak Asing kuasai 80 persen lahan migas Indonesia. (Foto Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ekonom dari AEPI Salamuddin Daeng mengatakan isu mafia migas akan menjadi batu sandungan bagi Joko Widodo dalam debat calon presiden edisi kedua pada 17 Februari 2019. Debat kali kedua ini mengangkat tema tentang energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup dan infrastruktur.

Seperti diketahui, salah satu komitmen presiden Jokowi dalam sektor migas adalah memberantas mafia migas. Mafia yang menggerogoti kekayaan migas Indonesia dan menggerogoti Badan Usaha Milik Negara, Pertamina dan menggerogoti uang rakyat yang terpaksa membayar BBM mahal.

Presiden Jokowi dan para pembantunya telah memetakan bahwa mafia migas yang dimaksud bersarang di Petral, anak perusahaan Pertamina yang ditugaskan untuk mengimpor minyak, baik minyak mentah maupun produk minyak dari luar negeri.

Baca juga: Transparansi Dampak Pembubaran Petral Terhadap Kinerja Pertamina

Baca juga: Menyoal Penghematan Pertamina Pasca Pembubaran Petral

Baca juga: Urgensi Klarifikasi Penghematan dan Hilangnya Mafia Migas di Pertamina Pasca Pembubaran Petral

Dalam perjalanannya pemerintah Jokowi benar-benar membubarkan Petral pada Mei 2015 silam, yang dianggap sarang mafia migas. Pemerintah mengatakan Pertamina akan berhemat 22 juta dolar per hari sebagai hasil pembubaran Petral.

“Nilai penghematan yang sangat besar mencapai Rp 114,8 triliun setahun pada tingkat kurs saat ini. Dengan asumsi harga minyak mentah sama, nilai tukar rupiah terhadap USD sama, dan harga jual minyak ke masyrakat sama,” ungkap Salamuddin Daeng, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

“Pada saat pernyataan penghematan ini disampaikan Mei 2015 harga minyak 62 dolar per barel,” tambahnya. Relatif stabil sampai dengan sat ini. Demikin juga Kurs saat itu senilai sekitar 13.500, dan bertahan sampai akhir 2017 dan sedikit melemah di tahun 2018. Sementara harga jual BBM ke masyrakat cenderung meningkat selama periode ini. Dengan demikian maka angka penghematan jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Baca Juga:  Hanafi Rais: Mabes TNI Harus Lakukan Investigasi

“Masyarakat begitu berharap penghematan yang begitu besar akan menghasilkan harga BBM murah untuk rakyat, namun hal tersebut tidak terjadi,” katanya.

Demikian juga keuntungan Pertamina akan bertambah akibat penghematan itu, namun ternyata hal itu tidak terwujud. “Malah yang terjadi sebaliknya, keuntungan Pertamina malah kian merosot sampai saat ini. Lembaga baru ISC buatan pemerintah malah ditenggarai menjadi sarang mafia baru yang lebih ganas,” urai Salamuddin.

Menurutnya, harapan yang tidak kalah pentingnya adalah Presiden Jokowi menangkap otak mafia migas dan menyeret gerbong mafia ini ke penjara atas segala kesalahan dan dosa-dosa mereka kepada bangsa Indonesia. Rakyat berharap mafia yang menyebabkan bangsa Indonesia menderita dan menyebabkan Pertamina menjadi lahan jarahan ini dibawa ke pengadilan, dihukum berat, sehingga di masa depan tak ada lagi mafia yang menggerogoti dan mencurangi bangsa ini.

“Harapan yang belum dapat diwujudkan Presiden sampai dengan hari ini. Masyarkat masih menunggu komitmen ini dilaksanakan secara tuntas,” sebutnya.

Dia menambahkan, semua sangat bergantung pada Presiden Jokowi, masih ada waktu untuk menjalankan semua tugas mulia tersebut.

“Masih ada waktu untuk menangkap gerbong mafia yang ditenggarai saat ini masih bersarang dalam tubuh BUMN migas. Sehingga nanti isu ini tidak menjadi batu sandungan dalam debat capres nanti. Presiden Jokowi nanti dengan enteng bisa menjawab; ‘Tuh Pak Pabowo, saya sudah tangkap mafia migasnya’,” ucap Salamuddin.

(eda/wbn)

Editor: Gendon Wibisono

Terpopuler