Connect with us

Politik

Isu 2019 Ganti Presiden dan TKA Sukses Gerus Elektabilitas Jokowi

Published

on

2019gantipresiden, tagar 2019 ganti presiden, ganti presiden, elektabilitas jokowi, keterpilihan jokowi, survei lsi, lsi denny ja, calon presiden, pilpres 2019

Tagar 2019 Ganti Presiden menggoyahkan elektabilitas Joko Widodo. (Foto: Ilustrasi/NusantaraNews)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Tagar 2019 Ganti Presiden (#2019GantiPresiden) dinilai berdampak buruk bagi potensi keterpilihan Joko Widodo pada Pilpres 2019 lantaran sangat populer di masyarakat kendati baru dimunculkan sekitar satu bulan.

Menurut survei LSI Denny JA, isu 2019 ganti presiden telah banyak diketahui publik. LSI mengajuka sebuah pertanyaan kepada reponden ‘Apakah ibu/bapak pernah mendengar isu #2019GantiPreisden?‘ Sebanyak 50,8 persen responden LSI menjawab pernah mendengarnya.

‘Apakah ibu/bapak suka atau tidak suka isu #2019GantiPresiden?’. Sebanyak 49,8 persen responden LSI menjawab suka (Ya).

“Jokowi semakin goyah karena Attacking Campaign tampaknya semakin massif dan terstuktur,” ujar LSI dalam hasil surveinya, Senin (14/5/2018).

Pengumpulan data survei LSI Denny JA ini dilakukan pada 28 April hingga 5 Mei 2018. Metode survei menggunakan multistage random sampling. Jumlah responden sebanyak 1200, wawancara tatap muka menggunakan kuesioner dan margin of error sekitar 2,9 persen.

Namun, LSI menyebut Joko Widodo masih yang terkuat karena elektabilitasnya cukup tinggi dibandingkan sosok lainnya. “Namun elektabilitas Jokowi masih dibawah 50 %. Dan elektabilitas semua tokoh jika digabung hanya terpaut tipis dengan elektabilitas Jokowi,” kata LSI.

Kendati elektabilitas Jokowi masih unggul, LSI menemukan setidaknya ada lima alasan Jokowi semakin goyah. Pertama, alasan #2019GantiPresiden (50%). Kedua, alasan isu tenaga kerja asing (TKA) yang sangat tidak disukai masyarakat (76,60% tidak setuju TKA). Ketiga, alasan akarnya adalah ketidakpuasan ekonomi, terutama lapangan kerja (54,30% tidak puas). Keempat, isu Islam politik di mana responden menginginkan agama dan politik adalah satu kesatuan, tidak bisa dipisahkan (47,80%), serta isu Islam politik di mana Jokowi disebut LSI menang telak di segmen pro Islam dan politik harus dipisah tetapi disegmen Islam dan politik tidak boleh dipisahkan Jokowi kalah.

Loading...

Isu terakhir ini memang sempat mencuat ke permukaan lantaran dalam suatu kesempatan Jokowi meminta agama dan politik harus benar-benar dipisahkan. Namun, pernyataan tersebut kemudian diperbaharuinya.

Sedangkan poin kelima ialah alasan yang menilai Jokowi kuat dan menang di bawah 50 persen. ‘Menurut Ibu/Bapak, jika pada Pilpres 2019 Joko Widodo menjadi Calon Presiden, apakah Joko Widodo (Jokowi) bisa dikalahkan oleh kompetitornya?‘ Sebanyak 28,00 persen responden menjawab Ya, Jokowi bisa dikalahkan, 32,30 persen menjawab Tidak, Jokowi akan menang dan 39,70 persen menjawab Tidak Tahu.

“Publik yang percaya bahwa Jokowi tak bisa dikalahkan dengan publik yang percaya bahwa Jokowi bisa dikalahkan hanya terpaut tipis,” katanya. (red/nn)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler