Israel Melakukan Latihan Militer Terbesar Untuk Mengalahkan Hizbullah

NUSANTARANEWS.CO – Pasukan Pertahanan Israel telah memulai latihan militer terbesar dalam beberapa dekade terakhir untuk mengalahkan militer Hizbullah di Lebanon. Latihan perang dengan sandi “the Light of Grain tersebut rencananya akan digelar selama sepuluh hari ke depan, kata Rezim Zionis Israel, seperti dilansir sputnik. Tel Aviv mengklaim bahwa tujuan latihan militer tersebut adalah untuk memperkuat kesiapan pasukan guna menghadapi serangan musuh (Hizbullah).

Puluhan ribu personel IDF (Israel Defense Forces) dikerahkan dalam simulasi perang terbesar Israel sejak tahun 1998, termasuk personel cadangan tim SAR yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam latihan perang tersebut, IDF akan melakukan simulasi menanggapi invasi oleh pasukan musuh di Israel utara yang membutuhkan manuver cepat kekuatan udara, darat, laut serta intelijen. Salah satu skenario adalah menghadapi invasi musuh dari Laut Mediterania saat pasukan Hizbullah melancarkan serangan di Dataran Tinggi Golan. Sedangkan simulasi lainnya adalah invasi Israel ke Lebanon untuk menghancurkan kekuatan militer Hizbullah.

Baca: Membaca Konflik Timur Tengah Mutakhir

Dalam latihan perang tersebut, juga mencakup misi mengevakuasi warga Israel dari garis depan medan pertempuran yang disebut sebagai operasi “Safe Distance”.

Simulasi perang yang dilancarkan IDF dalam latihan ini, dimaksudkan juga untuk mengatasi kegagalan operasi intelijen dan komunikasi yang dialami militer Israel selama Perang Lebanon Kedua tahun 2006 – dimana pasukan Israel harus kehilangan 120 lebih tentaranya dalam perang yang berlangsung selama 33 hari. Dengan korban yang begitu besar di mata Israel itu, IDF pun segera mundur dari Lebanon.

Israel tidak pernah menduga bahwa militer Hizbullah telah mengalami kemajuan pesat dalam mengimbangi kekuatan militernya. Bayangan Israel bahwa mereka bisa memperlakukan Lebanon seperti dalam perang tahun 1982, dimana hanya dalam waktu beberapa hari saja bisa menduduki separuh wilayah Lebanon, mengepung Beirut, dan memaksa pemerintah Lebanon menandatangani perjanjian damai yang menguntungkan Israel, kini hanya tinggal kenangan. Padahal selama ini, menyerang Palestina atau Lebanon hanyalah sebuah permainan untuk mengalihkan persoalan politik dalam negeri mereka.

Baca Juga:  Penyebaran Kanker di Kaltara Mengkhawatirkan, PKK Lakukan Kampanye Deteksi Dini

Kenangan kekalahan dalam perang Lebanon 2006, serta dua kali serangan udara IDF baru-baru ini terhadap Hizbullah pada bulan Mei lalu, telah memicu kekhawatiran Tel Aviv bahwa mereka akan mendapatkan serangan balasan dari militer Hizbullah.

Baca: Akankah Israel Menjadi Lone Wolf di Timur Tengah

Kekhawatiran Israel bukan tanpa alasan, bila melihat sejak awal konflik Suriah, Israel yang merasa memegang kendali, khususnya di wilayah Barat Daya Suriah – dengan mendukung kelompok-kelompok perlawan bersenjata – ternyata mengalami kegagalan karena tidak mendapat dukungan dari Washington, sehingga Israel frustasi. Apalagi setelah bertahun-tahun melakukan lobi, ditolak oleh Presiden Obama, dan kini gagal memperoleh dukungan dari Presiden Trump – sehingga Israel kini terpaksa berusaha mengembangkan strategi geopolitiknya sendiri.

Belum lagi dengan situasi mutakhir di Suriah, di mana sejumlah besar pasukan Hizbullah terlibat dalam perang mendukung pemerintahan presiden Bashar al-Ashad. Hal ini telah membuat semakin gerah pemerintah Israel yang selama ini secara terang-terangan telah membantu kelompok-kelompok bersenjata anti Presiden Ashad.

Di sisi lain, saat ini kemampuan militer Suriah sendiri pun telah meningkat dengan bantuan persentaan modern dari Rusia, terutama dengan sistem pertahanan udara terpadu S-400 yang mampu mendeteksi pesawat tempur Israel dalam jarak 400 kilometer, termasuk menembaknya jika memang diperlukan. (Banyu)

Baca juga: