The Washington Post | Plato's Guns
Islamohopia dan Kebebasan Berpendapat (Ilustrasi). Dok, The Washington Post | Plato's Guns

NusantaraNews.co, Jakarta – Kondisi Indonesia dewasa ini ditengarai tengah didera Islamophobia kembali. Dimala suasana yang sama telah sempat terjadi di awal-awal kelahiran orde baru (Orba). Pendapat ini dikemukakan oleh salah seorang Pengamat Intelijen, Pertahanan dan Keamanan, Suripto namanya.

Menurut dia, menyebarnya Islamophobia di Indonesia beberapa waktu terakhir ini setidaknya karena 2 (dua) faktor utama.

Pertama, sebut Suripto, karena di pusat pengambilan keputusan saat ini masih banyak anasir-anasir Orba dan pendukung Nasakom Orde Lama (Orla). Mereka turut mempengaruhi kebijakan-kebijakan negara bahkan merajalela menyebarkan semangat Nasakom ala Orla dan Anti Islam ala Orba.

Baca: Pengamat Intelijen Sebut Indonesia Butuh Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

“Saya tidak perlu sebutkan nama-namanya, tetapi lihat saja tindakan dan ucapan-ucapan mereka,” tukas Suripto.

Kedua, lanjutnya, adalah faktor Asing. Sehingga kita tidak bisa berdaulat lagi, yaitu Zionisme sebagai kekuatan barat dan Komunisme sebagai kekuatan timur.

“Komunisme memang secara organisasi sudah bubar tetapi masih eksis di Cina Daratan. Deng Xiao Ping mencetuskan “One State Two Systems sehingga saat ini di Cina terdapat 2 system dalam pemerintahan yaitu sistem komunis dalam masalah politik dan sistem kapitalis dalam masalah ekonomi. Kapitalisme dan komunisme ternyata bisa berdampingan,” jelasnya.

Bagi Suripto, melihat dua hal di atas saat ini ummat Islam harus lebih waspada karena operasionalisasi dari kebijakan-kebijakan mereka bisa lebih pedas daripada yang digariskan.

“Operasionalisasi dari kebijakan yang anti Islam bisa lebih kejam daripada garis kebijakan yang dibuat di tempat asalnya,” tegas Suripto di hadapan hadapan ulama, tokoh dan aktifis Islam Tanah Abang akhir pekan lalu.

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman

Komentar