Connect with us

Khazanah

Islam Lokal, Puritanisme Agama dan Kapitalisme

Published

on

Budayawan Indonesia, Zastrouw Al Ngatawi. Foto: Dok. Lesbumi

“Kebaragamaan yang puritan, simbolik dan formal paling rentan ditunggangi dan dimanfaatkan kapitalisme. Demikian sebaliknya, sikap keberagamaan yang kultural dan tradisional, yang lebih menekankan aspek substansial akan lebih sulit dimasuki kapitalisme.”

Ada tradisi unik di kalangan masyarakat Gowa, Sulawesi Selatan. Tradisi tersebut adalah berhaji di puncak Gunung Bawakaraeng. Tradisi ini dilaksanakan bertepatan dengan perayaan Idul Adha pada 10 sd 13 Dzulhijjah. Orang-orang yang datang ke gunung Bawakareang kemudian melaksanakan shalat dan berkurban di tempat tersebut maka dianggap sudah seperti melaksanakan ibadah haji.

Dalam tesis Mustaqim Pabajjah (2010) yang berjudul “Medan Kontestasi Masyarakat Lokal: Kajian Terhadap Keberadaan Komunitas Haji Bawakaraeng di Sulsel” disebutkan bahwa tradisi haji Bawakaraeng merupakan bentuk perlawanan terhadap agama resmi (Islam) yang dominan. Karena menurut Mustaqim, tradisi ini sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke daerah Gowa.

Dalam kata lain Mustaqim menyebut bahwa tradisi haji Bawakaraeng merupakan bentuk adaptasi tradisi lokal terhadap ritual Islam (Haji). Ini dibuktikan dengan adanya asumsi di kalangan masyarakat pelaku tradisi tersebut bahwa kehajian mereka sudah diwakili oleh syech Yusuf al-Makassari, seorang ulama besar penyebar Islam di kawasan Sulawesi Selatan. Asumsi ini membuktikan bahwa para pelaku tradisi tersebut adalah kaum muslimin karena percaya pada ulama dan mau melaksanakan ibadah haji sebagai rukun Islam

Berdasar data penelitian Mustaqim ini bisa dilihat sebenarnya tradisi ini lebih tepat disebut sebagai adaptasi dan resistensi kultural yang membentuk affinitas budaya antara tradisi lokal dengan ritual Islam (haji). Ini bisa terjadi karena kearifan dan kecerdasan para ulama penyebar Islam yang mampu membaca dan menangkap realitas sosial dengan konstruksi tradisi yang berlaku di daerah tersebut.

Baca Juga:  Muhasabah kebangsaan: Obral Surga dengan Teologi Kebencian
Loading...

Para ulama pada saat itu tidak memberangus tradisi yang sudah ada tetapi menjadikannya sebagai sarana (wasilah) dan metode (manhaj) dalam menyejabarkan dan mengajarkan Islam. Metode ini sama dengan proses menetapan ritual haji yang juga berasal dari tradisi jahiliyah yang sudah ada sebelumnya kemudian diadopsi menjadi bagian dari ritual Islam.

Pada saat itu, hampir mustahil orang pegunungan yang berada di pedalaman Sulsel bisa naik haji, karena keterbatasan sarana dan prasarana. Atas kondisi yang demikian maka untuk menjaga perasaan dan spirit keimanan orang-orang Islam, para ulama berpendapat bahwa ibadah shalat dan qurban yang dilakukan di Bawakaraeng pada hari Idul Adha sudah sama dengan ibadah haji. Ini dilakukan agar ummat Islam di sana merasa sudah menjadi Islam yang sempurna karena sudah melaksanakan rukun Islam yang lima.

Apa yang dilakukan oleh para penyebar Islam di Gowa ini bukan untuk mengubah ajaran Islam, tetapi sebagai bentuk strategi budaya yang kreatif dan efektif. Melalui strategi ini para ulama berhasil memberikan solusi kreatif atas hambatan pelaksanaan ibadah haji karena keterbatasan sarana dan prasarana.

Pengakuan bahwa ibadah di Bawakaraeng sama dengan ibadah haji ini lebih bersifat substantif spiritual, bukan bersifat legal formal. Kejadian ini sama persis dengan kisah orang yang mau berangkat haji tapi batal karena biaya naik hajinya diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Meski secara ritual formal dan fisik orang yersebut gagal pergi haji tapi tetap saja dianggap sudah melaksanakan ibadah haji. Artinya apa yang dilakukan orang yersebut sama dengan ibadah haji. Jelas di sini terlihat Tak ada ajaran dan ritual Islam yang diubah melalui tradisi ini, karena secara formal para ulama tetap mengakui pelaksanaan ritual haji di Makkah.

Baca Juga:  Kathok Kecil Kekecilan, Kathok Gedhe Kegedean

Tradisi haji Bawakaraeng ini merupakan bentuk dari Islam lokal. Yaitu ekspresi keislaman melalui tradisi dan budaya lokal yang khas. Suatu proses dialog antara Islam dengan tradisi lokal yang kreatif dan cerdas. Melalui strategi ini ajaran Islam bisa diterima dan dipahami secara mudah serta diamalkan dengan penuh suka cita sehingga Islam yang shoheh fi kulli zamaanin wa makanin benar-benar bisa diwujudkan dan dijalankan secara nyata. Inilah kehebatan ulama masa lalu yang mampu menyebarkan Islam dengan penuh hikmah, tanpa menimbulkan kegaduhan, ketakutan dan kebencian pada kelompok lain.

Sayangnya cara pandang yang penuh kearifan ini tidak dipahami konteks dan maknanya oleh kaum puritan yang sudah terjebak pada simbolisme dan formalisme agama. Akibatnya mereka dengan gampang menganggap tradisi ini sebagai bentuk penyimpangan ajaran Islam dan menuduhnya sebagai ajaran sesat.

Ini merupakan bentuk arogansi iman dan egoisme beragama. Karena merasa Imannya sdh kuat dan pemahaman agamanya yang paling benar maka mereka menista pemahaman orang lain dengan cara memberangus tradisi dan budaya lokal yang sebenarnya merupakan ekapresi religiusitas keislaman.

Pahaman keislaman yang simbolik formal tekstual yang modern dan anti tradisi ini tidak saja bisa menggerus tradisi lokal tetapi juga rentan tergelincir dalam ideologi kapitalisme. Ketika kesalehan hanya diukur dari model pakaian dan tampilan fisik, ketika ajaran agama hanya diukur dengan ritual formal maka akan memunculkan berbagai peluang bisnis yang bisa mendatangkan keuntungan material.

Misalnya, dengan adanya standarisasi jilbab syar”i yang lebih banyak memerlukan kain dari pada jilbab biasa, berapa keuntungan dunia fashion dg munculnya issu tersebut. Ketika pergi haji dan umrah menjadi yang faktual dan fisik menjadi trend unt mengukur kesalehan, maka banyak bermunculan biro travel dan hotel untuk memenuhi kebutuhan beribadah haji dan umrah.

Baca Juga:  Muhasabah Kebangsaan: Agama, Istri dan Simbol Harga Diri

Saat ini muncul berbagai bentuk industri religi untuk memenuhi kebutuhan ritual ibadah formal simbolik umat beragama yang banyak mendatangkan keuntungan material. Dan rata-rata bisnis tersebut dikuasai oleh kaum kapitalis.

Dari sini terlihat bahwa kebaragamaan yang puritan, simbolik dan formal paling rentan ditunggangi dan dimanfaatkan kapitalisme. Demikian sebaliknya, sikap keberagamaan yang kultural dan tradisional, yang lebih menekankan aspek substansial akan lebih sulit dimasuki kapitalisme. Atas dasar ini bisa dipahami kalau puritanisme dan kapitalisme berupaya melindas berbagai bentuk tradisi Islam lokal karena dianggap menggangu kepentingan masing-masing.

Menghadapi arogansi kalitalisme yang rakus dan kuatnya tarikan puritanisme dan formalisme agama yang bisa mempersempit dan mendangkalkan spirit keislaman ada baiknya kita kembali melihat berbagai bentuk ekspresi Islam lokal. Karena di sana tidak hanya menyediakan kearifan yang melimpah tetapi juga merupakan sumber mata air peradaban yang bisa membuat agama menjadi indah dan membahagiakan bagi siapa saja.

*Al-Zastrouw, (Zastrouw Al Ngatawi), penulis merupakan budayawan Indonesia. Pernah menjadi ajudan pribadi Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid. Juga mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU periode 2004-2009.

Loading...

Terpopuler