Connect with us

Esai

Islam dan Riwayat Mesin Cetak

Published

on

Islam dan Riwayat Mesin Cetak

Islam dan Riwayat Mesin Cetak. (Foto: IST)

Islam dan Riwayat Mesin Cetak

Oleh: Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

Sebelum zaman kemerdekaan RI, debat-debat tentang akhir zaman seringkali dilontarkan oleh tokoh-tokoh muslim pada masa itu. Sebagian tokoh ikut berbaris bersama Soekarno-Hatta, konsisten memperjuangkan kemerdekaan RI dari belenggu penjajahan. Tapi sebagian lain justru sibuk dengan kitab-kitab kuningnya, sambil berteriak-teriak bahwa “pintu ijtihad sudah ditutup”. Konsekuensinya, segala aturan hidup seakan sudah termaktub dalam teks-teks agama, sudah baku, statis, dan segala penafsiran apapun dari manusia yang coba-coba punya interpretasi tentang kitab suci adalah batil dan bid’ah.

Dalam literatur sejarah kita mengenal bagaimana pihak Belanda mengapresiasi kehidupan beragama di daerah Jawa Barat. Sehingga ketika kaum muslimin sibuk beritikaf di masjid-masjid Cirebon, menjalankan praktek-praktek ritual (maraknya aliran tarekat), justru Belanda memberikan ultimatum dengan menyatakan dukungannya. Muncullah permainan semantik dari pihak Belanda, bahwa masjid cukup dijadikan sarana ibadah, bukan kegiatan macam-macam. Lalu, ketika sebagian kaum muda memanfaatkan masjid untuk kegiatan dialog demi penegakan keadilan, dibuatlah istilah “langgar” oleh mereka. Menentang pendudukan Belanda, berarti suatu “pelanggaran”.

Kemudian pada perjalanannya, ketika Soekarno-Hatta – yang sama-sama pernah mengenyam pendidikan Belanda – menuntut keadilan dan kemerdekaan, mereka pun serta-merta dijuluki “Gerakan Pengaco Keamanan” (GPK), suatu akronim yang pada awalnya diciptakan Belanda, kemudian dilanjutkan oleh Presiden Orde Baru, Soeharto, sosok yang pernah terdaftar sebagai anggota KNIL (tentara bayaran Belanda).

Terbukanya Pintu Ijtihad

Di sini saya akan kemukakan ceramah Soekarno (tanpa teks), yang pada tanggal 17 Desember 1965 masih sempat mengumpulkan pemuda dan mahasiswa HMI di Istana Negara, Bogor. Saya tidak perlu banyak mengedit, sehingga masih sesuai dengan konteks perkembangan bahasa Indonesia pada masanya. Dalam ceramah ini, Soekarno sebagai perintis dan pendiri RI, dengan lugas menyatakan:

Baca Juga:  Kompetensi Bank Mandiri di Antara Bank Korporasi dan Penyalur KUR

“Saya bisa membanggakan diri dengan mengucap syukur alhamdulillah bahwa sayalah yang dipandang paling pertama mengetuk pintu ijtihad di negeri ini. Pintu ijtihad itu sebenarnya ialah pintu pemeriksaan, pintu penyelidikan, pintu analisis, kebebasan berpikir. Sekali lagi saya nyatakan bahwa kita harus membuka pintu ijtihad, babul ijtihad, kita buka bagi setiap manusia, setiap umat Islam, supaya kita bisa menciptakan kemakmuran yang sebesar-besarnya. Sekarang saya tegaskan kepada mahasiswa-mahasiswi Islam, agar kalian berani memasuki pintu ijtihad sedalam-dalamnya. Pintu yang sekarang ini terbuka untuk mencari api Islam, untuk menggali api Islam yang sesungguhnya. Hasil penyelidikan ulama-ulama terdahulu harus kita gali kembali, selanjutnya kita gali pula apa sebabnya Islam bisa membawa umat manusia ke tingkat setinggi-tingginya dari keutamaan dan kemanusiaan. Oleh karena itu saya minta kepada kalian semua, bahwa dalam memasuki pintu ijtihad itu janganlah hanya ‘mengijtihadi’ hukum-hukum fiqih saja, tetapi ijtihadilah ‘tarikh Islam’, ijtihadilah ‘sejarah Islam’. Inilah yang kadang-kadang dilupakan. Kita tahu bahwa dalam sejarahnya Islam pernah menunjukkan dan menduduki tempat yang sangat tinggi, yang sangat agung. Oleh karena itu ijtihadilah sejarahnya dengan baik, apa sebabnya Islam bisa naik, dan apa sebabnya pernah mengalami masa-masa surut. Ini penting sekali saudara-saudara. Dan saya pun sering mengutip pernyataan Thomas Carlyle: ‘Pelajarilah sejarah agar kita menjadi bijaksana lebih dulu’. Sekali lagi wahai pemuda-pemudi Islam yang semuanya ingin menjadi kader-kader revolusi Indonesia. Ijtihadilah sejarah Islam, apa sebabnya Islam pernah menduduki puncak yang setinggi-tingginya dari peradaban umat manusia. Salah satu penyebab downfall-nya Islam ialah dengan tertutupnya pintu ijtihad itu. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh muka bumi ini. Sekarang yang perlu diperdalam adalah bagaimana kita bisa membawa masyarakat Islam di Indonesia kepada taraf yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri. Nah, di sinilah banyaknya masyarakat kita belum mengenal betul ajaran Islam itu dengan baik.”

Baca Juga:  Kasus Rasisme Papua, Amsori: Mari Sama-sama Mempersatukan Bangsa

Sejarah Mesin Cetak di Indonesia

Pidato pada momen-momen terakhir pemerintahan Soekarno di hadapan generasi muda itu dilarang untuk dicetak ketika pemerintah Orde Baru berkuasa. Akan tetapi muncullah siaran-siaran radio yang mengumandangkan bahwa Soekarno, pemimpin besar revolusi sedang “diamankan”. Banyak pengakuan dari kalangan pemuda dan mahasiswa pada tahun-tahun itu, mereka miskin literasi, minim bacaan, padahal mesin cetak sudah ditemukan oleh Guttenberg sejak tahun 1440 lalu. Pada fase ini, peringatan bapak bangsa bahwa “revolusi belum selesai” tidak lagi diindahkan, tetapi penguasa Orde Baru memilih pernyataan yang memihak bahwa “revolusi sudah selesai”.

Kucuran-kucuran dana dari negeri-negeri imperialis untuk perjalanan “progres kebudayaan Indonesia” kini sulit untuk dibantah. Karena sudah begitu banyak bukti akurat yang menunjukkan hal tersebut. Pemerintah Amerika, melalui dominasi CIA sangat berperan dalam pemberian bantuan dana agar jaminan kapitalisme mereka terpenuhi. Bagi mereka, tak peduli siapakah yang bakal memimpin Indonesia pasca Soekarno. Seorang nasionalis, tokoh agama, maupun sosialis. Yang jelas mereka mau sepakat kerjasama untuk kepentingan budaya, politik, dan ekonomi mereka.

Tapi yang sudah pasti bagi mereka adalah Soekarno, berikut para menteri, dan para pendukungnya berada dalam posisi yang berseberangan dengan kehendak mereka. Karena itu, pemikiran dan karya-karya besar mereka tidak berhak untuk dicetak dan dipublikasikan bagi generasi muda Indonesia.

Kita bisa bayangkan pada abad-abad pertama ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg. Kalangan agamawan (elite gereja) dibuat kalang kabut oleh penemuan yang menakjubkan itu.

Terjemahan Injil berikut penafsirannya sudah bukan rahasia lagi, karena dulu hanya boleh diakses oleh kaum padri (pendeta). Terjemahan Luther (Jerman) mudah didapat oleh kalangan awam sekalipun. Padahal, sebelum penemuan mesin cetak, kitab suci hanya boleh ditulis dengan bahasa Latin, yang merupakan bahasa kudus bagi orang-orang Eropa.

Baca Juga:  Jepang Kerahkan 32.000 Polisi Untuk Mengamankan KTT G20 di Osaka

Penafsiran kitab suci dalam bentuk sastra dan filsafat terus merebak dalam skala massal. Konsep “hermeneutika” dalam filsafat dianggap sebagai tindakan subversif oleh kalangan gereja. Inilah awal-mula munculnya “Protestan”, dan maraknya pencetakan kitab suci beribu-ribu eksemplar. Hingga membuat kalangan gereja kocar-kacir, lantas berteriak lantang bahwa: “Dunia ini sudah mau kiamat!”

Semakin mengucilkan diri dalam biara-biara adalah pilihan bagi mereka, laiknya orang-orang yang membuat bunker-bunker untuk menghindar dari tsunami, gunung meletus, maupun angin puting beliung. Sementara, di kalangan para pemikir dan intelektual muslim, demi untuk mengejar ketertinggalan masa kolonialisme, buku-buku segera dicetak sebanyak mungkin, sebagai sarana dan metode dakwah Islam.

Ribuan tafsir-tafsir Alquran, hingga sejarah hidup Nabi, dapat mudah diakses secara luas. Tafsir Alquran pertama ditulis dalam bahasa Melayu oleh Abdul Rauf Fansuri (Aceh), kemudian dicetak dan dijadikan rujukan oleh para ulama-ulama mufassir hingga memasuki abad ke-19. Tafsir itu lantas diterbitkan di Singapura hingga memasuki abad ke-20, kemudian di Penang, Bombay, Istanbul, Kairo hingga Mekah.

Kini sejarah hidup Rasulullah Saw, dapat pula kita akses dari berbagai versi dan sudut-pandang. Berkat penemuan Guttenberg itu, kemudian berkembang ke era revolusi digital saat ini. Sama halnya dengan penemuan lampu pijar oleh Thomas Alva Edison, yang kemudian bisa menerangi dunia. Di zaman degradasi moral dan hiruk-pikuk “virus corona” akhir-akhir ini, Anda bisa berpendapat jika kemajuan teknologi dianggap sebagai “malapetaka”. Tapi saya akan memilih berada di barisan orang-orang yang bersyukur, dan tidak akan kufur nikmat. Insya Allah.

Loading...

Terpopuler