Iran: AS Sumber Instabilitas Timur Tengah

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khemenei/Reuters

NUSANTARANEWS.CO, Teheran – Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengkritik keras sikap Amerika Serikat terkait konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya perselisihan terbaru di negara-negara Teluk.

Arab Saudi baru saja memutus hubungan diplomatik dengan Qatar. UEA, Bahrain dan Mesir diketahui juga membuat kebijakan serupa. Negara-negara tersebut menuding Qatar sebagai negara yang mendukung terorisme, terutama dalam hal pendanaan.

“Anda (Amerika Serikat) dan agen (sekutu) anda adalah sumber ketidakstabilan di Timur Tengah. Yang menciptakan ISIS? Amerika. Klaim Amerika untuk memerangi ISIS adalah sebuah kebohongan,” kata Khamenei dalam sebuah pertemuan dengan para petinggi Iran seperti dikutip Reuters.

Iran dan Amerika Serikat memutus hubungan diplomatik sejak revolusi Islam 1979 di Iran. Permusuhan Iran terhadap Washington telah berlangsung lama.

Ini bukan kali pertama Khamenei mencerca Amerika. Sikap Iran itu juga membuat Donald Trump gerah dan berulang kali berbicara dengan suara keras saat mengkritik Iran.

Kini, Khamenei menuding Amerika Serikat dan sekutu regionalnya Arab Saudi mendanai militan garis keras Sunni, termasuk ISIS yang melakukan serangan pertamanya di Iran pada Rabu di Teheran yang menewaskan sedikitnya 17 orang.

Tetapi Riyadh membantah terlibat dalam bom bunuh diri dan serangan senjata terhadap parlemen Iran dan makam pendiri Republik Islam iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Namun, presiden Iran Hassan Rouhani yang ingin membuka diri terhadap dunia juga ikut mengutuk serangan tersebut. Tetapi dia tidak menuding negara mana pun di balik aksi teror mematikan itu.

Rouhani bahkan disebut-sebut tengah memperjuangkan kesepakatan nuklir dengan AS dan lima kesepakatan lainnya pada 2015 silam. Hal ini membuat AS mencabut sanksinya terhadap iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklir Iran.

Baca Juga:  Mahathir Mohamad Mengutuk Sanksi AS Terhadap Iran

Hanya saja, kesepakatan itu bukan berarti hubungan AS-Iran normal seperti yang diharapkan Rouhani. Trump sendiri masih ingin mengoreksi perjanjian tersebut karena dinilainya tidak memuaskan.

Sementara di satu sisi Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak berniat menormalisasi hubungan dengan Amerika Serikat.

“Pemerintah Amerika menentang Iran yang independen. Mereka memiliki masalah dengan keberadaan Republik Islam Iran. Sebagian besar masalah kita dengan mereka tidak dapat dipecahkan,” kata kantor berita Fars News Agency.

“Amerika adalah negara teroris dan mendukung terorisme. Oleh karena itu, kita tidak bisa menormalisasi hubungan dengan negara tersebut,” katanya. (ed)

Editor: Eriec Dieda