Connect with us

Mancanegara

Iran: AS Bisa Batalkan Perjanjian Denuklirisasi Semenanjung Korea Kapan Pun

Published

on

Iran- AS Bisa Batalkan Perjanjian Denuklirisasi Semenanjung Korea Kapan Pun

Iran- AS Bisa Batalkan Perjanjian Denuklirisasi Semenanjung Korea Kapan Pun

NUSANTARANEWS.CO – Iran memperingatkan Korea Utara bahwa Amerika Serikat (AS) bisa batalkan perjanjian denuklirisasi Semenanjung Korea kapan pun. Pada konferensi pers bersama setelah pembicaran trilateral, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menekankan tidak akan ada pencabutan sanksi bagi Korea Utara sebelum negara itu melakukan denuklirisasi sepenuhnya.

Pompeo menyatakan bahwa sebelumnya bantuan ekonomi pernah diberikan kepada Korea Utara sebelum denuklirisasi seutuhnya. Namun, ia menekankan bahwa kali ini pencabutan sanksi ekonomi tidak akan dilakukan hingga denuklirisasi sepenuhnya tercapai.

Ia menambahkan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memahami bahwa denuklirisasi harus dilakukan secepatnya.

Terkait komitmen kesepakatan denuklirisasi Semenanjung Korea, Iran memperingatkan Kim Jong-un untuk berhati-hati saat berurusan dengan Presiden Donald Trump yang dianggap dapat membatalkan perjanjian denuklirisasi antara Korea Utara dan AS kapan pun.

“Kami tidak tahu tipe orang yang bernegosiasi dengan pemimpin Korea Utara. Tidak jelas apakah dia tidak akan membatalkan perjanjian itu sebelum pulang,” ujar juru bicara pemerintahan Iran, Mohammad Bagher Nobakht, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Pernyataan ini dilontarkan untuk menanggapi kesepakatan hasil pertemuan puncak antara Kim dan Trump di Singapura pada Selasa (12/6).

Salah satu poin penting dari perjanjian itu adalah kedua negara sepakat untuk mewujudkan denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea.

Loading...

Iran yang meneken perjanjian mengenai penghentian program senjata nuklir mereka dengan AS di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama, dan sejumlah negara lainnya – namun dengan enteng, Trump membatalkan perjanjian itu pada Mei lalu karena menganggap isinya tidak terkait langsung dengan program rudal balistik Iran – yang menjadi alasan Trump untuk membuat perjanjian baru atau mengundurkan diri dari perjanjian multilateral tersebut.

Negara lain yang ikut menandatangani perjanjian tersebut, seperti Inggris, Cina, Perancis, Jerman, dan Rusia, mengkritik AS dan tetap berupaya untuk mempertahankan kesepakatan.

Selain perjanjian nuklir Iran, Trump baru-baru ini juga menarik dukungannya dari pernyataan bersama para pemimpin negara di akhir konferensi tingkat tinggi G7 hanya berselang sehari sebelum pertemuan dengan Kim. (Aya)

Terpopuler