Connect with us

Hankam

Irak Ingin Segera Miliki Sistem Pertahanan Canggih S-400 Rusia

Published

on

Irak Ingin Segera Miliki Sistem Pertahanan Canggih S-400

Irak Ingin Segera Miliki Sistem Pertahanan Canggih S-400. Ilustrasi S-400 Rusia.

NUSANTARANEWS.CO – Irak ingin segera miliki system pertahanan canggih S-400. Para pejabat Irak sangat prihatin dengan terjadinya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di wilayah kedaulatannya – sementara mereka hanya duduk menjadi penonton. Terutama ketika drone MQ-9 Reaper AS melakukan serangan terbuka di siang bolong terhadap petinggi militer Iran Jenderal Suleimani dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis di sekitar bandara Baghdad tanpa pemberitahuan sebelumnya. Serangan AS ini jelas merupakan sebuah pelecehan terhadap integritas Baghdad di dunia internasional.

Dengan kata lain, rakyat Irak baru menyadari bahwa kedaulatan mereka sebagai sebuah negara independen kini “hilang” – ditambah lagi dengan lemahnya sistem pertahanan udara mereka sehingga tak mampu mendeteksi kehadiran drone “pembunuh” di ibu kota mereka yang dikerahkan oleh Gedung Putih.

Setelah pertempuran singkat antara AS-Iran di teritorial Irak, terjadi dinamika politik di perintahan Irak untuk memilih perdana menteri baru yang lebih memiliki otoritas penuh untuk memaksa penarikan mundur pasukan “pendudukan” di Irak. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menolak mengakui resolusi resmi dari pemerintahan Irak tersebut.

Ditengah gejolak tersebut, Ketua komite keamanan dan pertahanan parlemen Irak Mohammad Reza kemudian mengumumkan kembali dimulainya upaya Baghdad untuk memperoleh sistem pertahanan udara S-400 Rusia guna menghancurkan drone, rudal balistik, rudal jelajah, dan jet tempur musuh untuk menegakkan kedaulatan negeri 1001 malam tersebut.

Sebetulnya sejak 2018, Irak telah membahas kemungkinan untuk mendapatkan sistem pertahanan S-400 Rusia. Anggota parlemen Irak Hakim Al-Zamili, kepala komite keamanan dan pertahanan parlemen Irak mengatakan bahwa, “Irak memiliki hak untuk memiliki senjata canggih sebagai bentuk pertahanan wilayah.”

Baca Juga:  Inflasi Pekan Kedua November 0,17 Persen, Berikut Laporan MoM 2018

Ketua Komite Pertahanan dan Keamanan Dewan Federasi Rusia, Viktor Bondarev, juga menyatakan bahwa Irak adalah salah satu negara yang berpotensi untuk memiliki sistem pertahanan canggih S-400.

Mengapa S-400 Rusia? Irak belajar dari pengalaman Presiden Saddam Hussein yang dulu adalah sekutu AS. Saddam juga membeli alutsista buatan AS. Tapi ketika terjadi operasi Operasi Badai Gurun pada tahun 1991. Militer AS dengan mudah mengalahkan pasukan Sadam karena mereka memiliki semua kode untuk peralatan perang yang dimiliki Irak: “AS mematikannya!”

Irak juga telah belajar dari pengalaman negara lain untuk tidak percaya dengan AS. Turki, Cina, dan India telah membeli sistem pertahanan S-400, bahkan Arab Saudi telah menyatakan minatnya pula.

Di luar itu, AS memang sejak awal pendudukan terus menolak permintaan Irak yang ingin membeli persenjataan terbaru buatan mereka untuk memperkuat pertahanan militernya. AS tampaknya tidak ingin militer Irak menjadi kuat. Dengan membiarkan posisi militer Irak lemah, AS dapat terus membenarkan pendudukannya – sekaligus menjaga Iran di garis depan.

Irak tampaknya segera menyusul Turki untuk mendapatkan sistem pertahanan udara canggih Rusia untuk memperkuat angkatan bersenjatanya. Seperti kata Menhan Turki Hulusi Akar kepada Menhan AS Mark Esper: “Membeli S-400 bukan pilihan tetapi kebutuhan!” Kapan Indonesia menyusul? (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler