EkonomiPolitik

Inisiatif Belt and Road Cina Adalah Proyek Geopolitik

NUSANTARANEWS.CO, Moskow – Inisiatif One Belt, One Road yang digagas Cina memang sebuah proyek yang berusaha menciptakan lingkungan internasional yang damai melalui kerjasama ekonomi. Namun, akademisi Rusia Viktor Larin menegaskan bahwa proyek tersebut lebih banyak bicara tentang geopolitik daripada ekonomi.

“Saya pikir inisiatif One Belt, One Road adalah proyek geopolitik,” kata Larin kepada Ria Novosti seperti dikutip Sputnik.

Direktur Institute Sejarah, Arkeologi dan Etnografi Masyarakat Timur Jauh di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (RIA) ini melihat proyek yang dipimpin Beijing tampaknya merupakan proyek geopolitik dan tidak ada hubungannya dengan Marshall Plan pasca Perang Dunua II.

Menurut akademisi Rusia, strategi luar negeri Presiden Cina Xi Jinping adalah kelanjutan dari kebijakan keterbukaan dan moto Jiang Zemin, untuk pergi ke luar.

“Seiring dengan pertumbuhan Cina, dibutuhkan lebih banyak pasar, lebih banyak bahan mentah. Ini adalah satu dan gagasan yang sama, yang hari ini menerima bentuk baru yang agaknya sukses yakni inisiatif One Belt, One Road,” kata Larin.

Baca Juga:  Usung Kader Internal, DPP Gerindra Condong Pilih Gus Fawait Cawagub Jatim 2024

Akademisi tersebut meminta perhatian pada fakta bahwa gagasan utama di balik doktrin geopolitik Beijing adalah lingkungan internasional yang damai, yang dapat diciptakan melalui kerja sama ekonomi. Beijing 100 persen yakin ini akan berhasil, tambah Larin.

Mantan Sekretaris Jenderal Partai Komunis China Jiang Zemin pernah menyatakan abhwa masyarakat internasional perlu membuat konsep keamanan baru dengan saling percaya, saling menguntungkan, kesetaraan, kolaborasi dan pada intinya dan bekerja untuk menciptakan lingkungan internasional yang damai, stabilitas dan keamanan jangka panjang.

Menurut Larin, imperatif kebijakan luar negeri Rusia dan Cina tumpang tindih di sini. Sementara itu, Alexander Gabuyev justru melihat bahwa Beijing tidak akan memaksa siapapun dan negara manapun untuk merangkul proyek tersebut.

“Proyek ini didasarkan pada fakta bahwa Cina memiliki kekuatan ekonomi yang besar, cadangan yang sangat besar, pengalaman yang luas dalam pembangunan infrastruktur dan pasar yang besar. Ini siap untuk mewujudkan dunia ini di seluruh dunia,” kata Gabuev.

Inisiatif ini membayangkan terciptanya enam koridor ekonomi; Bangladesh-Cina-India-Myanmar, Cina-Mongolia-Rusia, Cina-Asia Tengah-Asia Barat, Semenanjung Cina-Indocina, Koridor Ekonomi Cina-Pakistan dan Jembatan Tanah Eurasia. Xinhua melaporkan bahwa perusahaan Cina telah menginvestasikan lebih dari $50 miliar dan mendirikan 56 zona kerjasama perdagangan dan ekonomi di 20 negara di sepanjang Belt and Road. Selain itu, mereka telah menciptakan total 180.000 pekerjaan untuk penghuni negara-negara ini.

Baca Juga:  Diduga di Luar HGU, Lahan PT. MAS Diklaim Kelompok Tani Sako Mandiri Desa Tanjung Pauh

Peran apa yang akan dimainkan Rusia dalam proyek ini? Yang cukup menarik, China Daily menempatkan Rusia di tempat pertama dalam daftar negara-negara asing yang paling ramah dengan inisiatif One Belt One Road Cina. Apalagi, pada bulan Mei 2015, para pemimpin Rusia dan Cina sepakat untuk mengintegrasikan Eurasian Economic Union (EAEU) dan proyek New Silk Road.

“Integrasi proyek Eurasia Economic Union dan Silk Road berarti mencapai tingkat kemitraan baru dan benar-benar menyiratkan ruang ekonomi bersama di benua ini,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin setelah pertemuan dengan mitranya dari Cina.

Menurut Sergey Kanavsky, Direktur Eksekutif di Dewan Bisnis Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO), proyek Jalan Sutera Baru memiliki potensi besar bagi Rusia. “Potensinya sangat besar, potensinya bagus dan menarik,” kata Kanavsky kepada RIA Novosti sembari menambahkan bahwa penting bagi kedua pemain geopolitik untuk berinisiatif dan menemukan landasan bersama untuk mencapai sinergisitas.

Tidak semua negara merasa antusias dengan proyek yang dipimpin Cina: Jepang dan AS menjauh dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan inisiatif One Belt, One Road. Namun, baru-baru ini dilaporkan, bahwa Washington mengirim delegasinya yang dipimpin oleh penasihat Gedung Putih Matt Pottinger untuk ambil bagian dalam One Belt, One Road Forum for International Cooperation in Beijing.

“Prakarsa Belt and Road bersifat terbuka dan inklusif. Kami menyambut semua delegasi negara untuk menghadiri Forum Belt and Road for International Cooperation,” kata Kementerian Luar Negeri China, seperti dikutip oleh Reuters.

Baca Juga:  Sebagai Sosok Trengginas, Prabowo Subianto Didukung Tukang dan Kuli Bangunan Situbondo

One Belt, One Road Forum for International Cooperation akan diselenggarakan di Beijing pada tanggal 14-15 Mei. Kepala 28 negara bagian dan pemerintah, termasuk Presiden Indonesia Joko Widodo. (ed)

Editor: Eriec Dieda

Related Posts

1 of 3,069