Connect with us

Gaya Hidup

Ini Sosok Sepasang Millenial Berbakat Untuk Respons Kaltara

Published

on

dr Rahmatia memfokuskan perhatiannya kepada penderita hypertensi dan diabetis melitius tipe II. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Istimewa)

dr Rahmatia memfokuskan perhatiannya kepada penderita hypertensi dan diabetis melitius tipe II. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Tanjung Selor – Mengangkat tajuk ‘Saya (Millenial) untuk Kaltara Terdepan’, ResKal (Respon Kaltara) edisi khusus ini berupaya menampilkan talenta muda nan kaya prestasi dari provinsi bungsu di Indonesia ini.

Pencarian berminggu-minggu pun mendaratkan keputusan tim ResKal kepada 7 kawula muda yang nanti akan diajak ngobrol, sharing informasi dan pengalaman bersama Gubernur Kaltara (Kalimantan Utara) Dr H Irianto Lambrie pada 13 Maret 2019 mendatang di Gedung Serbaguna Kantor Gabungan Dinas (GADIS) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara.

Baca Juga:

Adalah dr Rahmatia. Pemudi millenial ini, lahir di Kecamatan Bunyu, Kabupaten Bulungan 9 Mei 1988. Mulai menekuni ilmu kedokteran sejak 2006, dan di 2012 wanita berhijab ini pun diangkat sumpah menjadi dokter umum.

Mengandalkan keahliannya itu, dr Rahmatia memfokuskan perhatiannya kepada penderita hypertensi dan diabetis melitius tipe II.

“Penderita komplikasi penyakit hypertensi dan diabetes melitius tipe II khususnya pada lansia (lanjut usia) di Pulau Bunyu cukup tinggi. Dan, ini juga penyebab kematian tertinggi di Indonesia,” jelas dr Rahmatia.

Untuk mengurangi tingkat kematian tersebut, dr Rahmatia pun melakukan inovasi. “Inovasinya berupa pencegahan komplikasi penyakit tidak menular pada lansia dengan menggunakan Mobil TUA (Tanggap Untuk Anda),” ucapnya.

Beruntungnya, inovasi ini didukung oleh pihak-pihak terkait. “Dengan Mobil TUA ini, para lansia yang berketerbatasan fisik juga kendaraan akan didatangi tim kesehatan dari Puskesmas Bunyu untuk dilakukan pemeriksaan kesehatannya,” urainya.

Millenial selanjutnya, adalah Wisian Nugraha Yanuar. Pemuda 25 tahun yang lahir di Bumi Paguntaka-sebutan Kota Tarakan-ini, memiliki jiwa entrepreneurship di bidang kewirausahaan yang tinggi.

Wisian Nugraha Yanuar, Manager Grab Tarakan, Owner Pondok Lesehatan Coffee and Eatery serta apoteker penanggung jawab Apotek Dewi Farma. (FOTO: Istimewa)

Wisian Nugraha Yanuar, Manager Grab Tarakan, Owner Pondok Lesehatan Coffee and Eatery serta apoteker penanggung jawab Apotek Dewi Farma. (FOTO: Istimewa)

Di usia terbilang muda itu, alumni pendidikan farmasi apoteker Universitas Surabaya ini sudah menjadi Manager Grab Tarakan, Owner Pondok Lesehatan Coffee and Eatery serta apoteker penanggung jawab Apotek Dewi Farma.

Baca Juga:  Jepang Menuju Masyarakat 5.0, Said Aqil: Indonesia Harus Manfaatkan Peluang Tanpa Timbulkan Ketimpangan

“Membawa pengalaman dari hasil perantauan di Pulau Jawa, saya berusaha mengembangkannya di kota kelahiran saya, Tarakan. Itu dasar motivasi saya untuk giat berusaha,” kata Wisian.

Alasan lainnya, Wisian tak ingin bekerja secara terikat dengan aturan serta ingin menciptakan lapangan kerja bagi warga Tarakan lainnya. “Sepertinya, lebih enak menjadi bos di usaha yang kita miliki dan kelola sendiri,” ujarnya.

Sejumlah kesulitan ditemuinya saat memulai mimpinya tersebut. “Saya berusaha mengubah konsep usaha yang ada, dari prioritas family menjadi kalangan anak muda. Juga bagaimana menarik massa untuk mau menikmati layanan yang diberikan. Itu cukup susah dan butuh waktu lama,” paparnya.(Awad Baisa/NN)

Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler