Connect with us

Hankam

Ini Pemicu Negara-Negara Asia Terus Lakukan Modernisasi Militernya

Published

on

Rudal Barak-8 India Versi Maritim/Foto Indians Defense

NUSANTARANEWS.CO – Perkembangan situasi keamanan di kawasan Samudera Hindia dan Pasifik (Indo-Pasifik) termasuk Australia saat ini memicu banyak negara untuk melakukan modernisasi kemampuan militernya beriringan dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Hal ini ungkapkan Dirbinsen Pussenarhanud Kodikalat TNI AD, Kolonel Arh Candra Wijaya dalam ulasannya di jurnal Yudhagama.

Bahkan saat ini belanja militer di Asia menjadi lebih besar dibandingkan Eropa. Contoh kasus, pada tahun 2014 lalu, belanja militer Asia meningkat lima persen, mencapai sekitar USD 439 miliar dibandingkan dengan Eropa yang hanya meningkat 0,6 persen yaitu sekitar USD 386 miliar.

Negara yang memiliki pengaruh besar di kawasan Indo-Pasifik masih didominasi oleh negara-negara maju yaitu Amerika Serikat, Inggris dan China. Amerika Serikat menancapkan pengaruhnya di kawasan ini melalui sekutu-sekutu tradisionalnya seperti Australia, Philipina, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Sedangkan Inggris, melakukannya melalui negara Commenwealth (negara bekas jajahan Inggris) meliputi Australia, Malaysia dan Singapura.

Sedemikian menariknya kawasan Indo-Pasifik bagi negara Barat, hingga muncul beberapa organisasi keamanan yaitu Five Power Defence Arrangement (FPDA). Organisasi ini beranggotakan antara lain; Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura dan Malaysia.

Juga kerjasama intelijen yaitu Five Eyes yang beranggotakan Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat. Cina sebagai pemain regional Asia yang sedang berkembang pesat dengan istilah “the rise of China” berusaha meningkatkan pengaruhnya baik dengan soft power maupun hard power di berbagai bidang.

Berkaitan dengan situasi di Laut Cina Selatan yang menjadi salah satu ‘hot issue’, menurut Candra Wijaya ada enam negara yang terlibat saling klaim. Yakni Cina, Malaysia, Vietnam, Philipina, Brunei dan Taiwan. Mereka semakin memantapkan kehadiran militernya di kawasan sengketa.

Baca Juga:  Wacana Kebijakan Tunggal Pembelian Senjata, Panglima TNI: Akan Saya Patuhi

Dominasi Cina mendorong lima negara lainnya untuk memodernkan kemampuan militernya dan bersekutu dengan negara maju dalam rangka menciptakan Balance of Power. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menahan terjadinya perang terbuka. Malaysia mendekati Inggris, Vietnam mendekati Rusia, Philipina dan Taiwan mendekati Amerika Serikat.

Bahkan negara lain yang tidak terlibat namun bersinggungan langsung seperti Thailand dan Singapura turut melakukan hal sama. Thailand memiliki kedekatan diplomatik dengan Amerika Serikat sebagai sebagai warisan perang dingin. Sementara, Singapura memiliki kedekatan khusus di bidang militer dengan Amerika Serikat.

“Terbukti dari pelayaran kapal induk Amerika Serikat USS John C. Stennis (CVN 74) ke Philipina dan Singapura pada 19 April 2016, yang akhirnya mendapat penolakan dari Cina saat hendak mengunjungi Hong Kong pada 26 April 2016,” ungkap Candra Wijaya. (*)

Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler