MancanegaraTerbaru

AS Ingin Berdamai Dengan Taliban

NUSANTARANEWS.CO – Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson mengucapkan pernyataan mengejutkan terkait penyelesaian konflik yang telah menahun di Afghanistan. Konflik bersenjata di Afghanistan diketahui memang sudah berusia 16 tahun lamanya tetapi masalah tak kunjung selesai. Malah, Taliban diyakini AS sudah semakin kuat setelah belasan tahun bergerilya.

Amerika tampaknya melihat konflik bersenjata sudah bukan lagi solusi terhadap permasalahan di Afghanistan. AS mulai melihat sisi lain yang lebih manusiawi menyikapi keberadaan Taliban yang pantang menyerah. Lagi pula, perang di Afghanistan awalnya hanya kepentingan AS memburu Osama bin Laden yang dituduh bertanggungjawab dalam insiden 9/11 terhadap gedung World Trade Center. Kedua, misi AS sejatinya adalah geopolitik, untuk menjadikan Afghanistan sebagai pintu masuk ke kawasan Laut Kaspia guna mengamankan pasokan minyak dan gas.

Seperti sikap AS atas konflik Suriah, Tillerson memandang Amerika perlu menegaskan kembali sikap Washington mengenai peran Taliban dalam menyelesaikan krisis Afghanistan. Kepada wartawan saat berkunjung mendadak ke Afghanistan, Tillerson mengatakan Washington berpikir bahwa ada elemen moderat di tubuh organisasi Taliban yang sebetulnya mereka mau untuk berdialog dan menjadi bagian dari pejabat pemerintahan pusat.

Baca Juga:  Golkar Target Menang Pemilu 2024, Sahat: Saatnya Konsolidasi Tingkat Darat

Baca juga:

“Kami percaya suara moderat di kalangan Taliban itu ada, suara yang ingin menyudahi peperangan dan tak ingin berjuang terus menerus selamanya. jadi, kami ingin terlibat dengan suara tersebut dan meminta mereka terlibat dalam proses rekonsiliasi yang mengarah pada proses perdamaian, keterlibatan dan partisipasi penuh mereka di pemerintahan. Ada tempat bagi mereka di pemerintahan jika mereka siap dan mau menghentikan aktifitas terornya, meninggalkan kekerasan dan berkomitmen pada kestabilan dan kesejahteraan Afghanistan,” ujar Tillerson seperti dikutip Sputnik, Selasa (24/10).

Baca Juga:  Peringati HUT Ke-I, DPC PWRI Kota Langsa Santuni Anak Yatim dan Buka Posko Bantuan Korban Banjir

Di konflik Suriah, AS juga diketahui mengambil insiantif berdialog dan menawarkan jalan damai setelah negara itu diserang habis-habisan koalisi Suriah, Iran dan Rusia. AS, yang belakangan diketahui mendukung barisan oposisi di Suriah, sudah semakin lemah dan kalah dalam beperang melawan pasukan pemerintah Bashar Al-Assad yang didukung penuh Iran dan Rusia.

Kini, tawaran damai kembali dilontarkan AS di Afghanistan, khususnya kepada pihak Taliban. Meski menawarkan perdamaian dan berencana memanfaatkan anggota Taliban yang moderat, Tillerson menegaskan keterlibatan militer AS di Afghanistan masih berlanjut, terutama memburu anggota Taliban yang sulit diajak berdialog secara damai.

“Agar mereka dapat memahami bahwa mereka tidaka akan pernah memenangkan perang dari sebuah konflik militer,” tegasnya.

Pada bulan Agustus, Presiden AS Trump mengumumkan sebuah strategi baru Afghanistan di mana dia berjanji untuk melanjutkan dukungan AS terhadap pemerintah dan militer Afghanistan. Sebagai bagian dari rencana tersebut, Trump memerintahkan untuk memperluas wewenang tentara AS untuk menargetkan teroris di Afghanistan dan menyetujui pengiriman tambahan 4.000 tentara ke negara tersebut.

Baca Juga:  Wakil Bupati Nunukan Buka Bimtek Jabfung Analis Kebijakan

Rusia sendiri sebetulnya ingin terlibat lebih banyak dalam konflik Afghanistan. Baru-baru ini, Rusia dituduh mendukung Taliban setelah Rusia berkunjung ke Provinsi Paktia. Tak hanya itu, Menteri pertahanan AS, James Mattis juga sebelumnya menuduh Rusia dengan tuduhan serupa. Rusia dituding sebagai sponsor utama yang mengirimkan persenjata kepada Taliban untuk melawan pasukan AS yang ditempatkan di Afghanistan.

Rusia marah besar dengan tuduhan ini. Bagi Rusia, tuduhan yang juga dilontarkan para pemimpin Afghanistan membabi-buta dan membuat gelombang sikap anti-Rusia semakin memburuk di Afghanistan. Bagaimana pun, Uni Soviet sempat menginvasi Afghanistan pada medio 1980-an silam tetapi kalah setelah AS turun langsung melatih dan membina para mujahidin Afghanistan untuk melawan Soviet yang akhirnya terusir tanpa kemenangan. (ed)

Editor: Eriec Dieda/NusantaraNews

Related Posts

1 of 11