Ekonomi

Infid: Ketimpangan Sosial di Indonesia Meningkat

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – International NGO Forum on Indonesian Development (Infid) melakukan survei tentang ketimpangan sosial yang terjadi sepanjang tahun 2017. Survei ini bertajuk Pengukuran Ketimpangan Sosial Menurut Persepsi Warga, yang digawangi Bagus Takwin dkk. Kesimpulannya, ketimpangan sosial di Indonesia meningkat.

Seperti diketahui, sejak awal tahun 2017, berbagai media massa nasional beramai-ramai memberitakan tentang tingginya ketimpangan di Indonesia dan termasuk yang pterburuk di dunia.

Baca juga: Ketimpangan Bukan Takdir bagi 100 Juta Rakyat Indonesia

“Sinyalemen itu sesuai juga dengan apa yang ditemukan INFID dalam survey ketimpangan sosial menurut persepsi warga. Di tahun 2017, INFID melakukan pengukuran penilaian warga mengenai ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia selama tahun 2016/2017,” kata Infid dikutip dari makalah hasil surveinya, Jakarta, Rabu (21/2/2018).

Adapun hasilnya, kata Infid, menunjukkan ada kenaikan ketimpangan sosial menurut warga. Indeks ketimpangan yang diperoleh lebih baik dari tahun sebelumnya. Indeks ketimpangan berubah dari 4,4 menjadi 5,6. Artinya setiap warga menilai ada 5-6 ranah yang timpang di Indonesia. Indeks ketimpangan di tahun 2017 tergolong tinggi.

Baca Juga:  Fraksi Hanura Minta Pemkab Nunukan Pertahankan Prestasi WTP

Baca juga:
Sibuk Berpolitik, Pemerintah Abai Pada Ketimpangan Ekonomi
Potensi Ketimpangan di Indonesia Masuk Zona Merah
Guru Besar UI: Ketimpangan Sosial di Indonesia Berpotensi Menyulut Konflik Sosial

Secara keseluruhan, katanya, 84 persen responden dari total sampel 2250 orang mempersepsikan adanya ketimpangan setidaknya pada satu ranah. Bisa dikatakan, 8 dari 10 warga Indonesia mempersepsi adanya ketimpangan.

“Peningkatan ketimpangan sosial ini mengindikasikan belum adanya usaha yang signifikan dalam mengatasi ketimpangan di berbagai ranah. Evaluasi terhadap usaha penanganan masalah ketimpangan di Indonesia perlu di lakukan secara sistematis agar dapat dilakukan perbaikan yang tepat sasaran,” katanya.

Baca juga: Kelas Menengah Diperkirakan Mencapai 135 Juta Orang Pada 2020

Lebih lanjut, penghasilan dirasakan oleh warga sebagai ranah yang paling timpang dan paling besar peranannya dalam menghasilkan ketimpangan sosial. Ketimpangan penghasilan berdampak pada ketimpangan pada kepemilikan rumah dan harta benda, pendidikan dan kesehatan.

“Pengaruh ketimpangan penghasilan terhadap ketimpangan sosial keseluruhan paling besar. Ketimpangan dalam kesempatan mendapatkan pekerjaan merupakan ranah kedua yang dianggap paling timpang dan menjadi faktor terbesar dalam menghasilkan ketimpangan sosial,” jelas Infid.

Baca Juga:  Kepala Daerah Diminta Buat Kebijakan Pro UMKM

Baca juga: Kekayaan 4 Orang Indonesia Setara Dengan 100 Juta Penduduk

Survei ini mengatakan ketimpangan merata di wilayah Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. “Di Indonesia bagian Timur ketimpangan lebih tinggi dari wilayah lainnya. Selian itu, diskrimisnasi dipersepsi oleh warga terjadi baik di Indonesia Bagian Barat, Tengah dan Timur,” kata survei tersebut.

Sekadar tambahan, mengurtip Naido dan Wills, secara sederhana ketimpangan sosial adalah perbedaan penghasilan, sumber daya, kekuasaan dan status di dalam dan di antara masyarakat.

Baca juga: Kebijakan Ekonomi Jokowi Dinilai Akan Semakin Memperlebar Ketimpangan

Pewarta: Gendon Wibisono
Editor: Eriec Dieda

Related Posts

1 of 1.126