Connect with us

Hankam

Indonesia Lanjutkan Rencana Pengadaan Lima Pesawat Hercules Terbaru

Published

on

Pesawat Hercules Tipe J pesanan TNI AU. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Istimewa)

Pesawat Hercules Tipe J pesanan TNI AU. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia terus ditingkatkan. Salah satunya dengan terus melanjutkan rencana mendatangkan pesawat Hercules terbaru tipe J sebagai pengganti pesawat Hercules yang sudah berusia tua.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna seusai mewisuda para taruna lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 2018 di Gedung Sabang Merauke, Kampus AAU, Yogyakarta.

“Hercules yang lama-lama secara bertahap akan diganti dengan tipe yang terbaru yaitu tipe J,” kata Yuyu Sutisna, Yogyakarta, Kamis (28/6/2018) kemarin.

Dikutip dari kantor berita Antara, Yuyu menyampaikan, rencana pengadaan pesawat angkut TNI AU terbaru tersebut dilakukan sejalan dengan rencana strategis (renstra) ketiga. Sebelumnya, kata dia, dalam rencana pengadaan pesawat angkut berat TNI AU, setidaknya ada tiga kandidat pesawat yang akan dibeli yakni Hercules tipe J, Antonov, dan Airbus.

Yuyu mengaku meski pengadaan pesawat angkut berat tersebut belum final, nemun menurut Yuyu menjatuhkan pilihan pada Hercules lebih tepat dan mampu menghemat anggaran.

“Yang jelas saya hanya melaksanakan renstra, pengadaan pesawat angkut berat Hercules memang belum final karena ada calon-calon pesawat lain tetapi karena infrastruktur untuk hercules sudah ada kenapa harus mencari yang lain-lain,” katanya.

Penambahan pesawat angkut berat itu juga dilakukan seiring dengan penambahan satu skadron udara yang beroperasi di wilayah Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau) III. Saat ini Skadron Udara 31 dan Skadron Udara 32 masih mengoperasikan pesawat Hercules Tipe B/BT dan H/HS.

Ditambahkan Yuyu, dalam rangka memperkuat alutsista, selain pengadaan Hercules, dalam waktu dekat TNI AU juga akan menambah 11 pesawat tempur generasi terbaru, 11 helicopter, serta 9 pesawat Casa 212. “Pesawat-pesawat ini perlu diawaki oleh perwira-perwira personel yang berkualitas. Minimal kita memerlukan 52 penerbang per tahun,” tandasnya.

Baca Juga:  KPW DKI Rekan Indonesia Ungkap Bobroknya Pelayanan Kesehatan Sejak Era Ahok Hingga Djarot

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler