Budaya / SeniEsaiTerbaru

Indonesia-Amerika Saksi Kesetian Rendra Kepada Sunarti

Penulis: Selendang Sulaiman

NusantaraNews.co – Antara tahun 1964-1967 Sunarti pun bergabung dengan Rendra yang “ditugaskan” belajar di Amerika agar tidak mengembangkan gerakan Manifesto Kebudayaan (Manikebu). Selam kurang lebih tiga tahun setenga itu, Rendra di Amerika. Sebagian waktu ia jauh dari istri, sampai akhirnya Sunarti menyusul ke Amerika untuk menemani sang suami.

Sebagai informasi, pada tahun 1964, Rendra mendapat undangan untuk mengikuti seminar sastra di Amerika Serikat. Dua bulan di Harvard University dan dua bulan keliling Amerika Serikat. Kemudian Rendra mendapat beasiswa untuk belajar di American Academy of Dramatic Arts. Akademi ini terkenal dengan melahirkan aktor-aktor berbakat, seperti Cecil B. deMilke, Kirk Douglas, Grace Kelly, dan lain sebagainya.

Satu hal penting dalam babakan ini, ialah betapa sang pemuka teater modern Indonesia ini sangat mencintai Sunarti. Hal itu diungkapkan Rendra melalui puisi rindunya yang akut kepada Sunarti berjudul “Kupanggili Namamu” yang termaktub dalam antologi puisi Blues Untuk Bonnie.

Baca Juga:  Maksimalkan Pengelolaan Sampah Regional, Revisi Perda Pengelolaan Sampah di Jawa Timur Dikebut

…….
Berulang kali kupanggili namamu
Di manakah engkau, wanitaku?
Apakah engkau juga menjadi masa silamku?
Kupanggili namamu.
Kupanggili namamu
kerna engkau rumah di lembah.

………

Penyair Rendra dengan penuh kesadaran, penuh gelora cinta menuliskan kerinduannya yang akut menjadi puisi “kesepian dan kerinduan” yang kuat dan sempurna. Puisi ini merupakan sebuah paduan dari kerinduan dan perjuangan untuk tetap setia kepada isteri yang ditinggal jauh.

Puisi di atas akan bertambah kuat bila disandingkan dengan puisi Rendra yang lebih awal ditulis buat sang Isteri, Sunarti seperti dikutip di atas “Surat Cinta”. Dimana segenap pujian dialamatkan bagi ‘Dik Narti’ (panggilan mesra Rendra kepada Sunarti). Dalam pujian itu, Sunarti diibaratkan putri duyung bersuara merdu lembut laiknya angin laut dan bermata indah.

Ungkapan tersebut lahir dari perasaan jujur seorang Rendra sebagai suami di satu sisi dan penyair di sisi lain. Bahkan, dari keseluruhan isi puisi “Surat Cinta” pembaca dapat memahami bagai Rendra dengan penuh kejujuran menggambarkan pergulatan batinnya dan ujian terhadap kesetiaan dan kecintaan kepada Sunarti ketika itu. (Bersambung)

Tulisan Sebelumnya: Sunarti Soewandi, Wanita di Balik Kebesaran Rendra dan Bengkel Teater
Editor: Romadhon MK

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts