Connect with us

Ekonomi

INDEF Ungkap Perbandingan Penciptaan Lapangan Kerja Masa SBY dan Jokowi

Published

on

Potret Pengangguran/Ilustrasi: Dok. Scoop.it

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – INDEF mengurai hasil perbandingan penciptaan lapangan kerja antara pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan pemerintah sebelumnya, yakni masa Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Ekonom Senior INDEF Djadjad H Wibodo mengungkapkan kinerja pemerintahan Jokowi-JK lebih rendah dari SBY-Boediono jika dilihat dari dua indikator penciptaan kerja.

“Jadi, selama tiga tahun Pemerintahan Jokowi rata-rata pertahun tercipta 2,31 juta penduduk,” ungkap Djadjad H Wibodo pada acara diskusi di kantornya, Selasa (20/2/2018).

“Angka ini lebih rendah dibandingkan Pemerintahan SBY Boediono untuk tiga tahun pertama yang mampu menciptakam lapangan kerja sebesar 2,8 juta, tapi lebih baik dari Pemerintahan SBY-JK yang hanya sebesar 1,68 juta,” imbuhnya.

Menurut Djadjad penciptaan lapangan kerja sangat rendah di era SBY-JK karena pada saat itu mereka menaikkan harga BBM sangat tinggi sehingga akhirnya merusak penyerap lapangan kerja.

“Sehingga pada 2005 penciptaan lapangan kerja sangat anjlok. Ditambah, waktu itu Indonesai baru keluar dari krisis setelah program IMF,” ungkapnya.

“Indonesia benar-benar menderita selama program IMF tersebut, oleh karena itu pada era pemerintanan SBY-JK penciptaan lapangan kerja sangat rendah,” tambah Djadjad.

Agar pemerintahan Jokowi-JK lebih fokus untuk menciptakan lapangan kerja, saran Djadjad, terutama yang pertama agar sektor ekonomi produktivitas naik, dan yang kedua jangan membuat aturan-aturan yang justru merusak sektor-sektor yang banyak menciptakan lapangan kerja.

“Jadi, saya menyimpulkan secara nasional bahwa memang kinerja penciptaan lapangab kerja di era Jokowi-JK masih belum maksimal,” katanya.

Hal tersebut diuraikan Djadjad karena bagi dia penciptaan lapangan kerja menjadi sangat krusial supaya dapat mengubah ekonomi politik untuk mengatasi ketimpangan. “Penciptaan kerja adalah perubah ekonomi-politik yang sangat krusial karena menjadi kunci pengentasan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi,” jelas Djadjad.

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.

Advertisement
Advertisement

Terpopuler