Connect with us

Khazanah

Inas Merasa Miris Dengan Pembela Rocky Gerung

Published

on

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Inas N Zubir. Foto: Dok. Humas DPR

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Anggota DPR RI Fraksi Hanura H. Inas N Zubir menyoal, apa yang langsung terbesit dalam benak anda ketika mendengar kata ateis? Bagi mereka yang telah lama bersinggungan dengan Filsafat, kata dia, barang tentu tidak kaget lagi mendengar kata ini.

“Namun, agaknya stigma mayoritas masyarakat Indonesia hingga kini masih mengganggap bahwa ateis adalah paket lengkap dengan faham komunisme,” ujar Inas kepada media, Jakarta, Sabtu (14/4/2018).

Inas menerangkan, menurut berbagai kitab suci agama-agama samawi, ateis dunia menjadi musuh bersama, di akhirat menjadi penghuni permanen neraka, begitulah kira-kira.

Baca:

“Untuk mereka yang tertutup akan kritik kemapanan agama, kaum ateis terasa liyan, asing dan bengis karena berani-beraninya mengoyak-ngoyak iman seseorang dan dignity akan Tuhan serta menafikan kitab suci agama-agama,” jelasnya.

Loading...

Tapi, lanjutnya, bagi sebagian orang, apakah politisi nasionalis maupun agamis maka ateis adalah teman yang dapat diajak bertempur untuk menggempur lawan politik dengan agama sebagai komoditas bersama untuk dimanfaatkan baik secara positif maupun negatif.

“Baru saja kita dikejutkan dengan pernyataan Rocky Gerung yang mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi belaka yang artinya kitab suci setiap agama adalah hayalan berdasarkan penutur/penulisnya, tapi kemudian banyak orang berlomba-lomba membuat antrian di hadapan Rocky Gerung untuk menyataka bahwa pernyataan dia itu benar adanya bahkan sampai-sampai mereka yang mengaku ahli agama Islam-pun dengan ikhlas membela dan mengiyakan pernyataan Rocky Gerung untuk kemudian menafikan keagungan kitab suci agama Islam yakni Al-Quran,” ungkap Inas.

Baca Juga:  BPN Tegaskan Pembobol ATM Bukan Keponakan Prabowo

Miris sekali mengetahui hal ini, kata Inas, yakni, adanya orang-orang yang mengaku beragama Islam namun dirinya tidak mencerminkan ajaran-ajaran yang diajarkan oleh agamanya tersebut, dengan mendiamkan kitab suci dilecehkan oleh parat ateis yang menjadi teman maupun koleganya.

“Malah cenderung terkadang ada sebagian politisi agamis hanya menganggap agama bukan sebagai jalan hidup namun hanya sekedar “alat” atau “status” atau “identitas” bagi kelompoknya saja, dan siapapun yang mengolok-olok agamanya asalkan punya kepentingan yang sama maka akan didiamkan saja,” tandasnya.

Pewarta: Achmad S.
Editor: M. Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler