Connect with us

Berita Utama

IMF Datang, Nilai Rupiah Pun Terjengkang

Published

on

Presiden Soeharto menandatangani paket IMF disaksikan oleh Michel Camdessus

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kedatangan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde ke Indonesia tepat berada ditengah merosotnya nilai rupiah. Sebuah kebetulan yang menarik bila mengingat persitiwa dua puluh tahun lalu ketika paket bantuan IMF bukan menstabilkan nilai rupiah, tapi malah meluluh lantakkan nilai rupiah dari Rp 2000,- menjadi Rp 15.000,- per dolar Amerika Serikat (AS).

Kini perlahan tapi pasti, nilai rupiah terus merosot mencapai Rp 13.815 per dolar AS, dari Rp 13.200 yang dianggap batas normal oleh Bank Indonesia.

Masih terbayang ketika dengan congkaknya Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus dengan kedua tangan terlipat di dada menyaksikan Presiden Soeharto menandatangani letter of intent paket pada 15 Januari 1998.

Presiden Soeharto akhirnya terpaksa menandatangani letter of intent tersebut. Sebab bila menolak, maka Indonesia akan diembargo oleh seluruh dunia, bukan itu saja, mulai detik itu, barang Indonesia pun tidak boleh memasuki pasar dunia. Sebuah ancaman yang dahsyat melebihi ledakan bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Bayangkan bila roda ekonomi Indonesia berhenti pada waktu itu.

Kali ini, IMF datang lagi diwakili direktur pelaksana teranyar, Chirstine Lagarde. Entah apalagi keinginan IMF yang kedatangannya dibungkus agenda seminar Voyage to Indonesia di Hotel Fairmont, Jakarta.

Sri Mulyani juga menambahkan bahwa kedatangan Lagarde ini juga sekaligus meninjau langsung persiapan Indonesia sebagai tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia pada Oktober 2018

Menariknya, Bank Indonesia pun langsung mengumumkan bahwa nilai tukar rupiah hari ini telah merosot menjadi Rp 13.815 per dolar AS – yang tadinya berada pada kisaran Rp 13.200-13.300 per dolar AS. Artinya, kurs rupiah saat ini telah melebihi batas harapan aman BI.

Menurut Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, Jum’at kemarin, trading (rupiah) di angka Rp 13.200-13.300 per dolar AS itu adalah level yang pas. Kalau sekarang melebihi Rp 13.800 per dolar AS, sudah overshot (melampaui batas).

Sejak rupiah melemah sampai berada di bawah batas nilai yang diharapkan (undervalue), BI sudah berusaha melakukan tugasnya untuk menstabilkan rupiah. Tinggal berapa kuat cadangan devisa BI untuk menstabilkan nilai dolar AS tersebut. Apalagi bila nilai rupiah terus merosot hingga menyentuh level Rp 15.000 per dolar AS.

Bila merosotnya nilai tukar rupiaph berkaitan dengan kepentingan IMF dan Bank Dunia, atau dengan kata lain, ada kepentingan AS yang harus “deal” jelas akan menjadi masalah besar bagi keamanan ekonomi Indonesia – bila melihat peristiwa dua puluh tahun yang lalu. (Agus Setiawan)

Komentar

Advertisement

Terpopuler