Connect with us

Budaya / Seni

Ikrar Pengantin – Puisi Abdul Wachid BS

Published

on

Pengantin Revolusi karya Pelukis Hendra Gunawan | archive.ivaa-online.org

IKRAR PENGANTIN

 

lelaki …

bila kau menyuntingku

itu bukan cuma peristiwa bercinta kau aku

itu tidak cuma karena aku wanita kudu

Loading...

menikah, dan di dalam rumah menunggu

aku membutuhkanmu lantaran mencintaimu

aku mencintaimu tersebab kehidupan kudu

berjalan ke arah surga

kau aku menjadi imam makmum

dalam seluruh sembahyang usia yang

penuh kasih sayang

 

perempuan …

bila aku menyuntingmu

itu bukan cuma peristiwa bercinta kau aku

itu tidak cuma karena aku pria kudu

kawin, dan membangun rumah

aku mencintaimu tersebab cinta itu sendiri perantara

pria dan wanita demi melahirkan anak-anak kehidupan

hingga kau aku akan abadi dalam perubahan

belajar mengajar yang tiada akhir

hingga tak hingga

 

pengantinku …

mari kau aku saling

dalam kesalingan sehingga

yang maha cinta memahkotai

cinta kau aku

 

(semesta mengamini doa melati yang

merekah dari keindahan hati)

 

ALANG-ALANG

 

Alang-alang basah oleh darah

Tak di taman tak di hutan

Alang-alang akan terus tumbuh

Tak kemarau tak penghujan

 

Alang-alang nusuk sepatu serdadu

Alang-alang merambati tembok istana

Alang-alang menyilet jidat rektorat

Alang-alang berdansa, jalanan berbatu

 

Kepala-kepala batu

Tangan-tangan batu

Di kampus dan jalanan terbuka

Udara mabuk candu kekuasaan sang Raja

 

Bumi telah pagi

Dan akan bangun tegak

Di tanah pertiwi

Kenapa langit bagai tombak?

 

Di ujung jalan buntu

Segerombolan penyamun teriak

“Hiduplah demokrasi negeri!”

Kemarin mereka mengecu

Atas nama bangsa yang gemah-ripah lohjinawi

Membunuh, sembari bersenyum gigi

 

Di tangga-tangga parlemen

Sekelompok Tuan Hipokrisi

Memainkan tongkat pesulap

“Jangan sentimen

Apalagi apriori

Kami akan ciptakan demokrasi kelas kakap!”

Baca Juga:  Mazhab Cinta Ibu Rumah Tangga - Puisi Eka Retno

Kata mereka

Maka

Sayup-sayup di antara

Gubuk-gubuk orang ungsian

Nyanyi pasemon bocah entah buat siapa

“Esok tempe, Mas, sore tahu

Kemarin dukung rame-rame, Mas,

Esok bantai bahu-membahu”

 

Di tengah sawah

Holobis kuntul baris

Kita kini rakyat yang lelah

Kita kini bangsa yang sangsi

Oleh teka-teki yang bukan nasib

Oleh air liur politisi

Yang batin mendengkur

 

Jika petinggi dan politisi ngelindur

Demokrasi pelangi tak akan meluncur

Jalan-jalan, pohon, riuh-redam

Orang-orang mengasah saling dendam

 

Alang-alang basah oleh darah

Tak di taman tak di hutan

Alang-alang akan tambah tumbuh

Tak peduli irigasi, tak hirau kemarau

 

Alang-alang di pundak mahasiswa

Jadilah bendera

Alang-alang mengakar di tangan rakyat semesta

Menjelma senjata

Alang-alang merupa pena tajam, menari-nari

Di kubah parlemen

Tatkala orang-orang dalamnya sentimen

Tak bicara, dan tanpa cahaya

Tak taktik bersama batin samodra

Tak merekam desir alang-alang

Yang nyanyikan hening dalam sembah

Hyang

 

Siang membara, Indonesia

Di lingkar khatulistiwa

Kita orang semua bersaudara

Tak tahankan lagi derita dan nestapa

Tanah basah embun, kemarin hijau zamrud

Telah terengah, gersang dan kian kalut

 

Darah mengalir air

Membentur batu-batu

Air mengalir airmata

Membentur batu-batu

Airmata mengalir samodra

Mengusung alang-alang

Ke tiap tidur dan jaga

Kita

 

Bismillah, Indonesia

Alang-alang itu tanpa pernah penat

Dialah hatinurani rakyat

Pohonkan jangan terlewat

Jika tak ingin tersengat

 

DIA DATANG DARI DATANG

 

dia datang dari datang

yang tak harap dan pengharapan

 

lekat lewat mimpi fajar

ngurai kekaguman pagi

matahari nyata di mana-mana

 

dua makhluk khusuk

tetesi embun paling akhir

bunga setaman berkembang

Baca Juga:  Dirgahayu, Indonesia dan Karikatur Proklamasi - Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

atau justru mati

kembali pada datang mula

 

dia datang dari datang

tak yakin hilang

sebab ia rahmat

sebab dia kodrat

takdir atasmu atasku

 

dia datang dari datang

segala tahu segala sembunyi

hidup ini dua jalur

satu lurus terputus

lain liku dan indah

 

yang satu lepas tuntas

hidup pengembaraan nuju pintu-Nya

yang lain sebagai

makmum dan imam dalam sembahyang

 

lihat!

aku doa untuk

dia datang dari datang

yang tak harap dan pengharapan

bunga taman berkembang dan

alam adalah sketsa peribadatan

 

CERMIN

 

aku tidak lagi melihatmu

berjalan di trotoar dengan you can see

aroma parfum merangsang fantasi lelaki

terakhir malam itu kamu berjibaku

 

aku tidak lagi melihatmu

bertato kupukupu di lehermu

duduk bersebrangan dengan bocah puber pertama

bicara rasa lewat sms birahi di tatap mata

 

aku tidak lagi melihatmu

merayu mahasiswamu yang baru tingkat satu

saling ngefleks seperti odipus complex

hingga kamu lupa lahir dari rahim siapa

 

aku tidak lagi melihatmu

wajah bagai remaja limabelasan

dari belakang lelaki hidungbelang

jumpalitan bagai belalang

 

tetapi

 

aku memandangmu

dari semua arah kamu datang

dari segala lenggang kamu berpulang

kamu bercermin kemana pergi

 

di subuh hari kamu terbangun

setelah berterimakasih kepada kekasih

kamu langsung bercermin

di dapur kamu memasak sambari bercermin

 

di depan kamu berjalan menuju kampus bercermin

di belakang kamu berjalan bagai tarian bercermin

di samping kanankirimu bergoyanggoyang bercermin

tetapi aku memandangmu heran takjub

 

mengapa seluruh dirimu sekarang

menjelma menjadi cermin hingga

dari belakang lelaki hidungbelang

jumpalitan bagai belalang wirang

 

Baca Juga:  Teh yang Tumpah dan Ketika Kopi Harus Diteguk

tampaklah wajah mereka

wajahku yang

telah kehilangan

cermin

yogyakarta, 29 januari 2016

 

Abdul Wachid BS

Abdul Wachid BS

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Achid alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, dan sekarang sedang studi Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.

Buku-buku karya Achid : (1) Buku puisi, Rumah Cahaya (1995). (2) Buku esai, Sastra Melawan Slogan (2000). (3) Buku kajian sastra, Religiositas Alam : dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (2002). (4) Buku puisi, Ijinkan Aku Mencintaimu (2002). (5) Buku puisi, Tunjammu Kekasih (2003). (6) Buku puisi, Beribu Rindu Kekasihku (2004). (7) Buku kajian sastra, Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (2005). (8) Buku esai, Sastra Pencerahan (2005). (9) Buku kajian sastra dan tasawuf, Gandrung Cinta (2008). (10) Buku kajian sastra, Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron(2009). (11) Buku puisi, Yang (2011). (12) Buku puisi, Kepayang (2012). (13) Buku puisi, Hyang (2014).

Website: www.wachid.8m.com; E-mail: abdulwachidbs@yahoo.com dan abdulwachidbs@gmail.com; Twitter @abdulwachidbs; Facebook: www.facebook.com/abdulwachidbs

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler