Connect with us

Peristiwa

Ibu, Beri Aku Rindu – Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

Published

on

Ibu Pertiwi (65-66 negri ngeri) cat minyak, akrilik, tembok di atas kanvas 120x90cm/Lukisan via lentera-pembebasan.blogspot.co.id
Ibu Pertiwi (65-66 negri ngeri) cat minyak, akrilik, tembok di atas kanvas 120x90cm/Lukisan via lentera-pembebasan.blogspot.co.id

IBU, BERI AKU RINDU

Antara gemerlap cinta dan cakrawala yang tak pernah ada batasnya, Ibu adalah kasih yang pantang merintih walau langkah semakin tertatih.

Antara gemuruh ombak dan gerak gelombang di kedalaman samudera, Ibu adalah laut yang menyimpan segala rahasia.

Cinta yang tak pernah hanyut walau kabut selalu ingin merenggut. Kasih yang tak pernah tersisih walau ribuan rintih terus menagih.

Ibulah embun bening yang diam-diam menetes di helai daun, saat senyap merayap dan gelap menyelinap pada malam yang renta.

Loading...

Begitu teguh, betapa teduh. Ibulah yang pertama hadir manakala langit mulai runtuh.

Kepada bangsa yang selalu merawat putra-putrinya agar berhati mulia, Ibulah pilar jiwa yang tak pernah lekang oleh liku dan luka. Bidadari yang terus menari walau semesta bumi terhampar duri.

Ibu, beri anak-anakmu rindu yang berdenyut hingga di lubuk kalbu. Sebab hari ini sedang tak berdaya dikepung amarah, dusta dan purbasangka.

Ibu, didiklah anak-anakmu ini merawat warna-warni bunga, di taman atau di belantara, agar negeri ini semakin indah tiada tara.

Ibu, ajari putra-putri tanah air ini merenda bianglala, melukis pelangi dengan mata hati, agar tiap-tiap perbedaan menjadi marwah untuk bertegur sapa, bukan medan perang yang tiada makna.

Engkaulah pilar bangsa, wahai Ibu Pertiwi. Ijinkan putra-putri Indonesia ini ikut menjaga agar harkat dan martabatmu membuahkan rasa syukur di dalam dada.

DEMAM PANGGUNG

Di atas panggung, menangis atau tertawa itu biasa. Berteriak atau diam saja itu bagian dari lakon sandiwara.

Tapi di atas sandiwara selalu ada sandiwara.

Panggung yang terang dan penuh canda, saat lakon kocak dan drama komedi sedang dipertunjukkan.

Baca Juga:  Kau yang Mengucap Aku yang Mengusap

Panggung pun gelap gulita saat para pesohor sedang menyiapkan akting yang satu ke akting selanjutnya.

Lalu di belakang panggung, betapa sibuk sang sutradara meracik adegan demi adegan hingga paripurna, lalu layar ditutup dan tepuk tangan pun bergemuruh membahana.

Di pentas dunia, kita tak pernah paham siapa pelakon dan siapa sang sutradara.

Kita juga tak paham bahwa pentas ini bertema komedi atau tragedi.

Demam panggung, begitu aku menyebut apa yang sedang terjadi hari ini di negeri ini.

Di belakang panggung, ada tiga sutradara yang sedang berpesta.

Di tengah pancaroba dan musim yang tak lazim ini, demam panggung sedang melanda dunia.

Atas nama kapitalisme dan hedonisme, sutradara pertama sedang menggelar pentas raksasa, dan bangsa ini hanya menjadi pasar yang segera akan menjadi bangkrut sebangkrut-bangkrutnya karena tanpa daya saing dan kehabisan sumber saya.

Sutradara kedua sedang menyiapkan lakon kolosan yang tak kalah dahsyatnya, melalui idiologi bakar diri, mafia candu dan sindikat narkoba dunia. Hancurnya generasi, musnahnya jati diri dan budi pekerti, tamatnya peradaban.

Kemudian sutradara ketiga sedang bermimpi tentang revolusi atas nama khilafah dengan jubah putih berkibar dimana-mana. Agama menjadi kereta kencana dan dengan suara gaduh menebarkan bau amis darah ke seantero kota.

Demam panggung telah mengepung, di atas panggung semua bingung.

Tangan tak tampak terus bergerak, agenda politik dan fatwa agama telah bercampur dalam piring yang sama.

Menyantap adalah simalakama, tidak menyantap kelaparan melanda.

Di piring yang mana akan kusuguhkan agama, saat meja politik hanya berisi candu dan propaganda. Seperti menemuk air di dulang, seakan menggantang asap, panggung hanya berisi adegan bingung.

Baca Juga:  Ritus Kefanaan

Dalam demam panggung ini, aku hanya bisa berbisik pada diri sendiri, menjauhi medsos atau sekedar selfie.

Agama Islam itu begitu mulia sebagaimana kemuliaan Kitab Suci Al-Qur’an yang menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa tanpa keraguan apa pun atas ijin dan petunjuk Allah SWT.

Sudah jutaan orang disumpah atas nama Allah dengan mengucap sumpah di bawah kitab suci Al-Qur’an, lalu banyak manusia lalai dengan melakukan tindakan keji dan munkar dengan jabatan dan kekuasaannya.

Apakah Allah SWT dan Al-Qur’an lantas menjadi nista, lemah dan tak berdaya?

Bahkan manakala semua penduduk bumi ini telah sampai pada puncak maksiat, bergelimang dengan perilaku dan kata-kata kotornya, tetap saja Allah SWT itu Maha Suci dan bukan Maha Keji, sedangkan Al-Qur’an tetaplah indah sebagai pedoman bagi insan yang bertakwa.

Angka 6 dan angka 9 adalah sebuah sudut pandang terbalik. Hanya orang yang mampu berpikir dialektik yang sanggup melihat kedua angka itu sebagai kebenaran subyektif dan sekaligus kebenaran obyektif.

Dengan sudut pandang cover both side, maka cakrawala berpikir kita akan terbentang luas dan kemudian dengan hati, jiwa dan pikiran yang diliputi rasa syukur akan sampai pada simpul kebenaran dengan mengatakan bahwa Kebenaran Sejati hanyalah milik Allah semata.

Sepulang dari Perang Badar yang dahsyat itu, Rasuluah SAW bersabda kepada kaum muhajirin dan kaum ansor, bahwa Perang Besar yang sesungguhnya adalah mengalahkan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita sendiri.

Gus Nas

Gus Nas

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Baca Juga:  Puisi Esai Ditolak, Denny JA: Sastra itu Samudera Luas

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

Loading...

Terpopuler