Connect with us

Berita Utama

Hut Kota Banda Aceh dan Nasib Situs Sejarah Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam

Published

on

Hut Kota Banda Aceh dan nasib situs sejarah Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam.

Hut Kota Banda Aceh dan nasib situs sejarah Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam/Foto: Ketua Peusaba Aceh di titik nol Kesultanan Aceh Darussalam dan Lukisan arak-arakan zaman kesultanan Aceh Darussalam yang dilukis oleh Tengku Teungoh yang kemudian menjadi koleksi Tropen Museum Belanda tahun 1907.

NUSANTARANEWS.CO, Banda Aceh – Hut Kota Banda Aceh dan nasib situs sejarah Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam. Tanggal 22 April diperingati sebagai hari lahir Kota Banda Aceh. Tahun ini Kota Banda Aceh genap berusia 816 tahun.

Hari jadi Kota Banda Aceh adalah tanggal 1 Ramadhan 601 H, hari Jum’at bertepatan dengan tanggal 22 April 1205 M. Tanggal ini didasarkan kepada permulaan pemerintahan Sultan Johan Syah pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Ibukota kerajaan dibangun di Gampong Pande sebagai pusat kerajaan bernama Bandar Aceh Darussalam. Sultan Johansyah kemudian mendirikan Istana di Bandar Aceh Darussalam Di Kuta Farusah Pindi Darul Makmur Gampong Pande.

Cut Putri Pemimpin Darud Donya Aceh, yang juga menjadi Ahli Majelis Tertinggi Dewan Agung DMDI, organisasi internasional beranggotakan 23 negara Melayu dan negara Islam, yang berkantor pusat di Malaka menyerukan bahwa, “Amat disayangkan jika makam para Raja dan Ulama yang ada dititik Nol Kesultanan Aceh Darussalam hilang demi Proyek Tinja. Maka perlu persatuan Bangsa Aceh dan dunia Internasional untuk menyelamatkan situs kesultanan Aceh Darussalam,” seru Cut Putri.

“Hari ini, 22 April 2021 adalah HUT Kota Banda Aceh ke-816. Adalah hal yang sangat memprihatinkan karena tempat kelahiran Kota Banda Aceh, Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam di Gampong Pande – yang menjadi Pusat Peradaban Islam terhormat yang tertua, terbesar dan termegah di Asia Tenggara, dinilai seharga Pusat Pembuangan Tinja Najis Manusia dan Kotoran Sampah,” kata Cut Putri dengan prihatin.

Baca Juga:  Bupati Nunukan Akan Tanggung Pengobatan Para Korban Kebakaran

Oleh karena itu, Darud Donya meminta agar IPAL dan segala proyek berbasis tinja dan sampah segera dipindahkan dari titik nol Kesultanan Aceh Darussalam. Selanjutnya setelah IPAL dan sejenisnya dipindahkan, Kawasan Situs Istana Darul Makmur dipulihkan kembali dan direvitalisasi untuk dijadikan sebagai Living Museum (Museum Hidup).

Presiden DMDI hadir dalam Haul Tuan Dikandang sekaligus perayaan HUT Kota Banda Aceh pada tahun 2019 lalu, bertema “Selamatkan Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam”.

“Karena Kawasan Istana Darul Makmur adalah kawasan situs sejarah pusaka budaya tertua di Banda Aceh,” terang Cut Putri.

Cut Putri juga menyampaikan bahwa, “Replika Istana Darul Makmur Bandar Aceh Darussalam sebagai cikal bakal lahirnya Kota banda Aceh dapat dibangun kembali, ujarnya.

Demikian pula dengan Masjid Istana Darul Makmur, sambung Cut Putri, dapat dibangun kembali di atas struktur reruntuhan tapak bangunan aslinya yang hari ini masih terlihat dengan jelas di lokasi IPAL – sebagai masjid tertua di Banda Aceh yang usianya jauh lebih tua dari Masjid Raya Baiturrahman, sebagai masjid istana Kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara.

Setelah direvitalisasi, Kawasan Istana Darul Makmur Kuta Farusah Pindi Banda Aceh Darussalam insya Allah akan menjadi Kawasan Terpadu Pusat Pariwisata Dunia, Penelitian, Pendidikan dan Pembelajaran Sejarah dan Peradaban Aceh. Sebagai tempat edukasi dan destinasi pariwisata sejarah, religi, tradisi dan seni budaya berskala dunia, yang insya Allah akan dikunjungi oleh seluruh dunia.

Semoga Allah mengabulkan segala cita-cita mulia demi kebesaran dakwah Islam. Selamat Hari Jadi Kota Banda Aceh ke-816 tahun.

Penulis/Kontributor: Mawardi Usman

Loading...

Terpopuler