Connect with us

Kolom

Hubungan Letkol Ali Ebram Kepala Intel Pasukan Cakrabirawa dengan Pangkostrad Mayjen Soeharto

Published

on

Pengkhianatan G30S PKI/Poster: wikipedia

NusantaraNews.co – Dalam buku Jendral AH Nasution “Memenuhi Panggilan Tugas”, Jilid 6, yang sudah sering kami kutip, ada 4(empat) kali nama Letkol Ali Ebram disebut oleh Jen AH Nasution.

Pertama, di halaman 193. Konteksnya bahwa malam penculikan itu Kol Latif Komandan Brigif Ibukota, sempat memeriksa rumah Nasution di Jln Teuku Umar 40. Brigif Ibukota adalah kesatuan yang mengawal rumah AH Nasution. Pada malam itu di sebuah rumah di jalan Waringin tidak jauh dari rumah Nasution ramai anak-anak muda kumpul, antara lain ada Intel Tjakrabirawa Letkol Ali Ebram.

Kedua, di halaman 221. Konteksnya, pada sekitar pkl 06.30 tanggal 1 Oktober 1965 (lebih kurang 3 jam pasca usaha penculikan) dalam rangka penyelamatan Jen AH Nasution oleh ajudan dan stafnya, termasuk dari Komandan Detasmen markas Staf Angkatan Bersenjata Letkol CPM Hidayat Wirasondjaja, maka tak lama datang pula Letnan Kol Ali Ebram Kepala Bagian Intel Tjakrabirawa bersama beberapa anggotanya berpakaian preman. Menurutnya ia diperintah Presiden untuk menanyakan dimana Nasution berada dan bagaimana keselamatan Nasution.

Ketiga, di halaman 234, dijelaskan oleh Nasution bahwa sebelum kedatangan Letkol Ali Ebram, pada sekitar pukul 06.30 itu telah datang pula lebih dulu seorang anggota Tjakrabirawa dari AKRI mengecek keberadaan Jen AH Nasution pasca kegagalan penculikan. Diduga dia dikirim lebih dulu oleh Intel Tjakrabirawa untuk lihat situasi rumah Jen Nasution, sebelum kedatangan komandannya Letkol Ali Ebram dan anak buahnya.

Keempat, di halaman 301. Setelah beberapa kali pindah dari persembunyiannya pasca G30S, Jenderal AH Nasution akhirnya tinggal disebuah kamar di Markas Kostrad. Tentu atas bantuan Mayjen Soeharto Pangkostrad. Nasution dalam masa krisis itu lebih kurang 45 hari tinggal di Markas Kostrad. Dari Markas itulah Soeharto dan Nasution mengatasi krisis besar pasca G30S.

Baca Juga:  MPR Dukung Pemutaran Ulang Film G30S/PKI

Yang menarik, pada beberapa hari pasca G30S itu Soeharto memberi tahu Nasution bahwa ia (Soeharto) kini memakai Letkol Ali Ebram Kepala Intel Tjakrabirawa, yang sebgaimana kita ketahui merupakan pasukan yang dipakai untuk melakukan penculikan.

Mungkin Nasution juga bingung atas perkembangan yang disaksikan dimana Letkol Ali Ebram sering keluar masuk dengan leluasa ke ruang Panglima Kostrad Mayjen Soeharto.

Disamping itu Brigjen Sudirgo komandan CPM, orang kepercayaan Presiden Soekarno, yang sudah dikenal lama oleh Soeharto sejak di Jogja dulu, tampak digunakan juga oleh Soeharto pasca G30S.

Nasution sendiri meskipun berada di Markas Kostrad, merasa aneh karena pada suatu hari pasukan yang mengawalnya di Markas Kostrad justru mengarahkan laras senjatanya ke arah pintu kamar Jen Nasution. Jadi seakan Nasution jadi tahanan.
Situasi itu teratasi setelah Kapten Sitompul Pengawal Nasution memprotes cara bintara anggota pasukan “mengawal” Jen AH Nasution. (Lihat hal 301 dan 302).

Dari cerita dalam buku Jen AH Nasution terungkap, selain Kol Latif dan Letkol Untung sudah lama akrab dan dekat dengan Mayjen Soeharto, ternyata Kepala Intel Tjakrabirawa Letkol Ali Ebram dan Kepala CPM Brigjen Sudirgo, kepercayaan Presiden Soekarno juga sangat dekat dengan Soeharto.

Apa maknanya ini biarlah ahli Sejarah dan ahli intelijen yang menarik kesimpulan.

Tulisan-tulisan tentang ini diturunkan dalam rangka generasi muda memetik hikmah dari sejarah bangsanya!

30 September 2017.

M.Hatta Taliwang

Editor: Ach. Sulaiman

Loading...

Terpopuler