MancanegaraTerbaru

Hizbullah dan Israel Tampaknya Akan Kembali Perang

NUSANTARANEWS.CO – Provinsi Deir Ezzor, Suriah timur dinyatakan telah direbut pasukan pemerintah Suriah yang sejak lama menjadi salah satu markas terbesar ISIS. Pasukan Suriah yang didukung penuh oleh Rusia telah berhasil memukul mundur tentara ISIS di berbagai wilayah, dan dengan dikuasainya Deir Ezzor berarti ISIS masih bertahan di wilayah-wilayah kecil saja.

Kendati ISIS telah dinyatakan hampir kalah, perang sepertinya masih akan terus berlanjut. Pasalnya, Israel baru-baru ini sepertinya ingin memulai babak baru peperangannya dengan Hizbullah di Lebanon.

Dilansir kantor berita AFP, serangan pasukan Israel menghantam sebuah depot senjata di bandara di Damaskus. Serangan ini menargetkan sebuah gudang milik kelompok Lebanon, Hizbullah yang bersekutu dengan pemerintah Suriah.

“Pesawat tempur Israel menargetkan tembakan roket ke depot senjata milik Hizbullah di bandara,” kata Rami Abdel Rahman, direktur Observatorium Suriah untuk HAM.

Belum ada konfirmasi langsung dari Damaskus atau Israel terkait serangan tersebut. Namun, negara Yahudi tersebut telah dituduh melakukan banyak serangan di Suriah, termasuk awal bulan ini. Pada tanggal 7 September, tentara Suriah mengatakan pesawat tempur Israel menyerang salah satu posisinya di dekat kota pusat Masyaf.

Baca Juga:  Pelaku Penipuan Para Janda di Brebes Divonis Hanya 10 Bulan Penjara

Pada bulan April, pemerintah menuduh Israel menembakkan beberapa rudal ke sebuah posisi militer di dekat bandara Damaskus, yang memicu ledakan besar. Awal bulan ini, militer Israel melepaskan sebuah rudal Patriot untuk menjatuhkan apa yang dikatakannya sebagai pesawat tak berawak buatan Iran yang dioperasikan oleh Hizbullah dalam sebuah misi pengintaian di atas Dataran Tinggi Golan.

Israel dan Suriah masih secara teknis berperang, meski jalur gencatan senjata di Dataran Tinggi Golan tetap tenang selama puluhan tahun sampai perang saudara meletus di Suriah pada tahun 2011. Israel merebut 1.200 kilometer persegi dari Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam Perang Enam Hari tahun 1967 dan kemudian mencaploknya dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Israel telah menyatakan keprihatinannya tentang kekuatan Iran yang berkembang di Suriah, dan juga Hizbullah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa Israel akan berjuang untuk mencegah Iran turun tangan di Timur Tengah.

“Kami akan bertindak untuk mencegah Iran membangun pangkalan militer permanen di Suriah baik kekuatan udara, laut maupun darat,” katanya.

Baca Juga:  Solusi Bantuan Final SMI Tepat dan Membantu Member

Israel sendiri bersikap seperti membenarkan semua tuduhan kalau militernya telah melakukan serangkaian serangan baik ke Lebanon maupun Suriah. Yang jelas, misi utama Israel adalah mengalahkan Hizbullah karena dendam lama.

Seperti diketahui, Israel kalah perang pada tahun 2006 silam melawan Hizbullah. Perang yang berlangsung selama 33 hari itu banyak menewaskan pasukan Israel sampai akhirnya pasukan Israel Defense Forces (IDF) memutuskan mundur.

Kini perang mulai dikobarkan lagi oleh Israel. Mereka bahkan telah berulang kali memperingatkan bahwa Israel siap berperang untuk melawan Hizbullah.

Malasahnya sekarang adalah kekuatan Hizbullah sudah semakin canggih. Di sisi lain, Israel patut khawatir dengan perkembangan konflik Suriah, di mana tentara Hizbullah, Lebanon dan Suriah telah meraih banyak kemenangan melawan ISIS.

Kekhawatiran Israel bukan tanpa alasan. Jika melihat sejak awal konflik Suriah, Israel yang merasa memegang kendali, khususnya di wilayah Barat Daya Suriah dengan mendukung kelompok-kelompok perlawan bersenjata, ternyata mengalami kegagalan karena tidak mendapat dukungan dari Washington. Israel frustasi. Di era kepemimpinan Obama, Israel berkali-kali memohon dukungan tetapi tetap nihil. Begitu pula di era Donald Trump, Israel masih belum mampu membujuk Washington untuk memberikan dukungan.

Baca Juga:  Pemkab Nunukan Sampaikan Jawaban Pemda Atas Pandangan Umum Anggota DPRD

Ke depan, Israel tampaknya benar-benar tak akan mendapat dukungan dari Amerika terkait rencana mereka menginvasi kembali Hizbullah yang didukung Suriah, mungkin juga Iran dan Rusia. Seperti diketahui, Amerika mendukung kubu oposisi di Suriah sehingga turut campur tangan dalam konflik berkepanjangan itu. Trump telah mengambil keputusan untuk menghentikan suplai senjata dan pelatihan kelompok-kelompok milisi bersenjata yang bergerilya melawan pemerintahan Al-Assad.

Artinya, secara umum Amerika telah kalah perang di Suriah. Apalagi pasukan pemerintah Suriah diketahui mendapat dukungan penuh dari Rusia dan Iran.

Kini, Israel tampil ke depan sebagai musuh lain selain para milisi bersenjata di Suriah. Israel tampaknya tengah berusaha mengembangkan strategi geopolitiknya sendiri karena sejauh ini Amerika tidak menggubris permintaan Israel.

Singkatnya, jika Israel menyerang Hizbullah, kemungkinan besar pasukan Suriah, Iran dan Rusia akan bergabung dengan Hizbullah di Lebanon. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Related Posts

1 of 30