Connect with us

Ekonomi

Hipmi Sarankan Indonesia Bangun Aliansi Dagang dengan Eropa

Published

on

hipmi, bahlil lahadalia, aliansi dagang, dagang eropa, aliansi dagang eropa, cepa, ieu cepa, uni eropa, perdagangan uni eropa, kerjasama indonesia-eropa, nusantaranews

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Hipmi Bahlil Lahadalia mengadakan pertemuan dengan empat Atase Perdagangan Indonesia di Paris, Barcelona, Roma, dan Amsterdam. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Hipmi Bahlil Lahadalia mengatakan, meski Amerika dan Cina memanas, Indonesia masih punya waktu membangun aliansi dagang dengan Eropa. Sebab kedua negara dan kawasan masih memiliki banyak kesepahanan dan komunikasi yang bagus. Eropa juga bisa menjadi penengah atau mitra bagi Indonesia jangka panjang.

Sebab itu, Bahlil meminta agar pemerintah kerja sama perdagangan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership (IEU CEPA). Tujuannya, untuk menjamin akses pasar dengan preferensi yang terbaik bagi pelaku usaha Indonesia.

Baca juga: Berkedok Isu Lingkungan, Minyak Sawit Menjadi Komoditas Perang Dagang UE dan Indonesia

“Kita dorong agar CEPA dipercepat agar akses pasar semakin terbuka,” ujar Bahlil usai bertemu dengan empat Atase Perdagangan Indonesia di Paris, Barcelona, Roma, dan Amsterdam dikutip dari keterangan tertulis, Jakarta, Senin (13/8/2018).

Bahlil mengatakan, secara umum perdagangan Uni Eropa dengan Indonesia mengalami surplus. Nilai total perdagangan Indonesia-Uni Eropa pada 2017 mencapai USD25,2 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Uni Eropa sebesar USD14,5 miliar dan impor sekitar USD10,7 miliar sehingga surplus di angka USD3,8 miliar. Sementara itu, nilai investasi Uni Eropa di Indonesia tahun 2016 sebanyak USD2,6 miliar dengan jumlah 2.813 proyek.

Loading...

Namun khusus dengan Prancis, perdagangan Indonesia mengalami defisit. Defisit telah berlangsung lama. Sebab itu, Bahlil meminta Prancis lebih membuka diri terhadap produk-produk Indonesia.

“Kita berharap agar Prancis lebih membuka diri. Barangkali ada peluang memperkecil defisit kita,” ujar Bahlil.

Baca juga: Mendag: Kampanye Hitam Sawit Indonesia di Luar Negeri Lebih Vulgar

Baca Juga:  Jargon Islam Yes Partai Islam No, Dinilai Menyudutkan Posisi Islam

Sebab itu, Bahlil meminta agar Prancis agar semakin membuka diri dengan Indonesia. “Kita sudah beri kontribusi besar untuk ekonomi Prancis. Airbus bisa selamat dari krisis dulu karena Lion Air pesan banyak pesawat. Sudah waktunya Prancis membuka diri dan kurangi hambatan- hambatan,” ucap Bahlil.

Bahlil juga mendesak Perancis agar aktif memperjuangkan masa depan pasar minyak Sawit Indonesia di Eropa. “Kita minta Prancis mengoptimalkan pengaruhnya di Eropa. Sebab setelah Brexit, dominasi Prancis sangat kuat. Sedangkan isu minyak sawit sudah dibawa ke tingkat Uni-Eropa. Bukan lagi hanya isu dalam negeri Prancis,” katanya.

Bahlil mengingatkan meski larangan minyak sawit diperpanjang hingga 2030, namun Uni Eropa kemungkinan akan meningkatkan hambatan-hambatan dalam bentuk berbagai regulasi dan sertifikasi.

“Misalnya kalau di kita itu ada Perda-Perda atau sertifikasi, bahasa, selain isu besar soal lingkungan,” papar Bahlil.

Sebelum ke Eropa, Bahlil telah memberikan Kuliah Umum di depan sekitar 300 peserta Simposium Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Sedunia dari 56 negara dan 11 BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di University Higher School of Economy, Moskow, Rusia, Senin malam (23/7), lalu. Selain Bahlil, tampil sebagai pembicara Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian, Ekonom Didik J.Rachmidi, Mantan Wamenlu Dino Pati Djalal, dan Dubes Indonesia untuk Ukraina Yudi Krisnandi.

Baca juga: UGM Kritik Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia

Sebagaimana diberitakan, sebanyak enam puluh (60) pengusaha muda diboyong Bahlil Lahadalia ke sejumlah negara di Eropa 2-13 Agustus. Di Eropa, Hipmi menjajaki peluang bisnis serta meningkatkan hubungan dagang business to business (B to B) dengan pengusaha lokal.

Bahlil mengatakan, pihaknya memboyong sebanyak 60 pengusaha muda dari 34 Badan Pengurus Daerah se-Indonesia untuk berkunjung ke sejumlah negara di Eropa antara lain, Italia, Belanda, Belgia, Swiss dan Prancis. Kunjungan dagang ini bertajuk Hipmi-Europe Trade Mission 2018.

Selain itu, para pengusaha ini akan mengunjungi mitra-mitra bisnis mereka di Milan, Perancis, Amsterdam dan beberapa sentra-sentra industri dan perdagangan.

Baca Juga:  Telkom Resmikan Balei Merah Putih, Grapari Telkom Group dan Modern Broadband City Pematangsiantar

”Kita ingin ada kontak langsung B to B, penjajakan, bertukar informasi pada akhirnya ada business matching. Kita harap ada transaksi ujung-ujungnya,” ucap dia.

Pengusaha yang diboyong dari hampir semua sektor baik logistik, perdagangan, perkebunan, konstruksi, teknologi informasi, pariwisata, makanan dan minuman dan sebagainya. “Hampir semua sektor kita boyong,” tegas Bahlil. (gdn)

Editor: Gendon Wibisono

Loading...

Terpopuler