Connect with us

Kolom

Hikmah: Rekonsiliasi Nasional

Published

on

Capres Prabowo Subianto dan Capres Joko Widodo berpelukan usai pencak silat Indonesia keluar sebagai peraih medali emas di ASIAN Games 2018. (FOTO: NN/Istimewa)

Capres Prabowo Subianto dan Capres Joko Widodo berpelukan usai pencak silat Indonesia keluar sebagai peraih medali emas di ASIAN Games 2018. (FOTO: NN/Istimewa)

Oleh: Aji Setiawan

NUSANTARANEWS.CO – Saat ini yang kita perlukan Pasca Keputusan Mahkamah Konstitusi adalah rekonsiliasi. Rekonsiliasi adalah perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula sebagai perbuatan untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada.

Dalam kaca mata Agama Islam, hubungan itu adalah berselempangkan tali silaturahmi (shilah ar-rahim dibentuk dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah berasal dari washala-yashilu-wasl(an)wa shilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim atau ar-rahm, jamaknya arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah (kasih sayang); ia digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena orang-orang saling berkasih sayang, karena hubungan rahim atau kekerabatan itu. Di dalam al-Quran, kata al-arhâm terdapat dalam tujuh ayat, semuanya bermakna rahim atau kerabat.

Dengan demikian, secara bahasa shilah ar-rahim (silaturahmi) artinya adalah hubungan kekerabatan.  Banyak nash syariat yang memuat kata atau yang berkaitan dengan shilah ar-rahim. Maknanya bersesuaian dengan makna bahasanya, yaitu hubungan kekerabatan. Syariat memerintahkan agar kita senantiasa menyambung dan menjaga hubungan kerabat (shilah ar-rahim). Sebaliknya, syariat melarang untuk memutuskan silaturahim.

Abu Ayub al-Anshari menuturkan, “Pernah ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku perbuatan yang akan memasukkan aku ke dalam surga.” Lalu Rasulullah saw. Menjawab,” Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi. (HR al-Bukhari).

Loading...

Hadist ini, meskipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah perintah. Pemberitahuan bahwa perbuatan itu akan mengantarkan pelakunya masuk surga, merupakan qarînah jâzim (indikasi yang tegas). Oleh karena itu, menyambung dan menjaga shilaturahmi hukumnya wajib, dan memutuskannya adalah haram. Rasul saw. pernah bersabda, ”Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan (ar-rahim).” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Baca Juga:  Anak Korban Teroris Dijamin Pemerintah Penyembuhannya

Oleh karena itu, Qadhi Iyadh menyimpulkan, “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa shilah ar-rahim dalam keseluruhannya adalah wajib dan memutuskannya merupakan kemaksiatan yang besar.

Untuk memenuhi ketentuan hukum tersebut, kita harus mengetahui batasan mengenai siapa saja kerabat yang hubungan dengannya wajib dijalin, dan aktivitas apa yang harus dilakukan untuk menjalin silaturahmi itu?

Dengan menganalisis makna ar-rahim atau al-arham yang terdapat dalam nash, dan pendapat para ulama tentangnya, bisa ditentukan batasan kerabat tersebut. Kata ar-rahim dan al-arhâm yang terdapat di dalam nash-nash yang ada bersifat umum, mencakup setiap orang yang termasuk arhâm (kerabat). Ketika menjelaskan makna al-arhâm pada ayat pertama surat an-Nisa’, Imam al-Qurthubi berkata, “Ar-rahim adalah isim (sebutan) untuk seluruh kerabat dan tidak ada perbedaan antara mahram dan selain mahram.”

Ibn Hajar al-‘Ashqalani dan al-Mubarakfuri mengatakan, “Ar-Rahim mencakup setiap kerabat. Mereka adalah orang yang antara dia dan yang lain memiliki keterkaitan nasab, baik mewarisi ataupun tidak, baik mahram ataupun selain mahram.”

Allah Swt. memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kerabat (QS an-Nisa’4: 36); memberi kepada kerabat (QS an-Nahl 16: 90); memberikan hak kepada kerabat (QS ar-Rum 30: 38); meski dalam hal itu sebagian mereka lebih diutamakan dari sebagian yang lain (QS al-Anfal 8: 75 dan al-Ahzab 33: 6). Rasul saw. pernah bersabda:Tangan yang memberi itu di atas (lebih utama) dan mulailah dari orang yang menjadi tanggungan (keluarga)-mu, ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, orang yang lebih dekat denganmu, orang yang lebih dekat denganmu (HR al-Hakim, al-Baihaqi, dan Ibn Hibban). Semua itu adalah bagian dari aktivitas silaturahmi. Dari gambaran seperti itu, para ulama manarik pengertian silaturahmi.

Baca Juga:  Borong 23 Medali, Jatim Juara Umum Peparpenas 2019

Rekonsiliasi menekankan makna perjalanan hidup manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT, yang paling taqwa disisi Allah adalah siapa saja yang bekerja dengan ikhlas tidak membedakan jabatan dalam pekerjaan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 yang artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Salah satu cara bertakwa kepada Allah adalah dengan menjaga tali silaturahmi, mengutip sabda Rasululloh, Kebajikan yang cepat pahalanya ada dua yaitu, berbakti kepada apa saja karena Allah dan orang yang rajin silaturahim. Dan ada dua yang siksanya cepat, pertama orang yang berbuat kekejian dan kedua orang yang memutus tali silaturrahim (HR.Ibnu Majjah).

Di saat masih bulan Syawal ini, dimensi taqwa dengan tiga dimensi pemahaman. Pertama, dimensi individu. Kita harus memiliki integritas moral yang tinggi seperti jujur dan amanah karena keduanya adalah pengantar ke surga. Selain itu, harus adil yaitu menempatkan sesuatu pada porsinya karena keadilan dekat dengan ketaqwaan serta memegang amanah. Tidak disebut iman apabila ia ingkar dan tidak islam seseorang itu jika tidak menepati janji.

Kedua, dimensi sosial. Sebagai muslim, kita wajib tebarkan salam dimanapun kita berada, saling memberi makan untuk bangun sistem ekonomi yang Islami, serta membangun komunikasi dengan sesama manusia, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia yang lain (khoirunnaas anfa’uhum linnaas), ini sangat berkaitan dengan hunungan antar manusia (hablumminannas).

Baca Juga:  Kontroversi Wacana Hukum Islam di Indonesia

Ketiga, dimensi kealaman, Makmurkan dunia dengan cara menjaga keseimbangan lingkungan, (hablumnimal’alamin). (***)

Loading...

Terpopuler