Connect with us

Rubrika

Hidup Sebatang Kara, Kisah Perjalanan Hidup Mbah Situm dan Mbah Woniyem Bikin Haru

Published

on

hidup sebatang kara, kisah perjalanan hidup, mbah situm, mbah woniyem, bikin haru, ponorogo, nusantaranews

Komunitas Ponorogo Peduli sambangi kediaman Mbah Situm, Minggu (8/9). (Foto: Muh Nurcholis/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Ponorogo – Menyayat hati perjalanan hidup dua wanita asal Kabupaten Ponorogo, Jatim ini. Selain tak punya anak, 2 perempuan ini juga dalam keadaan sakit-sakitan.

Wanita tua bernama Mbah Situm tinggal di Jalan Kamulyan Dukuh Bangil, Desa Karangan, Kecamatan Balong, Ponorogo. Mbah Situm ini tinggal sendiri sebatang kara tanpa anak dan suami.

Saat ini hanya ada saudara-saudaranya yang dekat rumahnya. Sehingga otomatis dari merekalah Mbah Situm ini bertahan hidup menikmati sisa usia tuanya.

Saat didatangi Kru Komunitas Ponorogo Peduli, Mbah Situm menceritakan perjalanan hidupnya sambil menangis meneteskan air matanya.

“Sengaja hari ini kita silaturahmi mengunjungi Mbah Situm sambil menyerahkan sejumlah bantuan untuk keperluan sehari-hari dan memberi sedikit uang saku,” kata Jumeno selaku Koordinator Komunitas Ponorogo Peduli, Minggu (8/9).

hidup sebatang kara, kisah perjalanan hidup, mbah situm, mbah woniyem, bikin haru, ponorogo, nusantaranews

Komunitas Ponorogo Peduli sambangi kediaman Mbah Woniyem, Minggu (8/9). (Foto: Muh Nurcholis/NUSANTARANEWS.CO)

Selasai mengunjungi Mbah Situm, rombongan Komunitas Ponorogo Peduli menyambangi Mbah Woniyem di Lingkungan Lorogan, Dukuh Kanigoro, Desa Belang, Kecamatan Bungkal, Ponorogo.

Tak beda jauh dengan Mbah Situm, saat ini Mbah Woniyem juga hidup sebatangkara di rumah usangnya yang sudah retak dan keropos bangunannya. Tanpa teman, karena tak punya anak.

Sebenarnya Mbah Woniyem mempunyai saudara kandung tetapi sudah puluhan tahun pergi ikut transmigrasi ke Pulau Sumatera tanpa kabar dan tak pernah mudik ke Ponorogo lagi.

Lebih memprihatinkan lagi, Mbah Woniyem sakit-sakitan saat ini. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia sesekali berjualan dari hasil tanaman sekitar pekarangan rumahnya, seperti beberapa pohon pisang.

Sehingga nyaris kehidupan Mbah Woniyem ditopang oleh para tetangga saja.

Baca Juga:  Fix! Current Account Deficit Indonesia Kuartal III 2018 Membengkak

“Semoga bantuan kita sore ini bermanfaat dan Mbah Woniyem selalu sehat, dan para warga tetap mau berbagi dan peduli,” tandasnya usai menyerahkan bantuan barang dan sejumlah uang kepada Mbah Woniyem.

Pewarta: Muh Nurcholis
Editor: Eriec Dieda

Terpopuler