Connect with us

Budaya / Seni

Hentikan Pandemi Dengan Taubat dan Taat

Published

on

Hentikan Pandemi Dengan Taubat dan Taat

Hentikan Pandemi Dengan Taubat dan Taat

Hentikan Pandemi Dengan Taubat dan Taat

Dengan taubat yang sebenar-benarnya disertai ketaatan terhadap Allah Swt juga diharapkan dapat menuntaskan problem dunia yakni berupa kerusakan moral dan berbagai kesulitan hidup yang kini tengah mendera umat.
Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd

Ramadhan merupakan bulan mulia yang memiliki banyak keutamaan di dalamnya. Diantara keutamaan tersebut ialah Allah ampuni setiap dosa-dosa hambanya yang senantiasa berupaya memperbanyak ibadah karena iman kepada-Nya seraya mengharap ke-ridhaan-Nya, bahkan ia layaknya seperti bayi baru lahir yang bersih dari dosa, sebagaimana sabda Rosulullah Saw “Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah ta’ala wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan mengharap ke-ridhaan Allah ta’aala, maka dosanya keluar seperti ibunya melahirkan” (HR. Ahmad 1596).

Dengan demikian, harusnya bulan ramadhan menjadi momentum untuk kembali menyucikan diri dengan taubat yang sesungguhnya, menyudahi segala aktivitas kemaksiatan yang selama ini masih dilakukan. Terlebih jika kemaksiatan tersebut adalah mengabaikan hukum-hukum Allah Swt. Selain itu, ramadhan juga seharusnya dijadikan sebagai titik awal bagi individu maupun negara agar taat sempurna terhadap syariat-Nya. Tak lagi memilah-milah yang sesuai dengan selera maupun kepentingan yang hendak dicapai atau bahkan.

Lebih jauh lagi, hal ini merupakan obat mujarab untuk menghentikan penyebaran pandemi Covid-19. Sebab apapun solusi yang diberikan jika pemilik semesta tak pernah dilibatkan untuk menuntaskan masalah, mustahil mencapai keberhasilan hakiki. Bukankah selama ini masih banyak yang enggan untuk sepenuhnya mengambil syariat-Nya, kecuali sebagian kecil yang dianggap menguntungkan. Maka bagaimana mungkin Allah ridha atas setiap putusan yang dibuat. Oleh karenanya, dengan taubat sesungguhnya merupakan bentuk pengakuan betapa lemahnya kita dihadapan-Nya, sementara Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Begitu pula pandemi ini terjadi atas kehendak-Nya, maka Allah pula yang punya kuasa untuk mengangkatnya.

Baca Juga:  IndiHome Hadirkan Internet dengan Kecepatan Ekstrem 1 Gbps

Mari meneladani Rasulullah Saw dalam menghadapi musibah. Maka yang pertama kali beliau lakukan saat musibah melanda umatnya adalah meminta kaum muslimin untuk muhasabah. Pada sebuah riwayat dijelaskan bahwa “Bumi pernah berguncang pada masa Rasulullah Saw. Beliau lalu meletakkan tangannya di atas bumi dan bersabda, ‘Tenanglah! Belum tiba saatnya bagimu.’ Kemudian menoleh kepada para sahabat seraya memberi tahu, ‘Tuhan ingin agar kalian melakukan sesuatu yang membuat-Nya ridha. Karena itu, buatlah agar Dia ridha kepada kalian!.” Hal serupa juga dilakukan oleh Khalifah Umar bin Al-Khattab tatkala gempa kembali mengguncang Madinah sepeninggal Rasul. Khalifah lantas menyeru kepada penduduk setempat, “Wahai manusia, gempa ini tidak terjadi kecuali karena perbuatan kalian! Demi Zat yang menggenggam jiwaku, jikalau ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal disini bersama.

Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa tatkala musibah melanda, maka yang pertama kali dilakukan adalah mengingat Allah serta mengupayakan diri untuk taat kepada-Nya. Namun ketaatan sempurna tentu akan sulit dilakukan jika syariat-Nya belum sepenuhnya tegak. Untuk itulah kini menjadi tugas seluruh kaum muslim agar berupaya maksimal dengan tenaga dan pikirannya demi memperjuangkan kembali tegaknya hukum Allah agar ketakwaan itu sempurna dilakukan.[]

Penulis: Sri Wahyuni, S.Pd
Tinggal di Dadapan, Desa Pakistaji, Kec. kabat, Kab. Banyuwangi

Loading...

Terpopuler