Connect with us

Berita Utama

Hari Pahlawan: Merawat Generasi Milenilal dan Kids Zaman Now Sebagai Penyangga NKRI

Published

on

Pemuda Indonesia

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Mencintai tanah air adalah sebuah upaya yang tak dapat ditawar-tawar. Di tengah derasnya arus perkembangan zaman, rasa cinta tanah air harus selalu ditanamkan lebih dalam di seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Di era keterbukaan dan digital saat ini, tentu kita harus dapat menangkap perkembangan dan perubahan karakter bangsa. Saat ini, kemampuan deteksi dini dan cegah tangkal pun harus dimiliki masyarakat, utama generasi muda yang populer dengan sebutan generasi milenial, dalam menghadapi budaya asing yang berlawanan dengan Pancasila,” ujar pengamat pertahanan dan intelijen Susaningtyas Kertopati di Jakarta, Jumat (10/11).

Dengan kata lain, nilai-nilai Pancasila sudah harus menjadi sebuah budaya bagi kalangan generasi muda. Sebab, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan ini, harus dimaknai sesuai dengan perkembangan zaman sehingga selain menghormati para Pahlawan Bangsa tetapi juga dapat membangkitkan rasa cinta tanah air lebih dalam.

“Sangat disayangkan kemampuan generasi muda yang begitu maju dalam mengikuti kemajuan tekhnologi tidak disertai denga pengetahuan yang mumpuni terkait wawasan kebangsaan dan Pancasila, bahkan menjadi lebih mudah menerima ideologi atau budaya dari luar negeri yang tidak sesuai dengan Pancasila dan budaya kita,” tuturnya.

Pancasila adalah jati diri bangsa Indonesia itu sendiri. Ia menjadi ciri khas yang tak satu pun negara-negara di dunia memiliknya selain bangsa Indonesia. Jika memang sudah bersepakat dengan Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, maka menjadikannya sebagai budaya hidup adalah pilihan satu-satunya di tengah-tengah derasnya arus keterbukaan global yang nyaris tanpa sekat dan tanpa batas.

“Anak muda kita yang saat ini populer denan istilah Kids Zaman Now tentu saja bisa menjadi pemangku serta pelaku persatuan kesatuan bangsa yang piawai menjaga kedaulatan NKRI asalkan mendapat pendidikan dan pemahaman yang utuh dari sekolah dan orang tuanya terkait cinta tanah air, wawasan kebangsaan, serta kewaspadaan akan ajaran-ajaran radikal dan terorisme,” papar wanita yang akrab disapa Nuning ini.

Baca Juga:  GMNI: Pancasila Sebagai Idiologi Sekaligus Pedoman Kehidupan Bangsa

Selain itu, gerakan terorisme dan radikalisme adalah ancaman nyata dewasa ini bagi Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Para teroris dan ekstremis sangat pandai memanfaatkan teknologi untuk melancarkan aksinya untuk merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Celakanya, generasi muda menjadi target dan sasaran utama dari seluruh aktivitas mereka, baik di dunia nyata maupun di jagad maya.

“Memantau situs internet yang punya konten ektrimis adalah suatu keniscayaan. Para pemangku kepentingan dan berbagai tokoh masyarakat, agama, politik termasuk tokoh pemuda harus serentak mengamankan kedaulatan NKRI di segala lini dan aspek kehidupan berbangsa,” kata Nuning.

Lebih jauh, revolusi industri keempat yang ditandai dengan derasnya arus digital dan teknologi telah menjadi tantangan nyata bagi kesiapan seluruh generasi muda Indonesia. Revolusi teknologi yang disinyalir sebagai pertanda dimulainya globalisasi gelombang ketiga ini sudah sangat agresif menghampiri kalangan generasi muda yang notabene akan menjadi pemimpin di masa mendatang.

Dengan kalimat lain, kemunculan revolusi industri digital merupakan pertanda nyata dimulainya zaman baru yang lebih inklusif dan efisien. Sebab, pranata-pranata lama sudah berantakkan, tak mampu lagi menjawab perubahan zaman, bahkan cenderung menimbulkan kerusakan bila tidak segera beralih ke pranata baru yang lebih menjanjikan.

“Anak muda kita yang kini tak lepas dari gadget tentu harus diajak menjaga kebhineka tunggal-ikaan bangsa dan negara kita. Apalagi pada saat ini tatkala perkembangan media sosial sudah berbeda dengan 5 tahun lalu. Saat ini, suatu keadaan di mana daya tarik emosional lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada fakta yang objektif, hal ini sangat rentan bagi munculnya disintegrasi bangsa bila tidak dijaga,” terangnya.

Artinya, kesadaran generasi muda bahwa telah dimulainya perubahan zaman menjadi barang mahal yang sudah harus disikapi segera. Generasi muda yang kini telah terlibat aktif dengan era digitalisasi harus dirawat, dibina dan diarahkan sedemikian rupa sehingga mereka dapat menjadi individu-individu yang mampu menjadi penopang dan penyangga Indonesia di masa depan.

Baca Juga:  MoU Pencegahan Radikalisme Dalam Kurikulum Pendidikan di Sekolah Diteken

“Dialog antar generasi dalam bahasan-bahasan wawasan nusantara yang kekinian penting dilaksanakan oleh lembaga negara dan kementrian negara. Harus ada terobosan saluran komunikasi yang mengedepankan interoperabilitas sehingga lebih koordinatif dan terintegrasi untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara,” papar Nuning.

Selamat Hari Pahlawan!

Penulis: Eriec Dieda/NusantaraNews

Loading...

Terpopuler