Connect with us

Budaya / Seni

Hari Kartini Bangkitkan Spirit Gerakan Feminisme di Bumiayu

Published

on

gerakan feminisme, hari kartini, bumiayu, nusantaranews

Hari Kartini Bangkitkan Spirit Gerakan Feminisme di Bumiayu. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, BumiayuHari Kartini Bangkitkan Spirit Gerakan Feminisme di Bumiayu.

Kacamata Senja, Nyala Perempuan menjadi sebuah tema menarik diskusi yang digelar Bumiayu Creative City Forum (BCCF) pada Sabtu (20/4) dalam rangka memperinagti Hari Kartini.

“Tema ini diambil untuk memperingati gerakan emansipasi yang dikenalkan oleh Kartini, sehingga menghadirkan dua pembicara utama yang juga aktivis perempuan yakni Aisthetya Patriandita founder Feminis Pantura dan Pujionjie Inisiator Kupu-kuperempuan, dan dimoderatori oleh Founder BCCF, Dimas Indiana Senja,” ungkap penyelenggara.

Inisiator Kacamata Senja, Ilyasa menuturkan, diskusi semacam ini perlu dihadirkan di tengah masyarakat yang masih terjebak pada pemahaman yang salah, khususnya dalam memandang perempuan.

“Apalagi masih banyak yang belum tahu konsep tentang feminisme dan perjuangan perempuan dalam memperjuangkan keadilan,” ucap Ilyasa.

Loading...

Acara ini juga dihadiri sejumlah komunitas lintas daerah itu diramaikan dengan penampilan akustik oleh Indah Amelia Silvi, pembacaan puisi oleh Teater Senja dan Devi Ardiyanti.

Aktivis gender, Aistetia Patriandita bercerita ihwal keinginannya mendirikan sebuah gerakan feminisme di daerahnya, Pantura.

Gerakan Feminisme Pantura, katanya, sudah ada sejak awal 2018 silam. “Beranggotakan anak-anak muda yang tertarik pada isu gender dan feminisme,” ungkap Aistetia. “Kegiatannya tidak jauh dari diskusi-diskusi ringan mengenai isu-isu gender, keperempuanan hingga feminisme,” sambungnya.

Aistetia berpandangan, ketidakadilan gender yang terjadi di masyarakat berawal dari kesalahan mindset.

“Feminisme hadir bukan untuk mengalahkan laki-laki,” tegasnya. “Sebaliknya, memperjuangkan hak dan derajat perempuan. Kesalahan pemahaman ini menimbulkan salah tafsir tentang pentingnya gerakan perempuan. Sudah saatnya perempuan harus melawan subordinasi sekaligus dominasi maskulin,” lanjut dia.

Baca Juga:  Swasembada Sapi Gagal, DPR Salahkan Penyakit Brucellosis

Menurutnya, perempuan harus sudah diberikan ruang untuk menunjukkan eksistensi dan prestasinya,” kata mahasiswi cantik yang kini duduk di semester 6 Universitas Panca Sakti Tegal.

Selain Aistetia, ada pula Pujionjie. Dia mengungkapkan dirinya telah menggagas kupu-kuperempuan untuk mengakomodir dan mengerakan kaum Hawa yang menurutnya memiliki banyak potensi.

“Perempuan di Bumiayu banyak yang berpotensi dan memiliki karya. Maka dibutuhkan wadah untuk mengenalkan kepada khalayak. Untuk itulah kupu-kuperempuan memberikan spirit kepada perempuan-perempuan hebat di Brebes Selatan untuk tampil di garda depan, menunjukkan eksistensi dengan prestasi,” kisahnya.

(eda)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler